Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Dari Duhai Hujan ke Orang-Orang Oetimu

Rabu 24 Juli 2019
323
Penakota.idFelix K. Nesi. Salah satu pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2018 dengan judul naskah Orang-Orang Oetimu, diterbitkan oleh Marjin Kiri dan didiskusikan di Post Santa (20/07/2019). Hadirin yang datang, kerap kali tertawa melihat tingkah Felix saat membicarakan bukunya. Naskah novel itu sendiri, sebelumnya pernah diikutkan Sayembara Novel DKJ 2016 berjudul Duhai Hujan, lalu nasibnya berubah setelah Felix merombak isi naskah dan mengganti judulnya. Alasan Duhai Hujan diganti, karena bagi penulis kumpulan cerpen Usaha Membunuh Sepi itu, judulnya terlalu puitis.
 
“Awal menulis buku ini untuk teman-teman saya. Teman-teman saya suka membaca, tapi yang mereka baca dari (daerah) Jawa. Ada yang suka menulis tapi jarang sekali yang membicarakan soal Timur. Saat buku yang ditulis mengenai Timur kan senang, langsung ada bayangan dan juga akrab sama situasi di sana. Saya pikir perlu perkaya itu untuk beberapa hal yang mesti saya tuliskan,” ujar Felix saat ditemui selepas acara.
 
Bagi Felix sendiri, Indonesia yang pernah dijajah melekat di memori kolektif setiap orang-orang Timur, “Orang Timor Barat cenderung mencintai Indonesia dan merasa bagian dari Indonesia,” ungkapnya.
 
Diskusi yang dimoderatori oleh Mario F. Lawi ini banyak menjelaskan orang-orang Timur dan Kupang dari sejarah Timor Timur yang selama ini ditutupi Indonesia. Felix mengatakan, karya sastra di Indonesia, belum ada yang mengambil narasi sejarah Timur, dan berharap Orang-Orang Oetimu dapat memperkaya khasanah sastra Indonesia.
 
Setiap keresahan pada novel tersebut hadir mengenai kemarahannya terhadap tentara dan aparatur negara. Narasi tersebut dituangkan dengan gaya bahasa olok-olok yang elok. Seperti tokoh Maria pada saat suaminya dilindas truk tentara. Kepiluan-kepiluan dan ketimpangan tokoh di dalamnya, tak hendak menjadikan tokohnya karikatural dan hitam putih, melainkan masuk pada dimensi yang dekat dengan atmosfer dan semesta cerita.
 
 
Ia mengakui bahwa naskahnya beberapa kali mengalami perubahan di setiap proses penulisan, dari judul, alur hingga kemudian tercetus judul Orang-Orang Oetimu. Ia sempat dilanda dilema karena tidak menemukan judul yang tepat selepas beberapa kali mengganti judul. “Tapi, ya juara satu. Sayang kalau mau ganti malah kerja dobel, entar ditulis ‘judulnya telah diganti’, ya kan bingung,” ujarnya, disambut tawa pengunjung.
 
Pandangan etnografis lain dalam karya sastra, menurut Felix, begitu kompleks dan beragam. Seperti ketika ia melukiskan satu kampung di daerahnya dan ada hal-hal yang tak bisa dituangkan. “Kalau kalian baca sebenarnya banyak sekali tokoh-tokoh di buku itu,” terangnya. 
 
Dalam proses penulisan, Felix mengaku tak merasakan hambatan berarti. “Di Timur itu, banyak suku. Jadi, ada beberapa cerita yang berseberangan dan ada kontroversi di suatu bab. Misal kita cerita dari suku menurut pandang si A, nanti si suku B merasakan. Lebih ke itu, sih, kendalanya.”
 
Baginya buku ini mesti dibaca sebagai bacaan alternatif yang perspektifnya tidak Jawasentris melulu, sehingga dapat memperkaya wacana daerah Indonesia bagian Timur juga gambaran mengenai etnografis kehidupan orang-orang Timur. Dengan sejarah Timor Barat yang jarang diekspos, ada hal-hal yang tidak kita ketahui secara fakta, namun nyatanya itu kerap terjadi di semesta Orang-Orang Oetimu.
 
 
Editor: Galeh Pramudianto

Artikel Terkait

Memulai Cerita dengan “Bagaimana Jika”

Kamis 27 Juni 2019
365

Ketika berbicara prosa, tentu ada cerita di dalamnya. Lalu bagaimana cara memulainya? Banyak. Saya selalu percaya bahw...

Selimut Perca (Ismat Chughtai)

Minggu 23 Juni 2019
294
oleh Redaksi

Cerpen Lihaaf&nb...

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah