Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Identitas Pasar dalam Teater

oleh Ferdi Firdaus

Penakota - Lamunan siapa yang tidak menarik? Kita tidak bisa melompat ke dalam kepala seseorang kemudian membajak lamunannya yang kemungkinan cabul, absurd, bahkan bisa juga profetik.

Membicarakan teater sesungguhnya membicarakan lamunan, membicarakan sebuah “andai-andai” yang kemudian dibajak dan dipindahkan kepada medium yang lebih bersahaja. Namun siapakah yang bersedia menengok lamunan itu?

Pada sebuah eksebisi performatif yang dibuat Komunitas Ghanta (12/08/2017), Ipeh sang pimpinan produksi (kalau bisa disebut demikian) menyatakan bahwa dia hanya mempersiapkan ruang pertunjukan untuk 50 penonton. Pada hari pertama eksebisi itu berlangsung, saya kira tidak sampai lima puluh kepala yang hadir.

Sementara, pada pementasan Bengkel Sastra UNJ di Teater Jakarta (19/08/2017), lantai satu teater Jakarta hampir terisi penuh, kemungkinan ada 500+ penonton yang hadir, atau bisa juga kurang. Sebab, angka pastinya tidak bisa saya dapatkan.

Lewat dua pertunjukan ini, kiranya kita dapat melihat secara umum bagaimana sebuah pertunjukan dinilai oleh publik. Walau saya  tidak membicarakan ini lewat data yang valid, hanya menebak-nebak. Jika saja saya punya datanya, mungkin tulisan ini akan menjadi lebih menarik.

Apa yang saya tulis ini adalah bagaimana integritas pasar melihat teater sebagai sebuah komoditi, bukan sebuah jejaring perkenalan/pertemanan yang membuat kita melangkahkan kaki.

Sebagai sebuah jejaring, teater tidak akan berkembang dengan cepat dan masif, ia membutuhkan waktu untuk berkembang, namun intensitas pasar tidak membutuhkan teater yang lambat melaju.

Pasar adalah sebuah lingkar kerja buzzer yang tidak bisa menentukan arah berfikirnya sendiri. Apalagi untuk pasar seni pertunjukan, ketika seni dipandang bukan sebagai kekuatan ekonomi melainkan sebuah lingkaran sunyi, maka seni akan ditinggalkan–terutama seni pertunjukan.

Kesalahan ini tentunya bukan tidak berakar, melainkan bisa kita lihat dengan mudah. Ketika teater disajikan oleh “orang teater” ditonton dan dibicarakan oleh “Orang teater” pula. Singkat kata, teater tidak akan punya penitrasi massa yang baik. Ia hanya akan menjadi dirinya sendiri yang terlihat ekslusif, dan kesepian.

Kesalahan pertama yang terjadi bukanlah terletak pada pencapaian estetika, melainkan pada pola bagaimana teater diperkenalkan. Pada konteks ini, saya akan membawa pengamatan saya pada bagaimana teater dimunculkan sejak kelas delapan (dua SMP), kemudian muncul kembali di dalam kurikulum di kelas sebelas (dua SMA).

Masa perintisan ini adalah masa yang paling krusial untuk menciptakan pasar. Munculnya ekstrakurikuler teater juga sangat mempengaruhi bagaimana teater bisa bertahan, berkembang, atau tetap pada tempatnya di masa depan.

Misalnya pada kegiatan ekstra kurikuler (di Jakarta), kebanyakan grup teater SMA melibatkan diri dalam festival sebagai ajang aktualisasi diri–dan senimannya (pelatih) menjadikan grup teater (SMA) sebagai kendaraan estetikanya, bukan sebagai bentuk penanaman pasar.

Kendaraan estetika adalah ketika tubuh aktor (usia SMA) dijadikan bahan intepretasi gagasan pelatih (seniman), dan menjadikan teater (Sekolah) menjadi bahasa yang asing di rumah(sekolah)nya sendiri. Teater di sekolah tidak dijadikan sebagai konstruksi aktualisasi siswa, melainkan dijadikan bahan aktualisasi senimannya. Dan dari dasar inilah kita tidak banyak memiliki bahan (teks/naskah) untuk disajikan di depan audience remaja.

Remaja adalah pasar yang hilang di teater, padahal pasar ini berpotensi memberikan impact yang besar bagi teater. Tren yang disebabkan oleh remaja bisa menciptakan pasarnya sendiri, yang kemudian meluar. Segala fenomena pasar dimulai dari pergerakan apa dan bagaimana yang remaja suka, dan hampir selalu apa yang kemudian viral disebabkan oleh remaja.

Pada pasar film misal, perkembangan pasar dilihat dengan jeli, diteliti, kemudian dipenitrasi ulang. Kemunculan film-film remaja yang seolah tidak pernah berhenti menjadikan bukti bahwa remaja (usia 13-18 tahun) adalah pasar yang sangat menguntungkan bagi film, dan sayangnya ini luput dilakukan di teater.

Teater sebagai kesenian hanya merupakan kultur yang tumbuh sekilas, sebuah ujaran “iya pernah” yang muncul dari mulut remaja ketika diberikan pertanyaan sesering apa menonton teater. Teater adalah bentuk ucapan asing yang sibuk dengan dirinya sendiri, padahal kesenian harusnya masuk pada sukma dan menimbulkan kesadaran dari sebuah proses pemikiran.

Identitas pasar teater yang concern pada dirinya sendiri dan ambisi besar untuk melahirkan wacana-wacana raksasa tampaknya memudar. Para seniman tidak menyadari bahkan Festival Teater Jakarta yang sudah berumur lebih dari 45 tahun berasal dari Festival Teater Remaja, yang kemudian bertahan sampai sekarang dan diisi kebanyakan oleh orang-orang tua, yang lupa wacana apa yang menyenangkan.

Teater dan identitas pasar yang mulai berfokus pada dirinya tentu saja menjadi sebuah jalinan yang tidak menyehatkan bagi kesenian itu sendiri. Teater di Jakarta hanya melahirkan penonton dengan jumlah yang sama, cara yang sama, dengan kesadaran yang sama. Ketika teater di Jakarta pelan-pelan membuka diri dan mencari warnanya tidak sekedar kendaraan ego seniman yang menggunakan kuasa feodalnya atas tubuh aktor (remaja), hampir bisa dipastikan teater bisa tumbuh organik dan majemuk.

Kebertahanan teks-teks (naskah) usang dalam pertunjukan teater adalah sebuah rangkaian bukti bahwa teater berhenti untuk menciptakan pasarnya, teater berdiri di sebuah ruang kuno (bukan klasik) menikmati masa mudanya yang menyenangkan.

Menjadi hype atau tidak bukanlah sebuah pilihan. Hypeness adalah sebuah penghargaan bagi kesenian, bagaimana kesenian bisa menciptakan pasar di luar anekdot-anekdot kesendirian yang panjang-dan segalanya berasal dari lamunan. Hal yang menjadi utama sekarang bagaimana mengamati apa yang diinginkan pasar dan bagaimana potensi pasar terhadap kesenian karena itu merupakan otokritik konstruktif yang bisa membangun ketahanan kesenian, dan sejauh mana kesenian itu nantinya akan diminati.

 

Foto: Stamford Arts Centre: The Greatest Showman.

         Tempo.co

(Penakota-frd/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Anak-Anak Papua dalam Balon Kata Sir Pentoel