Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Kesibukan Mengamati Sampah: Catatan Ringkas Atas 'Teks Cacat di Luar Tubuh Aktor' Afrizal Malna

oleh Galeh Pramudianto

“Aku adalah metafora yang gagal merumuskan kenyataan. Gagal berhubungan dengan kalimat-kalimat yang sering kau gunakan. Lindungilah aku dari nafsu menciptakan makna, agar manusia tetap dihormati di muka bumi ini.” -Bagian-Bagian Sampah (dan) Hormat.

Penakota.id - Pasase di atas adalah pengejawantahan dari beberapa premis yang ada di buku Teks-Cacat di Luar Tubuh Aktor (selanjutnya disebut Teks-Cacat). Bahwa kita tak perlu pusing-pusing untuk memburu makna yang berujung hampa. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Kalabuku ini memuat 16 naskah teater karya Afrizal Malna, termasuk empat naskah saduran. Afrizal membagi naskah-naskah tersebut ke dalam tiga kategori sekaligus. Naskah-naskah saduran itu dikelompokkan menjadi "Reperformance", sedangkan untuk yang non-saduran dibagi menjadi “Performance 1” dan “Performance 2”.

Afrizal yang kini menjadi pejabat di Dewan Kesenian Jakarta dikenal sebagai penulis yang mengabaikan sekaligus memuja bentuk. Pada berbagai kesempatan ia mengatakan bahwa kata dan bahasa adalah lembaga komunikasi yang ‘bobrok’ dan paling punya banyak masalah. Dari puisi-puisinya, Afrizal begitu karib dengan diksi urban seperti kulkas, kipas angin, black box, dan lain sebagainya. Namun bagaimana dengan teks-teks dramanya? Tak jauh beda, ia kerap serampangan dan begitu asyik-masyuk dengan bentuk. Dari situlah jouissance (kenikmatan) dan makna hadir.

Lalu apa yang bisa kita dapat dari kumpulan naskah teater ini? Di saat teks teater seperti anak tiri dari bagian sastra itu sendiri. Dengan terbitnya buku ini, kita sepatutnya berterima kasih kepada Kalabuku dan eksponennya yang mau menerbitkan naskah dan wacana teater. Di buku ini, hampir semua naskah bebas dari bentuk konvensional yang dicirikan dengan adanya hauptext dan nebentext. Pada beberapa naskah drama konvensional, semua sudah jelas terpampang: prolog, kramagung, deskripsi adegan, dialog, latar, musik dan hal elementer lainnya. Hal ini yang mungkin menjadikan teater sedikit berjarak dari sastra, karena kadar imajinasinya yang tipis. Namun, pada buku ini dengan banyaknya naskah bebas dari order adegan, membuat teks teater menjadi lebih kaya akan imajinasi dan intepretasi.

Bagi saya membaca Teks-Cacat seperti sedang mengamati sampah dengan beraneka ragam bentuk dan warna. Punya keasyikan dan keluhuran tersendiri. Tentu berbeda kenikmatan membacanya dengan Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata yang ensiklopedik. Tendensinya saja jelas berbeda, di Teater Kedua, Afrizal berusaha mereportase-menginvestigasi untuk kepentingan arsip dan memperkaya diskursus teater. Sementara di Teks-Cacat, awalnya ia apkir untuk menerbitkannya. Di catatan pengantarnya: Rumah untuk Tubuh, terangkum jelas kronologi naskah-naskahnya yang berserakan entah ke mana. Naskah-naskah drama yang ditulisnya tidak terdokumentasi dengan baik. Dan hal itu telah ‘diselamatkan’ oleh beberapa handai tolan dan dirangkum secara cerkas lewat Kalabuku dan Ibed Surgana Yuga selaku editor.

Afrizal menulis naskah teater dengan berbagai kemungkinan. Ia menulis seperti puisi, cerpen, bahkan esai. Kalau manusia purba digambarkan sebagai pemburu-pengumpul, maka tepatlah hal itu disematkan padanya. Ia pemburu-pengumpul, daripada menanam. Ia memburu lewat apa saja. Kondisi politik, pernyataan tokoh, peristiwa banal dan lain sebagainya. Ia memungut apa saja dengan cuek. Dari mulai sampai organik sampai anorganik. Dengan beragam bentuk sampah yang ada, kita bisa mengklasifikasi sampah mana yang tepat. Bagi saya Teks-Cacat adalah sampah organik yang bisa diurai dan didaur ulang. Ketika rezim postmodern begitu kentara, maka kitsch dan pastiche sudah lumrah dalam diskursus sastra dan teater.

Pada bagian performance 1, teks-teksnya ditulis pada rezim orde baru. Kecendurangan naskah akan kentara ketika melihat biografis-ruang dan biografis-teks. Beberapa teks juga sebetulnya sudah pernah diterbitkan di kumpulan ceritanya yang berjudul Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia. Dengan berbagai edit sana-sini sedikit, maka jadilah teks teater. Namun jelas, Afrizal tidak pernah mengkhususkan bahwa teks tersebut adalah cerpen dan juga teks teater. Dinding-dinding genre telah melebur di setiap karyanya. Di bagian ini semua naskah sudah pernah dipentaskan. Menjadi keasikan tersendiri ketika teks yang dibaca bisa terkungkung imajinasinya, dan bisa juga menawarkan perspektif baru di atas pentas. Berikut sedikit saya cantumkan sedikit pasase dari migrasi dari ruang tamu yang menegasikan Afrizal dengan kutub tradisional-kontemporer dan bermain-bermain di wilayah itu:

Percakapan:
-sisir kamu sudah banyak. buat apa, ya, kamu beli sisir lagi? sikat gigimu juga. ah,
kelebihan.

-jam tanganmu saja, berapa jumlahnya? waktu tidak perlu dihitung dengan 10 jam tangan, bukan?

Selanjutnya pada bagian Reperformance, setiap teks saduran merespon zaman dari berbagai karya yang ada. dari Buried Child karya Sam Shepard, Hamlet-nya Shakespeare, Perangkap Tikus karya Ajahn Brahm hingga Di Luar 5 Orang Aktor yang ditulis berdasarkan lakon Akhudiat: Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Sehat. Lagi, sedikit pasase saya tampilkan untuk merespon apa itu saduran:

Aktor ke-1
Siapa yang mau meranin adegan ini?

Aktor ke-2
Aku kan nggak bisa nari ledeg. Nggak bisa ngibing, nggak bisa ngeremo.

Aktor ke-3
Aku juga nggak bisa main gamelan. Kamu tahu sendiri, musikku musik digital, musik techno toh?

Aktor ke-5
Kalian ini aktor gembel. Masak nggak punya modal apa-apa? Nari nggak bisa. Musik nggak bisa. Pemain akrobat aja punya banyak kebisaan.

Aktor ke-4
Sori aje ye. Aku kan aktor kontemporer.

Aktor ke-5
Adegan berikutnya?

(Di Luar 5 Orang Aktor hlm. 189)

Kemudian pada Performance 2, aroma repetisi dan metafor-simbolik begitu kental. Gagasan-gagasan yang lumrah, namun eksekusi absurd. Di bagian ini, premis yang dibangun variatif: persoalan domestik keluarga, tukang jahit, nasib pahlawan, sejarah bangsa dan suatu kota, telur ayam, mati listrik dan berbagai mozaik terhampar. Tarik menarik antara presentasi dan representasi, performance art dan performing art, monolog dan dialog serta tradisi dan inovasi. Sedikit lagi pasase untuk masuk ke atmosfer:

Makhluk alien masuk.
+ Saudara-saudara, apakah kita baik?
+ Begitu, bukan?
Kepala digergaji.
+ Permisi.
Semangka digergaji.
+Permisi.
Air menetes di atas semangka yang digergaji. Lampu fade out. Tinggal tetesan air di atas semangka yang telah terbelah.

(Mati Listrik hlm. 291)

Ibed dalam catatan editornya mengatakan bahwa naskah-naskah Afrizal tidak hadir sebagai naskah teater yang cerewet dengan berbagai petunjuk pemanggungan. Jelas, ihwal yang dihadapi Afrizal adalah gap generasi antara baby boomer, milenial dan Z. Ia tahu bahwa naskah teater tidak melulu hadir dalam bentuk konvesional yang dapat membatasi wacana dan imajinasi pemanggungan. Di Teks-Cacat, Afrizal hadir sebagai sampah yang berdaya guna tinggi, dan pembaca bebas memilih mau diapakan sampah-sampah tersebut.


(Penakota.id - glp/mht)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Sekelebat Sastra Anak Untuk Kids Zaman Now
Menilik Harapan Kartini untuk Kaum Ibu Milenial