Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Anak-Anak Papua dalam Balon Kata Sir Pentoel

oleh Redaksi

Penakota.id - Kami memandang wajahnya yang muram dari balik lubang kunci. Sambil duduk dan menelungkupkan punggungnya pada tubuh dinding yang abu-abu, pada tubuh dinding yang retak, pada tubuh dinding yang berjamur, mata Sir Pentoel tegang seperti sedang menahan air dalam kantung matanya yang seperti ingin mengucur.

Salah satu dari tim kami pada akhirnya memberanikan diri untuk menekan ke bawah gagang pintu yang diketahui tidak terkunci itu.

“Sir, aku memiliki banyak roko di laci meja kerja. Jika mulutmu asam, silakan tarik saja telinga pada laci itu,” kata salah satu tim kami.

Papua

Sir Pentoel menengok sebentar ke arah salah satu tim kami, lalu meneruskan kebisuannya. Sesekali deriji pada kedua sakalnya memutar-mutar kulit yang ada pada tulang dahinya seperti sedang ingin membuang pikirannya satu persatu. Dalam wajahnya yang mulai berkerut, pada akhirnya Sir mengeluarkan senyumnya yang aduhai di mata para pengikut instagramnya.

“Tidak ada yang sedang ingin meroko di sini. Tembok-tembok, meja, kursi, kertas-kertas yang berserakan. Mereka adalah benda mati, Sir. Begitu pun perasaanku sekarang. Tidak ada yang sedang aku pikirkan selain satu hal hari ini. Tentang orang-orang. Apakah di luar sana, di taman-taman, di bangku kampus, di Mall Pondok Indah, apakah muda-mudi hari ini mengetahui sedang ada anak-anak yang menderita penyakit di pedalaman Papua? Tubuh mereka yang mengecil, deriji-derijinya yang layu dan mata sayup adalah sebuah fenomena yang menandakan lubang negeri tercinta.

“Keadaan anak-anak di sana bertolak belakang dengan dengungan moncong presiden yang menyebut Papua sebagai wilayah investasi terbesar di Indonesia yang dapat menaikan devisa negara pada 2019. Kekayaan dijual seolah Papua baik-baik saja, Papua hanya Raja Ampat, hanya Taman Lorenz, Danau Sentani dan Teluk Triton. Semuanya disebut memiliki kekayaan alam yang berlimpah dan mempesona.

“Sementara, anak-anak di pedalaman mengalami kekurangan gizi dan campak. Papua bukan untuk dijual, Sir, melainkan untuk menjadi guru dalam rangka meminimalisir tingkat kesehatan penduduk pedalaman. Telah banyak jumlah anak-anak dan orang yang mati di sana karena masalah itu, misalnya di Kabupaten Asmat, di Kampung Pedam Distrik Okibab, di Kabupaten Mimika, di Biak, di Numfor, di Mrauke, di Keerom, di Boven, di Digoel, di Puncak Jaya, bahkan di Kota Jayapura sendiri.

“Berdasarkan pemberitaan yang kubaca dari latar beranda digital, diketahui setidaknya terdapat puluhan anak meninggal dunia di Asmat, 37 Anak meninggal di Distrik Pulau Tiga, 15 anak di Distrik Fayit, 8 anak di Distrik Aswi, 4 anak di Distrik Akat, dan 6 di RSUD Agats.. Mereka mati, Sir.

"Terhitung sejak per 28 Januari 2017, total kematian dari buah hasil gizi buruk dan campak di wilayah itu mencapai angka 71, 66 di antaranya mati karena campak dan 5 karena gizi buruk, Sir.

“Selain itu, ada lagi data yang paling akan membuatmu menjadi semakin iba. Bayangkan, sejak September 2017, terhitung hingga 28 Januari 2018, dari 23 distrik di Kabupaten Asmat, disebutkan oleh tim kesehatan terpadu, dari hasil pemeriksaan yang telah mereka lakukan terhadap 12841 anak, 646 anak terdeteksi menderita campak, 218 anak menderita gizi buruk, dan 11 anak menderita keduanya.

“Lantas terkait Kasus Luar Biasa (KLB) yang disebut oleh presiden itu, apakah ia masih ingin memprioritasi rencana 10 Destinasi Bali Baru? Walaupun banyak juga pemberitaan bahwa presiden sebetulnya sudah memberikan kucuran dana bantuan, agaknya hal ihwal tersebut masih terlihat egois. Menargetkan banyak wisatawan mancanegara (Wisman) ke Papua, sementara anak-anak di pedalamannya masih menangis bahkan mati karena masalah kesehatan.

“Oh iya, yang lebih menggelikan, di samping rencana Presiden yang berniat menarik wisman ke 10 Destinasi Baru, yang salah satunya adalah Papua, tiga orang pewarta dari BBC Indonesia yang ingin melakukan peliputan di Kabupaten Asmat malah diusir oleh aparat kepolisian saat diperiksa di Agats dan dimintai keterangan oleh petugas imigrasi di Timika, Mimika. Mereka adalah Dwiki, Affan dan Rebbeca.

“Alasannya lucu sekali, Sir. Kau tahu mengapa? Mereka diusir dengan alasan karena salah satunya membuat cuitan di akun twitternya, dalam teks dan foto, soal bantuan untuk anak yang mengalami gizi buruk di Asmat berupa mie instan, minuman ringan dan biskuit.

“Setidaknya itu yang kubaca pada pemberitaan Tempo.co. Tertulis di sana, berdasarkan dari informasi resmi Kodam Cenderawasih dan Imigrasi, cuitan itu yang menjadi alasan polisi dan imigrasi memeriksa jurnalis BBC tersebut. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam kasus ini telah mengambil sikap. Mereka mengecam pengusiran dan menyesalkan payung alasan yang dijadikan sebagai dasar pelarangan aktivitas peliputan ketiganya.

“Menurut Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Maman, Kasus terbaru di Papua ini merupakan salah satu indikasi bahwa pemerintah tak serius dengan janjinya untuk lebih membuka akses jurnalis ke Papua," jelas Sir Pentoel yang pada akhirnya bangkit dari posisi duduknya di lantai dan kemudian pergi melewati salah satu dari tim kami ke arah meja kerja lantas mengambil satu bungkus roko di dalam lacinya.

“Aku kasbon dulu ya, Sir,” kata Sir Pentoel kepada salah satu tim kami itu yang kebetulan selalu membawa beberapa bungkus rook untuk dijual di kantor kami.

 

(penakota.id - fdm/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Bagaimana Sir Pentoel Memilih Buku dan Merekomendasikan ke Warganet
Identitas Pasar dalam Teater