Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

AC Milan dan Medioker

oleh Resza Mustafa

Penakota.id - Nyonya, apa yang akan sampean lakukan sebagai seorang terhormat—kala ingin mencari suami berstatus sosial setara? Kemudian datanglah seorang pria mendaku dirinya pantas. Sampean jadi menikah, tapi ternyata dimahari dan dinafkahi dari banda hasil hutang? Semoga tidak cupet akal pilih cerai, ya.

Nyonya-nyonya sekalian, ketahuilah pria Italia itu jenis pesolek. Paling parlente sejagad bumi. Karena seorang Italiano rela melumurkan minyak rambut ke seluruh kepala supaya terlihat klimis. Curahkan banyak tenaga dan pikirannya untuk mematutkan setelan jas dengan celana dalam, warna kaus kaki, dan ikat pinggang. Pun Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani. Sebagai pesohor yang sering nampang di televisi, obsesi berlebih terhadap gaya berbusana baginya merupakan celah penting merayu publik.

Bersikeras menjaga kulit agar tetap cokelat sepanjang tahun, kenakan jas dua lapis yang dijahit sempurna guna menutupi perawakan gemuk dan pendek. Bahkan saya yakin, kalau semisal Adriano Galliani punya rambut, dia tidak akan berpikir sampai dua kali untuk mendaya gunakan minyak rambut seoptimal mungkin. AC Milan, memang serasa pas dipandang jadi pendamping sang mafioso. Bak nyonya besar berblazer mewah dengan kacamata hitam estetis.

Nah, apabila lelucon kuno mengungkapkan kalau tugas utama perdana menteri Italia hanya menggosok gagang pintu keluarga Patriark Agnelli (pemilik Juventus), Silvio justru bertingkah gila: dia mendobrak. Melalui sepak bola, peristiwa itu dinamai Apocalypse Now. Edisi AC Milan bangkit, sekadar tim medioker terpuruk yang ingin mencicipi kembali masa jaya seperti dahulu kala. Dibeli serta dipermak menggunakan vaksin sorotan media, pemain asing jawara, dan kepekaan laga-laga megah di kota mode.

Milan

Perkenalan epik para pemain baru yang terbang bersama helikopter mendarat masuk lapangan. Kemudian satu demi satu menjejakan kaki di atas rumput San Siro. Gemuruh dan tempik-sorak seluruh sudut dan tribun curva sud bak menyenandungkan opera Wagner Ride of the Valkyries.

AC Milan jadi sesosok wanita molek di tangan Don Silvio. Dibangunnya ulang secara penuh dengan kemewahan. Mengimpor trio singa oranye Belanda lepas gelaran Piala Eropa yang tengah ciamik-ciamiknya memesona dunia lewat totaalvoetbal. Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan gimbal keturunan Indonesia Ruud Guullit berpadukan talenta lokal brilian yang melambaikan tangan usai turun dari helikopter, bukanlah satu ancaman sepele. Tak butuh waktu lama trofi Liga Kampiun Eropa dan Skudeto berhasil direngkuh. Tujuannya mengganggu stabilitas dan hegemoni Juventus milik Agnelli pada gelaran kompetisi sepak bola Italia dan Eropa, telah tercapai.

Don memang tidak menggosok gagang pintu, dia mendobrak pintu Agnelli itu. Coba tanamkan stereotip anyar di benak rakyat Italia sampai ke akar rumput kalau dialah satu-satunya pemenang. "Kami akan buat Italia seperti Milan!" kelakarnya lantang. Biro iklan Pub Italia pun kemudian gesit membikin partai politik buat tuannya.

Basis pendukung ditargetkan dari jutaan fans AC Milan. Markas-markas suporter diubah jadi kantor cabang partai, dan Forza Italia! risalah wajib yang mesti diteriakan ke jalan-jalan dan seluruh sudut penjuru kota. Italia ialah Milan, AC Milan-lah Italia. AC Milan raksasa Italia. Silvio Berlusconi? Dia raja. Peluncur proyek real estate sekutu para bos mafia, manipulator media, dan garang di ranjang.

Itulah cara Don Silvio hidup, nyonya. Mantan suami AC Milan, pria flamboyan dengan segudang tingkah kontroversional yang disegani lawan-lawannya. Demikian AC Milan beberapa dekade silam. Dekade kini? Milan yang dekade kini sudah terasa sepah, kurang topcer, dan tak kunjung lepas dari label medioker. Beberapa sebabnya karena diceraikan Don Silvio. Bisa untuk reformasi atau hanya turun kastra. Hingga akhirnya Milan resmi menerima pinangan seorang pria China, Yonghong Li, pada April 2017. Sosok bandawan kaya raya itu berani memahari Il Diavolo Rosso senilai 740 juta euro—sekaligus memecah rekor soal urusan harga akuisisi saham klub sepak bola termahal di dunia.

Tak berhenti sampai di situ, Koh Li memberi efek kejut dengan sesumbar memboyong talenta empat pemuda potensial, enam bintang kelas menengah ke atas, dan seorang dewa pengkhianat dari Juventus. Dunia gempar dengan kata "Wah!" Nyonya. Banyak pengamat dan pandit mengatakan AC Milan bakal lepas dari kubangan lumpur medioker musim ini.

Ibarat sepanjang-panjangnya tusuk sate, kalau ruang tusukan sudah penuh, daging tak bakal lagi bisa masuk tertusuk. Sesempurna apapun tipuan, hanya memuarakan menipu diri sendiri. Artikel di The New York Times, berjudul China’s Soccer Push Puts a Storied Team Under Murky Ownership membuka kedok Yonghong Li. Bahwa nama Koh Li sama sekali tidak populer dan tidak termasuk salah satu orang terkaya di daratannya. Tragis.

Ternyata eh ternyata, dari total banda mahar 740 juta euro, 80 persennya merupakan banda hangat cenderung najis, bisa jadi beranak pinak pula. 303 juta euro banda pinjaman, 200 juta euro banda hutang. Jadi uang bersih dari banda total mahar Koh Li atas Ac Milan terhitung cuma sebesar 237 juta euro. Selebihnya, banda hangat cenderung najis.

Lebih miris, banda pinjaman Koh Li didapat dari Elliot Management milik rentenir sadis Paul Elliot Singer. Berdasarkan temuan Gabriel Marcotti, jurnalis senior ESPN, Tuan Paul tipikal Datuk Maringgi yang nir kompromi dan keraguan-raguan melucuti harta klien bila klien tak sanggup kembalikan banda pinjaman beserta bunganya. Semesta seperti merestui bakal ada roman Siti Nurbaya versi Italia.

Memang, realitanya hingga jelang paruh musim ini berjalan tak mendukung nasib baik. Sekalipun memiliki keadaan skuad tim yang lebih sehat ketimbang tahun lalu, Merah Hitam masih tercecer di posisi 11 klasemen Serie A sementara. Ketika artikel ini ditulis (30/12/17), Milan telah menderita kekalahan 8 kali dari 18 pertandingan. Kemudian ditahan imbang Benevento 2-2 yang notabene klub juru kunci, serta dipecundangi Hellas Verona sampai tiga gol tanpa balas. Meski di perhelatan Coppa Italia mampu mengatasi tim tetangga 1-0, hal tersebut masih belum meyakinkan tifosi Milan di segala penjuru dunia. Jelas ini menunjukkan indikasi kekuatan AC Milan yang semenjana. Ah! Sungguh ketenaran tagar #WeAreSoRich dan #WeAreAcMilan sekadar salah kaprah dari hasil ketikan jari-jari keblinger.

Semestinya kalian malu—alih-alih mendakwah dan subjektif—karena hegemoni bangsawan kaya yang pendiam itu sampai sekarang masih terasa denyutnya sampai ke urat nadi sepak bola Italia dan Eropa. Berani bandingkan dengan Yonghong Li yang kekayaannya medioker? Ya! Tak hanya soal prestasi sekarang, pemilik klub pun kelasnya medioker. Silvio Berlusconi memang seorang penjahat bobrok moral dan bejat laku karena dia "Don" sekutu para bos mafia. Tapi seorang penipu, lebih jahat dari "Don" karena dia tak hanya melukai fisik, namun juga hati dan perasaan.

Seperti itu watak masing-masing pria, nyonya. Kalau sudah begitu, nyonya bakal pilih siapa? Pria Italia, China, atau Indonesia? Hanya saran saja nyonya, sebaiknya pilihlah dengan hati nurani tanpa embel-embel materi yang ujung-ujungnya merisaukan hati dan nir prestasi. Mungkin ini hanya glorifikasi pernyataan. Tapi, nyonya, tak ada yang salah bukan tinimbang hidup dililit hutang dan ketidakpastian?

 

(penakota.id - rzm/glp)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Merangkum Sulak
Buku Rekomendasi Akhir Pekan versi Sir Pentoel #2