Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Bagaimana Sir Pentoel Memilih Buku dan Merekomendasikan ke Warganet

oleh Redaksi

Penakota. id - Bagaimana Sir Pentoel memilih sebuah buku untuk dibaca lalu direkomendasikan ke warganet? Biar terlihat ugahari dan gagah maka begini caranya: premis dan momen. Untuk minggu ini, premis yang diangkat adalah perihal rahasia yang sudah tak rahasia lagi. Selain rahasia, dunia fiksi ilmiah serta distopia, memiliki ragam kemungkinan yang asyik dalam hal pembacaan. Sementara terkait rahasia, banyak penulis besar dunia kaliber Gabo dan Hemingway yang pernah “bekerja” untuk CIA. Jelas bekerja di sini bukan secara harfiah. Melainkan melalui serangkaian intrik dan propaganda yang dengan tidak mudah kita ketahui semua.

Selain premis. setelah itu momen. Banyak karya-karya terjemahan yang masuk lewat penerbit-penerbit yang mau mengumpulkan tenaga dan pikirannya untuk membagikan pengalaman lewat cerita-cerita dari bahasa asli ke bahasa sasaran. Sir Pentoel Hipster Proletar begitu setuju dengan pernyataan José Saramago bahwa sastrawan menulis dengan bahasa nasionalnya masing-masing, tetapi sastra dunia yang sesungguhnya diciptakan oleh penerjemah. Maka dari itu, Pentoel langsung saja mulai untuk cerewet sesuka hati dan manasuka perihal pikirannya.

Apa yang kalian pikirkan dan rasakan bahwa karya macam Love in the Time of Cholera-nya Gabo, Doctor Zhivago milik Boris Pasternak serta nama-nama yang tak asing seperti Ernest Hemingway, William Faulkner, T.S Eliot, Vladimir Nabokov, Samuel Beckett, VS Naipaul dan Philip Roth dikaitkan dengan badan intelijen asal Amrik? Ya, kalian mungkin ada yang sadar atau tak sadar atau bodo amat sajalah kalau badan intelijen asal Amrik bernama CIA dapat ditemui di berbagai negara termasuk Indonesia, negeri kesayangan Pentoel.

Pentoel mendapatkan buku ini setelah Pentoel asik berselancar dan mendapatkan artikel menarik yang luhur. Di artikel itu, Pentoel jadi tahu atau sok tahu atau pura-pura tahu bahwa karya-karya sastra yang dimuat dalam majalah The Paris Review ternyata seperti ada udang di balik bakwan. Enak di tenggorokan dan kenyang di usus 12 jari atau berapa jari terserah kalian.

Di majalah itu kerap memuat wawancara beberapa nama sastrawan dunia seperti yang sudah Pentoel sebutkan di atas. Pentoel pun sepakat ini buku penting untuk dibaca penikmat sastra atau sebenarnya tak penting-penting amat dibandingkan kehabisan bensin dan pulsa atau genteng bocor. Buku ini judulnya FINKS: Bagaimana CIA Mengelabui Para Sastrawan Besar Dunia. Gagah betul, bukan?

Buku nonfiksi dengan penuturan ala seribu satu malam ini diterbitkan oleh Yayasan Jungkir Balik Pustaka. Progresif betul bukan? Diterjemahkan oleh Muhammad Al Mukhlishiddin. Melalui Finks, Joel Whitney mengungkap daftar panjang berisi penulis-penulis yang terlibat aktif mengubah citra Amerika menjadi lebih positif, terutama di negara-negara yang sudah dibikin rusuh dengan kudeta, pembunuhan, dan intervensi Amerika lainnya. Penggambaran positif itu dilakukan, salah satunya, melalui karya sastra Ya, mirip-mirip dengan almarhum Wijaya Herlambang dengan warisannya untuk kita semua: Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film.

Pentoel pun sebenarnya mafhum, nama-nama yang disebut itu ikut terseret CIA di kala umurnya masih di awal kepala dua. Ya, semacam Pentoel gini. Masih berapi-api, kalau kata pedangdut yang namanya tak mau disebut dan kini beralih jadi petugas partai itu. Nah, coba kalian bayangkan bagaimana nanti CIA bisa baca Pesan Whatsapp kalian ke gebetan kalian? Atau bagaimana nanti ide-ide kalian yang sudah ada di draf surel ternyata disadap oleh mereka? Tak mau kan kalian direnggut kebebasannya? Atau mungkin kita harus galakkan hoaks membangun? Duh, kok Pentoel rasanya sekarang ingin berak.  

Nah, setelah Pentoel berak dan mengetahui fakta-fakta yang terlontar di buku Finks, Pentoel coba mencari kesegaran lewat cerpen-cerpennya Kurt Vonnegut. Penulis asal Amrik yang terkenal dengan karya fiksi ilmiah berbau satir ini kembali diterjemahkan. Setelah sebelumnya Gempa Waktu dan Rumah Jagal Lima, kini terjemahan anyarnya Perjalanan Nun Jauh ke Atas Sana. Penerbit OAK mengemasnya dengan apik. Kaver dan kemasannya begitu tergambar lewat lukisan surealis dan impresionis dengan kolase wajah dan makhluk asing lainnya. Kumcer tipis dan luhur ini diterjemahkan oleh Widya Mahardika Putra. OAK dengan kejelian dan keseriusannya dalam menggarap buku terjemahan, tak diragukan lagi mutunya.  

Di sinopsis singkatnya begini: Di penghujung abad ke-22, umat manusia sudah mampu mengalahkan kehendak Tuhan; mereka sudah menemukan obat untuk menghentikan penuaan dan kematian, Laksana dewa, manusia tak lagi perlu mempersoalkan ajal. Buyut dan cicit, bahkan moyang dan canggah, dapat hidup bersamaan. Namun, keabadian itu tak berarti surga, karena ternyata ada berbagai masalah yang ditimbulkannya, baik yang kecil maupun yang besar.

Dari irisan tersebut, Pentoel mengangguk-angguk bahwa dua cerpen yang terdapat dalam cerpen tersebut menggambarkan nuansa fiksi ilmiah yang penuh petualangan dan satir. Salah satu cerpennya 2BR02B diangkat dari pasase tersohor dari William Shakespeare's Hamlet yaitu To be Or Not To Be. Pentoel mengganggap di Indonesia masih kurang terjemahan prosa dengan nuansa fiksi ilmiah. Dengan adanya buku ini, tentu saja membuat Pentoel tersenyum simpul dan senang betul. Karena ia jadi bisa memperkaya gagasan dan eksplorasi bentuk terkait premis yang masih jarang digarap penulis lokal.

Merasa masih belum puas dengan ranah fiksi ilmiah, Pentoel mencari tema lainnya. Distopia jadi pilihan. Pentoel tidak mau menjalani tahun 2018 dengan yang asik-asik dan nyaman saja. Dengan dunia ideal yang tentram, sejahtera dan jatmika. Baginya tak ada tantangan berarti. Dari situ, Pentoel beranjak untuk mencari, prosa distopia apa yang asik dan relevan sampai kapan pun. A Clockwork Orange karya Anthony Burgess pun jadi pilihan. Ini bukan buku tentang tata cara melakukan hidroponik atau tata acara menanam buah-buahan atau tentang arloji kesayangan pemberian kakek saat liburan. Ini tentang dunia di masa depan, di saat semuanya menjadi liar tak terarah lewat corak kekerasan dan rezim pemerintahan yang sewenang-wenang. Sewenang-wenang di sini termaktub dalam dua pertanyaan. Pertanyaan pertama: Mungkinkah manusia dikontrol sempurna? Pertanyaan kedua: Jikalau manusia sukses dikontrol secara sempurna, apa yang tersisa dari kehidupan ini?

Pentoel tahu, kamu mungkin sudah menonton versi filmnya yang digarap dengan artsy dan begitu sinematik oleh Stanley Kubrick. Singin' in the Rain saat adegan pemerkosaan di awal film. Kombinasi antara kekerasan fisik-mental-seksual dan Simfoni No. 9 Beethoven yang mengiriki teknik Ludovico terlihat begitu artistik tanpa mengurangi unsur kesadisannya. Film ini begitu ikonik dan sukses mendapat banyak pujian dari kritikus. Itu semua karena gagasan yang tak lekang zaman dari sebuah buku.

Buku ini diterjemahkan oleh N. Hamidah Oktaviani. Papyrus selaku penerbit mengemas A Clockwork Orange begitu yahud. Kaver yang ikonik dengan mata Alex ditambah aksentuasi warna oranye dan hitam, menambah kesan elegan dan misteri masa dystopia itu sendiri. Di bagian blurb buku terdapat kutipan yang menohok: Ketika Seseorang tidak bisa memilih, dia gagal menjadi manusia.

Setelah berasyik masuk dengan dunia fiksi ilmiah dan distopia, Pentoel mencoba untuk menyegarkan diri dengan hal-hal yang tak penting-penting amat. Hal yang insignifikan. Ya, betul. Milan Kundera menulis The Festival of Insignificance di masa-masa santainya dan kadung jenuh dengan novel itu sendiri. Dari masa kejenuhan dan santainya itu, ia malah mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Itu sih, menurut Pentoel. Karena baginya ketika ide-ide besar macam perang dan perang ideologi sudah terlampau sering ia lontarkan, maka di Pesta Remeh Temeh ia ngalor-ngidul cerita apa saja. Dari mulai udel perempuan yang menjadi daya tarik seksual, dan beragam pesta tak penting yang menjadi penting lewat percakapan-percakapannya yang satir, penuh anekdot dan karikatural.

Pesta Remeh Temeh diterjemahkan oleh Lutfi Mardiansyah dengan cerkas. Penerbit asal bandung, Trubadur mengemasnya dengan ciamik. Ilustrasinya penuh di sampul muka dan sisanya adalah putih serta gambar Kundera di belakang. Cita rasa yang asik untuk membawamu ke alam Kundera dan hal-hal yang tak penting untuk dibicarakan.

Kamu merasa hidupnya sudah terlampau hampa karena kamu sudah tahu semua lewat mesin pencari di internet? Kamu bisa streaming di berbagai layanan hiburan di internet. Kamu bisa mendengarkan lagu lewat daftar lagu pilihanmu sesukamu. Kamu bisa nonton porno dengan mengakali pemerintah lewat semua yang ada di mesin pencari. Kamu sudah mendapatkan apa saja. Atau kamu malah belum dapat apa-apa? Pencapaian terbaikmu dalam hidup hanya memotret buku kiri atau kanan dan kopi dan rokok lalu kamu edit dan kamu unggah di media sosialmu? Hanya itu? Tak masalah. Pentoel paham itu semua. Ia juga sepakat sama pernyataan Eka Kurniawan, penulis Indonesia kesayangan umat lewat di Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting ini.

Ya, betul. Terkadang yang remeh temeh dan tak penting itu bisa menjadi penting. Pentoel setakat dengan itu. Karena yang semenjana dan medioker terkadang mengasyikan. Di balik ekspektasi manusia dan penghakiman manusia yang tak ada habisnya. Jadi, kapan kamu menikah? Tak usah tanyakan ke Fahri. Kamu bisa langsung segera menebus keempat buku di atas di berbagai toko buku daring favorit kalian. Selamat orgasme!

 

(penakota.id - glp/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Bagaimana Sir Pentoel Ingin Membangun Latar Pada Sebuah Cerita
Anak-Anak Papua dalam Balon Kata Sir Pentoel