Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Menilik Harapan Kartini untuk Kaum Ibu Milenial

oleh Hutomo Yoga Ariantono

Selain terjangkit sindrom mendadak sendu lantaran udara basah akibat rintik hujan yang semakin sering menyapa, atau sibuk mengenang tahun yang hampir habis dan merumuskan resolusi guna menyambut tahun anyar, masyarakat Indonesia umumnya juga tak ketinggalan menyelipkan satu agenda di akhir Desember, tepatnya di tanggal 22: bermanis-haru dengan sosok ibu. 

Penakota.id - Sepengalaman saya, Hari Ibu selalu identik dengan sorotan untuk hubungan ibu dan anaknya. Entah berapa banyak warganet yang menguraikan kenangan, terima kasih, dan penghargaannya terhadap sang ibu. Hal itu wajar, sebab menurut saya, kata “ibu” umumnya diasosiasikan kepada sosok perempuan yang dengan penuh kasih sayang melakukan tindakan-tindakan berarti bagi keturunannya, seperti halnya melahirkan, mengasuh, mengayomi, pun melindungi buah hati. Meskipun harus pula kita ketahui bersama bahwa penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu di Indonesia dipicu oleh adanya Kongres Perempuan Indonesia I. Alih-alih sekadar membahas hubungan ibu-anak yang penuh kasih, pada persitiwa tersebut wacana yang dibahas adalah soal perkawinan anak, pendidikan bagi perempuan, hingga kritik terkait cara pandang masyarakat terhadap perempuan.

Fenomena tersebut secara tersirat memberitahu kita tentang peran sosok perempuan yang jika boleh dipolarisasi terbagi menjadi peran di ranah domestik dan di ranah publik. Tentu pandangan kaum feminis mengenai kedua kutub peran tersebut pun bervariasi - tergantung aliran feminisme yang dianutnya, baik secara sadar maupun tidak. Namun pada uraian ini, saya hanya akan lebih menyoroti sosok ibu pada peran domestiknya, lebih spesifik lagi membahas kontribusinya dalam kehidupan sosok anak. Mohon maaf bila sementara saya menepikan kecamuk pemikiran rekan-rekan feminis radikal-libertarian dan radikal-kultural (dalam Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis karya Rosemarie Putnam Tong, terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro, 1998) yang masih mempertanyakan terkait “Reproduksi perempuan suatu kutukan atau anugerah?” dengan sedikit kecurigaan bahwa reproduksi alamiah perempuan adalah salah satu faktor penyebab opresi terhadap perempuan. Nyatanya, melihat kondisi di Indonesia yang saat ini tengah bersiap menyambut “bonus demografi” dengan banyaknya penduduk usia muda, atau tren para selebritis yang tergolong sebagai orangtua milenial mengunggah video blog berisikan kesehariannya “mengasuh” anak di jejaring Youtube seraya mengundang hasrat kepo warganet usia muda terutama perempuan yang seringkali nyeplos, “Lucu ya, jadi pengen punya anak begitu, ih gemes!”,  rasanya tidak terlalu salah jika saya menyatakan bahwa tren memiliki buah hati di Indonesia masih belum sepi peminat.

Kontribusi Sosok Ibu

Sebenarnya ada peran langsung sosok ibu di ranah domestik yang kemudian akan menentukan secara tidak langsung perannya di ranah publik. Mungkin kesan demikian yang didapat apabila kita membaca secuplik pemikiran Raden Ajeng Kartini dalam salah satu surat tertanggal 4 Oktober 1902 yang ditujukannya kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya, yang termaktub dalam buku Door Duiternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) suntingan Ari P (2011: 338-344).

Pada surat tersebut, R.A. Kartini mengungkapkan salah satu alasan kuat mengapa tuntutan beliau akan pendidikan bagi perempuan harus diwujudkan. Alih-alih untuk menjadi saingan bagi laki-laki, tuntutan tersebut lebih didasarkan karena keyakinan R.A. Kartini akan pengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan, yakni menjadi pendidik bagi anak-anak mereka sebagai konsekuensi tanggung jawab atas tugas besar dari mother nature. Lebih lanjut beliau berargumen, bahwa pada mulanya setiap manusia pasti memperoleh pendidikan dari kaum ibu. Ditambah lagi beliau merasa ada ketidakselarasan antara pengetahuan yang banyak dengan budi pekerti yang mulia. Anggapan R.A. Kartini saat itu adalah perihal institusi sekolah yang berperan mencerdaskan pikiran (memperbanyak pengetahuan) sementara mengenai kehidupan di rumah tangga dengan sosok ibu sebagai pusatnya yang berperan membentuk watak seorang anak (membentuk budi pekerti yang mulia). Beliau merasa para ibu mendapat anak bukan untuk dirinya sendiri, melainkan kelak untuk “disumbangkan” kepada masyarakat luas.

Mengapa Ibu yang “Dipilih” R.A. Kartini sebagai Ujung Tombak Pembentuk Anak?

Ibu adalah objek cinta pertama setiap manusia, baik yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Bahkan kecintaan tersebut berujung pada rasa ingin memiliki dari anak terhadap ibunya sebagai pasangan. Tahap berlakunya kecintaan ini–dibarengi dengan proses kompleks Oedipus dan kastrasi baru yang berhenti pada masa latensi seksual, yakni ketika anak berusia enam tahun. Berhentinya tahapan ini bukan berarti memberhentikan perasaan cinta si anak kepada ibunya, akan tetapi memberhentikan dorongan ingin memiliki sebagai pasangan. Setidaknya Sigmund Freud dalam teori psikoseksualnya menyatakan demikian.  Penjabaran singkat teori tersebut mungkin bisa dijadikan pendukung premis bahwa setiap anak pasti mencintai sosok ibunya.

Lalu, bukankah menerima sesuatu dari sosok atau hal yang kita cinta akan lebih menimbulkan perasaan senang beserta keikhlasan dalam prosesnya? Ambil contoh kebalikannya, seorang murid yang terlanjur membentengi diri dengan asumsi, “Saya benci matematika!” dengan sendirinya akan sangat sulit menerima kenyataan bahwa ia harus menerima eksistensi dari matematika itu sendiri, apalagi untuk memahami. Singkatnya, potensi munculnya keadaan “resistansi” dari dalam diri seseorang terhadap masukan dari luar dirinya akan lebih besar apabila datangnya dari pihak atau sosok-serta hal yang sudah tertanam di pikirannya identik dengan perasaan tidak suka. Dengan demikian, jika pemberian itu datang dari sosok atau pihak atau hal yang disukai atau malah dicintai, potensi munculnya keadaan “resistansi” tersebut akan berkurang. Maka sosok ibu yang hampir pasti dicintai oleh anaknya, memiliki kemungkinan lebih besar “memberi” sesuatu untuk anaknya tanpa mengalami penolakan.

Kapan Peran Krusial Ibu Dibutuhkan?

Dalam konteks membentuk pekerti anak, dan secara khusus dalam tujuan mempersiapkannya terjun ke masayarakat seperti pemikiran R.A. Kartini, saya rasa peran paling krusial sosok ibu dibutuhkan pada saat usia anak tiga hingga lima tahun. Pada buku bunga rampai Give Them Wings, The Experience of Children’s Literature (1991) suntingan Maurice Saxby & Gordon Winch, dalam artikel berjudul “Children and Their Books: The Right Book for The Right Child 1”, Laure Brady mengungkapkan bahwa pada masa ini, anak berada pada tahap perkembangan intelektual berupa tahap praoperasional. Adapun sebagian dari karakteristik anak usia ini adalah, (1) belajar lewat pengalaman tangan-pertama; (2) mulai menyatakan sesuatu secara bebas; (3) membutuhkan pujian dan persetujuan dari dewasa; (4) menunjukkan perilaku egosentris (menempatkan dirinya sebagai pusat dunia, yang didasarkan persepsi segera dan pengalaman langsung) dan sering menuntut; (5) mengalami proses asimilasi: anak mengasimilasi sesuatu yang didengar, dilihat, dan dirasakan dengan cara menerima ide-ide tersebut ke dalam suatu bentuk skema di dalam kognisinya; (6) mengembangkan rasa tertarik dalam aktivitas kelompok.

Memperhatikan karakteristik anak yang demikian itu, tentu sosok ibu sebagai sosok yang dicintailah yang paling tepat mengisi posisi sebagai pendamping, pengontrol, dan pemberi asupan “pendidikan” untuk anak-anak mereka.

Jangan Sampai Anak Digunakan Sebagai “Bank” Semata!

Sampai di sini, semoga kita cukup mafhum akan argumentasi sekaligus harapan R.A. Kartini terkait peran sosok ibu dalam pembangunan via peran krusialnya dalam mendidik sang buah hati. Kendati demikian, hal lain yang perlu diperhatikan ialah agar jangan sampai sosok ibu lantas memberlakukan pendidikan “gaya bank” ketika mendidik anaknya.

Konsep pendidikan “gaya bank” sendiri dikemukakan oleh Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas (1972). Freire menguraikan bahwa pendidikan “gaya bank” memberlakukan murid sebagai wadah-wadah kosong yang kemudian akan diisi oleh pihak pendidik. Pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan menabung, di mana para murid adalah celengan dan pendidik adalah penabungnya. Dengan kata lain pihak murid dianggap tidak memiliki pengetahuan sama sekali–karenanya dianggap bodoh secara mutlak, sementara pihak pendidik berada di pihak yang berlawanan. Hal ini jelas mengingkari konsep pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian.

Dalam hal sosok ibu mendidik anaknya, berarti sosok ibu jangan selalu memposisikan diri sebagai pusat yang serba tahu. Freire sendiri mengajukan solusi berupa pengutamaan dialog (pemberian pengetahuan berlangsung dua arah), atau setidak-tidaknya persepsi awal dari sang buah hati haruslah pula dihargai. Karena, jika sosok ibu malah tergelincir ke arah konsep pendidikan “gaya bank” dalam mendidik anaknya, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan budi pekerti–seperti pada pemikiran R.A. Kartini, maka menurut dugaan saya yang akan terjadi bukanlah kegiatan pembentukan budi pekerti anak, melainkan kegiatan pengklonaan secara mutlak sifat sosok ibu ke dalam sosok anaknya. Perlu diingat bahwa, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” tidak berarti, “Buah jatuh tepat di atas pohonnya”.

 

(Penakota.id -hta/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Kesibukan Mengamati Sampah: Catatan Ringkas Atas 'Teks Cacat di Luar Tubuh Aktor' Afrizal Malna
Buku Rekomendasi Akhir Pekan versi Sir Pentoel