Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Ananda Badudu Ceritakan Kisah Sedih di Balik Lagu Sampai Jadi Debu

oleh Redaksi

Penakota.id - Ananda Badudu, mantan personel Banda Neira turut ramaikan konser peresmian perilisan album perdana Gardika Gigih yang bertajuk "Nyala" dalam pagelaran Gardika Gigih Live in Concert kemarin, Sabtu (2/12/2017) di IFI, Jl. Tahmrin, Jakarta Pusat.

Ananda Badudu dipersilahkan naik ke panggung setelah Gigih menyelesaikan beberapa instrumen pada "Improvisasi" dan lagu "Ibu" yang merupakan sebuh soundtrack daripda film Lemantun.

Ananda Badudu sendiri merupakan salah satu musisi yang dipercaya Gigih untuk menaburkan bumbu-bumbu pada album perdananya yang dirilis pada 6 November 2017 itu. Pada proses penggarapan album Nyala, Ananda Badudu cukup banyak membantu Gigih dalam proses teknis produksi, diantaranya menuliskan lirik dan mengisi suara.

Tidak sendirian, dan bukan bersama rekannya di Banda Neira, Rara Sekar--kali ini Ananda Badudu menaiki panggung bersama seorang wanita cantik yang dikenal sebagai penyanyi Jazz, Monita Tahalea. Pada kesempatan ini mereka berdua berkolaborasi membawakan lagu 'Dan Hujan' juga yang spesial, salah satu lagu Banda Neira yang belum pernah sama sekali dinyanyikan di panggung manapun, 'Sampai Jadi Debu'.

"Tadi Gigih meminta saya menjelaskan cerita di balik lagu ini versi panjang. Oh, tadi saya kasih pilihan deng, mau versi panjang atau pendek. Kalau versi pendek, bahwa lagu ini belum pernah dipanggungkan sebelumnya. Dan lagu ini belum pernah kita mainkan lagi sejak rekaman di Januari 2016," ucapa Ananda Badudu saat diminta untuk menceritakan lagu 'Sampai Jadi Debu'.

Baca juga: Pertunjukan Berkesan Dari Gardika Gigih di IFI

Ananda Badudu mengaku bahwa lagu 'Sampai Jadi Debu' tidak pernah dinyanyikan olehnya lantaran bagi dirinya lagu tersebut selalu mengingatkan hla-hal yang berat atau sedih untuk diingat. Sebab menurut Ananda Badudu, lagu tersebut spesial dia ciptakan untuk sang Omah (neneknya) dan Opah (kakenya) yang tadinya, sebelum mereka meninggal ingin diperdengarkan kepada mereka di acara keluarga besar.

"Bagi saya lagu ini mengingatkan pada hal-hal yang berat untuk diingat-ingat lagi. Karena lagu ini tuh sebenarnya didedikasikan untuk Opah dan Omah yang tadinya ingin diperdengarkan kepada mereka pada saat acara-cara keluarga gitu. Soalnya biasanya setiap tahun baruan kita ada kumpul-kumpul keluarga rutin, isinya kisaran 40 orangan. Bayangan awal saya ketika lagu ini direkam di Januari 2016, opah dan omah akan saya perdengarkan lagu ini di akhir Desember 2016. Namun, hal itu tidak tercapai karena Opah dan Omah meninggal sebelum tahun baru 2017," jelas Ananda Badudu.

Bukan hanya itu cerita kesedihan Ananda Badudu di balik lagu 'Sampai Jadi Debu' yang ia ciptakan. Kesedihan selanjutnya adalah, bahwa lagu ini hanya bisa didengarkan sang Omah pada saat menjelang beliau sakaratul maut. Ananda Badudu bercerita bahwa saat dia sedang menjalani rekaman di Yogyakarta selama satu minggu, di hari Minggu, ia mendapat kabar bahwa sang Omah harus dilarikan ke rumah sakit. Awalnya dia menggangap hal tersebut adalah sebuah kelumrahan dan biasa, pasalnya sang Omah memang sudah tua dan beberapa kali sudah pernah mengalami hal yang sama. Maka dari itu Ananda Badudu tetap profesional menyelesaikan projek di Yogyakarta dan berniat menyelesaikan semuanya, termasuk merekam lagu 'Sampai Jadi Debu' untuk diperdengarkan kepada sang Omah dan sang Opah.  

"Jadi, dulu pas kita sedang sesi rekaman Banda Neira, semingguan di Jogja, di hari minggu saya mendengar kabar Omah masuk rumah sakit. Ya sudah biasalah saya mendengar Omah masuk rumah sakit karena memang sudah tua, saya kira ya cuma ada yang turun terus disuntik gitu dan sembuh. Akhirnya rekaman berjalan seperti biasa samapai akhirnya selesai. Saya masih mikir bahwa nanti saya akan mendengarkan lagu 'Sampai Jadi Debu' ini kepada Omah dan Opah. Tapi ternyata waktu saya pulang menuju Bandung, tidak dalam situasi yang saya bayangka sebelumnya. Hmm jadi satu-satunya saya memperndengarkan lagu ini kepada Omah saat dia harus menghadapi sakaratul maut di ruang ICU," sambung Ananda Badudu.

Lagu 'Sampai Jadi Debu' diakui Ananda Badudu memang terinspirasi juga oleh kisah cinta Omah dan Opahnya. Dia melihat kisah cinta sang Omah dan sang Opah dalam sepuluh tahun terakhir. Itu adalah masa-masa sang Omah dan sang Opah terlihat mesra. Ketika sang Opah terkena demensia, selama sepuluh tahun itu sang Omah lah yang rela mengurus ketika sang Opah terkesan semakin lama kehilangan kesadaran ruang dan waktu. Sang Omah tidak pernah memberitahukan bahwa ia merasa kesusahan atau pun kerepotan dalam mengurus suaminya tercinta.

"Sebenarnya saya sendiri juga tidak mau mendengarkan lagu ini saat di keramaian. Karena saya takut tiba-tiba jadi sentimentil. Makannya kalau dengerin lagu ini biasanya saya sendirian di kamar," ucap Ananda Badudu sambil terkesan menutupi sedihnya dengan tawa. Siapa pun pasti akan terhanyut saat mendengar lagu 'Sampai Jadi Debu', tak terkecuali bagi teman duet Ananda Badudu hari itu, Monita Tahalea.

"Tadi saya dapat kesempatan nyanyi sama Ananda Badudu. Ketika membawakan lagu spesial buat saya pribadi  'Sampai Jadi Debu', saya merasa berat sekali. Di sini saya bukan untuk menggantikan siapa-siapa, saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasain lewat lagu tersebut. Lagu itu luar biasa bagus banget, sangat bisa mewakili isi hati lebih daripada Dewan Perwakilan Rakyat mewakilkan suara hati rakyat," kata Monita. (penakota.id - fdm/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Pertunjukan Berkesan Dari Gardika Gigih di IFI
Nekat Menuju Afrikanya Indonesia