Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Buku Rekomendasi Akhir Pekan versi Sir Pentoel

oleh Redaksi

Penakota.id - Pentoel, si juru bicara kami. Kira-kira kami bertemu dengannya sebulan yang lalu. Ia sedang duduk tercenung di ceruk meja di sebuah kedai kopi yang lumayan lumat. Awal kali kami melihatnya, kami merasakan hal yang biasa saja. Sebagaimana saat kami melihat orang-orang asing yang hilir mudik kapan pun dan di mana pun. Tapi lama kelamaan, setelah kami cukup lama memerhatikan, ada yang tidak biasa dari Pentoel, dan itulah yang membuat kami memutuskan untuk menjadikannya teman kami, bahkan juru bicara (jubir) hingga saat ini.

Ketika itu, malam hari. Kami memang sengaja membuat janji untuk sebuah pertemuan. Untuk membicarakan sebuah proyek, kami berlabuh di sebuah kedai. Ihwal yang ingin kami bicarakan adalah tentang kepentingan-kepentingan untuk mendukung proyek kami agar lebih mantab, salah satunya mencari orang yang kesepian, galau, dan terpuruk dimakan bentala yang kian bangsai. Seseorang yang di dalam jiwanya terdapat bibit askteisme, merasa nyaman dengan pengasingan, pemenaragadingan dan sebagainya. Lantas kenapa kami mencari ciri-ciri orang seperti itu? Jawabannya karena kami ingin memungutnya dan kami siram, agar ia tumbuh, agar ia merasa memiliki orang lain selain dirinya sendiri.

Panjang lebar kami beranggar pikiran dan masih tidak menemui sumbunya. Tiba-tiba laki-laki di curuk kedai berjalan menuju meja kami. Mata kami saling menatap kebingungan. Ada perlu apa seseorang yang hanya berpakaian kaos bergambar Kurt Cobain menggunakan topi caping itu  menuju meja tempat kami sedang asyik merumuskan masalah?

"Ada korek?" katanya kepada kami.

Awalnya kami hanya mengira ia membutuhkan api untuk membakar ujung tembakau yang terjepit di sela jarinya, tapi nyatanya bukan hanya sampai di situ. Setelah kami memberikan satu buah korek gas kepadanya, tiba-tiba ia berbicara sendiri. Nada bicaranya seperti penyair-penyair yang sedang mendeklamasikan puisi.

"Oh korek, berikan pemantikmu, agar ia hidup dan menaruhkan ruh pada kawanku di antara selipan jari ini," ia memekik dan membuat kami bertukar pandang kembali.

"Mas, koreknya bisa?" tanya salah satu dari kami sambil mengerenyitkan dahi.

"Tidak ada yang tidak bisa Tuhan lakukan di dunia ini. Hidup dan matinya jiwa si tengik Dorian Grey pun adalah kehendakNya, Sir," jawabnya dengan suara cukup keras.

"Namaku Pentoel Hipster Proletar. Senang berkenalan dengan kalian, Sir," sambung ia diteruskan ajakan salam dari tangannya kepada kami.

Kami pun satu persatu menyalami dan mengenalkan diri kepadanya, Pentoel Hipster Proletar. Rasanya nama itu begitu lucu di telinga. Tapi, kami harus menghargai sikap keterbukaan yang ia suguhkan kepada kami semua.

"Bolehkah aku bergabung, duduk di antara kalian, bukan hanya di antara kata yang terus menghantui kepalaku saja," ucap Pentoel dan kami masih bengong saja karena mendengar setiap ucapannya.

Pentoel pun kemudian menempati bangku kosong yang ada di antara kami. Dan mulai saat itu kami menyimpulkan bahwa dialah orang yang kami cari. Apalagi setelah ngalor-ngidul obrolan dengannya berlangsung dan cukup mengasyikan, kami tambah mantab. Orang ini aneh, namun unik. Di saat kami hanya mengeluarkan suara jika ia bertanya saja, Pentoel malah sebaliknya, ia terus saja berbicara walau kami tidak pernah bertanya banyak.

"Tiga tahun lalu aku lulus dari Jurusan Hukum di kampus ternama. Namun, hingga saat ini aku masih menganggur. Oh tunggu dulu, aku bukan sekedar menganggur. Kuputuskan bahwa jalan hidupku hanya untuk membantu para petani, buruh dan anak-anak kecil di desa. Sir, setiap minggunya aku kerap bolak-balik kota-desa. Itulah pekerjaan sehari-hari yang aku lakukan, sejak muak dengan banyak advokat dan pengacara di negeri ini. Kontradiktif antara pengaplikasian dan kode etik atau ihwal yang pernah mereka pelajari di bangku kuliah membuatku semakin getir dan membunuh mimpi-mimpi lawas. Ibu dan ayahku ingin aku menjadi hakim, Sir. Tapi aku memutuskan pergi dari rumah sejak saat itu, sejak lulus walau aku menyayangi mereka. 

"Sekarang aku merasa nyaman dengan apa yang aku lakukan. Persetan dengan anggapan para tetangga, dan beberapa wanita datang dan pergi, aku akan tetap nyaman seperti ini. Walau sering kudengar umpatan-umpatan bahwa aku hanya seonggok hewan, sesosok orang gila, bahkan bandit atau penjahat. Ya, tidak apalah aku menjadi penjahat, maksudnya, bukankah ada orang kejam seperti yang dituliskan Sabda Armandio yang membuktikan hal tabu menjadi kenyataan? Gaspar, dialah sosok kejam itu. Pada novel keduanya, 24 Jam Bersama Gaspar yang diterbitkan oleh Bukumojok (2017), Dio betul-betul mengubah pandanganku terkait para penjahat atau mereka yang dianggap kejam. Bahwa penjahat bisa lebih baik di dalam hatinya melebihi orang-orang yang berlaga suci di ucapannya, di penampilannya. Dio membungkus tokoh Gaspar dengan karakter yang seolah betul-betul ada di dunia ini. Tidak heran kalau novelnya tersebut menjadi unggulan dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2016 silam (belum lama juga menerima Anugerah Pembaca Indonesia untuk Buku Fiksi Terfavorit (2017)). Kalian tahu Sir, walau di awal-awal cerita kita akan melihat betapa busuknya Gaspar dengan niatannya merampok dan kemudian merekrut orang-orang yang ia temui untuk menjalankan niatannya itu, namun pada akhirnya kita akan disajikan alasan-alasannya yang mulia - misalnya ketika Gaspar dan sekawanannya pada akhirnya benar-benar menjalankan aksi merampok tokoh emas milik Wan Ali, dan ketika Wan Ali berucap, 'Berapa banyak lagi soal aku yang kau tahu, bocah terkutuk?' Lantas Gaspar menjawabnya dan membuat kawan-kawannya tertegun, 'Hanya tahu beberapa, misalnya: kau tega meninggalkan saudara sendiri terjepit di mobil sampai kehabisan darah, dan kau menjual anak gadismu kepada seorang pedofil kaya raya, membenarkan tindakanmu atas nama agama, dan membiarkan anakmu mati dengan kelamin rusak.' Kemudian di puncak kemarahannya kepada Wan Ali, Gaspar mengucapkan kalimat yang merefleksikan apa yang kita sering lihat dan dengar, Sir. Begini kalimatnya, 'Dan sekarang aku sudah mengerti. Kalian, sampah peradaban, mencari pembenaran melalui agama dan tetek bengek sialan untuk membenarkan pedofilia dan memperkaya diri.'

"Haha, maafkan aku yang terlalu bersemangat menceritakan Gaspar pada kalian. Oh iya, lanjut ke dalam ceritaku tadi. Sir, desa dan kota memiliki persamaan dan perbedaan, dan kau akan betul-betul melihat wajah desa jika kau betul-betul ada di sana, bukan hanya melihat dari kacamata pribadi. Beberapa anak muda desa memang kupikir sama saja kelakuannya dengan anak muda di kota, tapi anak-anak, mereka betul-betul dapat mendamaikan hatimu. Kadang aku bercanda dengan mereka, kadang aku bermain, kelakar-kelakar kukeluarkan demi seutas senyum dari bibir-bibir manis. Kalian tahu, Sir, darimana aku belajar berkelakar? Tentu saja dari sajak-sajak Joko Pinurbo. Seolah huruf demi hurufnya berloncatan hijrah ke dalam tubuhku. Jokpin, begitu ia dipanggil, adalah salah satu penyair favoritku. Selain kelakar-kelakar dalam diksi yang tersusun, kadang kala puisi Jokpin menyentuh hati. Misalnya pada kumpulan puisinya dalam antologi Tahilalat yang diterbitkan oleh Omahsore pada 2012, lalu Basabasi di 2017. Puisi-puisi Jokpin dalam antologi itu betul-betul membuatku rindu ibu, rindu ayah, rindu rumah. Sudut pandang anak kecil yang dimainkan oleh Jokpin serasa ia mengambilnya dalam tubuhku ini, aku seperti yang sedang bebicara sendiri saat membacanya. Misalnya nukilan baris dalam puisinya yang berjudul 'Jendela'

 'Suatu hari aku dan ibu pasti tak bisa lagi bersama.'
'Tapi kita tak akan pernah berpisah bukan?
Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.'

"Betul-betul melukiskan rasa pada setiap anak di mana pun bukan? Aku yakin bukan hanya aku yang merasa ingin pulang dan begitu merindukan pelukan ibu atau usapan ayah ketika jarak memisahkan kami. Kalian pun juga demikan kan, Sir? Coba dengarkan puisi berikut ini, Sir;

"Pada usia lima tahun ia menemukan
tahilalat di alis ibunya,
terlindung bulu-bulu hitam lembut,
seperti cinta yang betah berjaga
di tempat yang tak diketahui mata.

"Kadang tahilalat itu memancarkan cahaya
selagi si ibu lelap tidurnya.
Dengan girang ia mengecupnya:
'Selamat malam, kunang-kunangku.'

"Ketika ia beranjak remaja
dan beban hidup bertambah berat saja,
tahilalat itu hijrah ke tengkuk ibunya,
tertutup rambut yang mulai layu,
seperti doa yang merapalkan diri
di tempat yang hanya diketahui hati.

"Apa yang anda-anda sekalian bayangkan? Apakah hanya aku yang merasa rindu dan ingin menjadi bayi lagi? Kukira tidak, Sir. Dan kita tidak akan pernah demikian, tembok-tembok berdiri secara otomatis dan menghalangi kita yang dewasa ini untuk memeluk, mencium, bahkan sekedar menidurkan kepala sejenak di pangkuan seorang ibu. Ah, tapi aku masih nyaman seperti ini. Aku seperti ini pun karena aku sayang pada ibu dan ayahku, tidak ingin membebani mereka. Maka dari itu aku pergi dari rumah. Sir, aku tidak ingin menggonggong saat mereka merasa terhina oleh para tetangga karena sikap idealisku ini. Aku ingin seperti 'aku' dalam 'Melankolia', salah satu cerpen Cyntha Hariadi yang  termaktub dalam antologi Manifesto Flora yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2017. Oh iya, kumpulan cerpen ini sangat bagus, Sir. Cyntha Hariadi adalah salah satu penulis yang pernah masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 lewat antologi puisinya, Ibu Mendulang Anak Berlari (2016). Bahkan buku puisinya itu menjadi pemenang ketiga dalam Sayembara Puisi Dewan Kesenian Jakarta pada 2015. Di dalam Manifesto Fora, Cyntha betul-betul mewakili suara-suara orang yang kerap dipandang aneh dan gila. Banyak tema yang Cyntha angkat dalam kumpulan cerita ini, misalnya trauma, rasialisme, cinta, delusi, alienasi, dan keluarga.

"Begitulah, Sir. Membaca cerpen Cyntha seolah membuka pandanganku. Biarlah aku buang jauh-jauh kemarahanku kepada orang-orang, kepada para advokat, pengacara, hakim, politisi, dan mereka di masa lalu. Sekarang aku hanya ingin menikmati sisa hidupku dengan orang-orang yang membutuhkanku, ketimbang harus berjibaku dengan pemikiran utopis di masa silam. Rasa-rasanya aku ingin menjadi Mat Dawuk dalam novel yang paling menjadi rekomendasi untuk anda-anda, Sir. Novel Dawuk: Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu yang dikarang oleh Cak Mahfud atau Mahfud Ikhwan ini adalah novel yang belum lama dinobatkan sebagai karya prosa terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2017," katanya panjang lebar sambil terus mengeluarkan asap terakhirnya karena roko dalam bungkusan di hadapannya terlihat sudah kosong. Kopi di setiap gelas kami pun sudah kosong. 

Begitulah awal mula kami bertemu Pentoel. Sejak saat itu ia kami ajak bergabung untuk menjadi juru bicara kami. Dan, karena Pentoel selalu memanggil kami dengan sebutan Sir, maka kami pun memamnggilnya dengan sebutan yang sama, Sir Pentoel atau Sir Pentoel Hipster Proletar seperti apa yang ia katakan terkait nama panjangnya kepada kami. Oh iya, empat buku yang Sir Pentoel sebut adalah empat buku rekomendasi darinya. Katanya bagus untuk mengisi akhir pekan setiap orang-orang yang bosan atau pun kesepian.

 

(penakota.id - fdm/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Menilik Harapan Kartini untuk Kaum Ibu Milenial
Merangkum Sulak