Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Fenomena Gunung ES Membekukan Cita-Cita

oleh Redaksi

Penakota – Kami pusing. Lewat dari 3 jam sudah masing-masing dari kami tidak ada yang menemukan tema menarik untuk kami tuliskan. Apalagi, selama itu Sir Pentoel juga belum datang ke kantor. Alasannya, Sir bilang kepada kami, ia sedang menunggu mantan kekasihnya di atas jalan layang baru di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.

“Urusanku dan mantan lebih penting ketimbang pekerjaan. Tidak ada uang banyak aku masih bisa nikah di KUA (Kantor Urusan Agama), sementara tidak ada wanita, musnah sudah harapan. Akan kubuat jalan layang baru ini sebagai saksi hubunganku akan kembali mesra seperti mulanya,” ucap Sir kepada Kepala Redaksi kami penuh ketus lewat telepon berdasarkan cerita Kepala Redaksi kami itu.

Kendati tidak ada kabar lagi dari Sir, kami masih terus memutar otak kami dan berdiskusi mengenai isu-isu apa yang layak dan menarik untuk kami angkat dalam sebuah tulisan. Akan tetapi, isu demi isu kami paparkan, tetap saja Kepala Redaksi tidak pernah menerima. Kepala Redaksi kami memang sangat perfeksionis, kadang-kadang juga terkesan aneh. Kepada isu besar ia tidak menerima, sedangkan isu yang menurut kami buruk, misal terkait satwa liar lepas atau tertangkap kamera di perkampungan, baru ia suka.

“Kamfret, masalah Sukmawati itu udah banyak di-running, nyari yang keren dong. Atau kalau memang itu mau kalian angkat, cari sisi menariknya. Misalnya kalau kenyataannya ibu Sukma itu nulisnya di toilet. Tanya alasannya kenapa ia nulis di toilet. Menarik itu” bentak Kepala Redaksi kami.

Selagi kami masih pusing merapatkan isu, tiba-tiba terdengar suara manusia berlari menuju ruang rapat.

“Yihaaaaaaaaaa. Woy bhung, Sir, akhirnya aku dan kekasihku kembali memutuskan untuk berpacaran lagi,” teriak seseorang  yang ternyata adalah Sir Pentoel dengan mimik tanpa dosa sambil melompat mengagetkan.

 Melihat hal itu, Kepala Redaksi marah. Ia berdiri dan menunjuk Sir dengan pasang wajah kencang. Dahinya mengkerut, sementara alisnya turun ke bawah seperti Bejita dalam serial animasi Dragon Ball.

Anying. Kita lagi susah payah mikirin isu, kau datang nyelonong seolah bayi,” pekiknya.

Seperti biasa, kami sudah paham betul. Sir, ia hanya memiringkan kepalanya ke kanan dan menatap sinis Kepala Redaksi. Kalau sudah begitu, Kepala Redaksi kami pun juga tidak bisa berbicara lagi. Sir, pasti ia akan mendekat ke arah meja dan menempati bangku kosong yang ada sambil mengangkat sebelah kakinya seraya makan di warteg (warung tegal).

“Santai, Sir. Santai. Jangan pusing-pusing. Ide itu mahal. Kalau memang Sir ingin mereka-mereka ini memiliki ide mantap dengan cepat, silakan Sir naikkan gaji mereka. Cape Sir mikir. Sumpah. Nih sebat dulu lah,” kata Sir Pentoel kepada Kepala Redaksi kami sambil melemparkan 5 bungkus roko yang ia beli menggunakan uangnya sendiri.

Seperti yang sudah kami bilang, kami amat mafhum dengan kelakukan jubir (juru bicara) satu ini. Tapi, bagaimana pun Sir Pentoel memang aset bagi kami. Pemikirannya sangat berbeda dengan manusia pada umumnya.

Sir, masih dengan kaki terangkat, seperti pada akhirnya ia pasti akan membuat Kepala Redaksi kami tersenyum penuh kepuasaan. Bahkan, ketika Sir sudah memaparkan idenya, terkadang Kepala Redaksi kami terbahak seakan penuh kemenangan.

“Tapi itu juga sudah basi, Sir,” kata salah satu dari tim kami ketika mendengar pemaparan isu Sir Pentoel terkait kekerasan siswa terhadap guru atau yang biasa disebut dengan istilah fenomena gunung es.

http://palembang.tribunnews.com

 

Namun, Sir Pentoel adalah Sir Pentoel.

“Oke aku terima sanggahan kalian. Nyatanya, memang kasus ini sudah tidak asing di telinga pembaca. Namun, kasus ini sangat penting, Sir. Ini adalah kasus yang menambahkan kecacatan dalam dunia Pendidikan kita. Betapa miris, Sir. Aku tidak ingin anakku bersama pacarku nanntinya menjadi korban atau pelaku kekerasan di sekolah. Walaupun kita tidak bisa menyalahkan murid sepenuhnya, tapi kasus ini menunjukkan hilangnya sopan santun anak kepada yang lebih tua. Kemudian, kasus ini juga dapat menjadikan parameter bahwa sudah sepatutnya guru sebagai orangtua di sekolah tidak melakukan kekerasan fisik, atau mencari penghukuman yang pas agar tidak berimbas kepada sikap arogansi siswa atau anak kita. Sir, yang lebih parah, dari kasus ini orang-orang menjadi takut, panik atau antipati kepada dunia pendidikan,” jelas Sir Pentoel.

Kemudian Sir Pentoel melanjutkan.

“Begini, semalam aku bermimpi bertemu seorang anak lelaki. Kira-kira usianya 12 tahun. Lantaran kasus kekerasan di dunia pendidikan, anak itu memutuskan untuk berhenti sekolah. Menurutnya, hal tersebut karena ibunya tidak ingin ia menjadi korban. Bahkan, anak itu juga harus membunuh cita-cita dewasanya untuk menjadi seorang guru. Betapa miris keadaan anak lelaki itu saat aku menemuinya di sebuah gang sambil membawa satu kotak dengan pakaian lesuh seadanya,” sambung Sir dan tiba-tiba ia menangis.

Membekukan cita-cita

Sebelum aku bekerja seperti ini setiap harinya, dulu aku pernah sekolah. Walau sekolahku tidak bagus, tapi aku tetap senang. Aku berpikir kalau aku sekolah aku akan sukses. Aku akan menggapai cita-citaku.

Oh iya, namaku Agung Mudi. Tapi teman-teman biasa memanggilku Meler. Mereka memanggilku seperti itu karena aku memang sering ingusan. Umurku 11 tahun sekarang. Selama 5 tahun aku pernah merasakan memakai seragam putih merah. Aku sangat senang sekali. Di sekolah, aku punya banyak teman, bermacam-macam. Aku sangat dekat dengan 3 orang temanku, Toto, Nani, Ibes. Mereka bisa dibilang sahabatku.

Setiap ingin berangkat sekolah, Toto, Nani, Ibes sering sekali menjemputku menggunakan sepeda. Aku tidak punya sepeda. Bisa dibilang, aku satu-satunya siswa yang tidak memiliki sepeda di sekolah. Pernah aku berniat untuk mendatangi Presiden di manapun ia berada untuk sekedar meminta sepeda. Tapi aku tidak bisa. Aku bingung bagaimana menemui Presiden. Paling-paling aku hanya bisa melihatnya di televisi rumah Toto saja.

Yasudhlah. Toh, sekarang aku tidak sekolah lagi. Sekarang Toto, Nani, dan Ibes juga tidak pernah menjemputku menggunakan sepedanya. Sudah hampir satu tahun aku berhenti sekolah. Aku berhenti karena ibu yang menyuruhku. Ibuku takut karena katanya, dunia pendidikan kita sedang carut marut. Kekerasan merajalela.

“Ibu takut kamu jadi korban. Sekarang, kekerasan di sekolah seolah sedang menjadi tren, Gung. Kata Bapak, pernah ia membaca sebuah berita kalau Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) khususnya bidang pendidikan telah menerima banyak pengaduan di awal 2018 terkait kasus kekerasan terhadap siswa yang dilakukan oknum guru, kepala sekolah, petugas sekolah, dan sesame siswa. Dari hasil penelitian KPAI itu, pengaduan yang diterima didominasi kekerasan fisik, sebanyak 76%. Sementara kekerasan psikis 9% dan seksual 2%. Ada juga kasus kekerasan seksual oknum guru terhadap siswa yang viral di media sosial meski tidak dilaporkan langsung ke KPAI mencapai 13% kasus,” kata ibu kepadaku saat itu.

Padahal aku sudah berusaha menjelaskan kepada ibu kalau sekolah sangat pentingk bagiku. Namun, ternyata itu sia-sia. Ketika aku bilang alasanku sekolah karena ingin menjadi guru, ibu juga langsung berkata kalau jadi guru juga bahaya. Pokoknya dunia pendidikan sedang bahaya. Kata ibu, sekarang, menjalani profesi guru juga akan mengancam nyawaku. Pasalnya baru-baru ini kerap bermunculan juga kasus-kasu kekerasan yang dialami guru dari muridnya. Bahkan ada yang mati.

Guru-guru sekarang, menurut ibu tengah berada dalam ketakutan karena takut jika nantinya mereka memberikan hukuman disiplin kepada siswa, justru malah mendapatkan tindakan main hakim sendiri dari murid atau orangtua siswa. Kemudian katanya juga bisa diadukan ke aparat kepolisian atas tuduhan melanggar hak anak. Akibatnya, guru sekarang banyak yang menjadi apatis.

Ketika dunia pendidikan, diakui ibu lazimnya memberikan implikasi terhadap karakter siswa menjadi lebih baik, santun dan terdidik. Akan tetapi di zaman serba canggih ini, guru yang bertugas mendidik, mengajar dan mengayomi nampak kurang disegani lagi oleh siswa. Marwah guru sebagai teladan dan panutan terkesan hilang akibat kondisi demikian. Guru menjadi hanya sebatas profesi yang hanya dipandang sebagai sebatas pekerjaan. Siswa dan orangtuanya adalah majikan atau raja yang membayarnya.

“Tapi, itu kan mungkin karena kesalahan guru itu sendiri, Bu. Mungkin guru mereka menghukum dengan kekerasan juga. Jadi dibalas,” kataku kepada ibu.

Walaupun aku berusaha meyakinkan ibu kalau suatu hari ketika aku menjadi guru aku tidak akan berbuat kekerasan kepada muridku, Ibu tetap pada pendiriannya. Ibu bilang pokoknya aku tidak boleh jadi guru dan harus melupakan cita-citaku.

“Percuma. Kau dengar Ibu, bahkan gara-gara hp (telepon genggam) saja seorang murid bisa semena-mena pada gurunya. Apalagi kalau nanti kamu ngajar di Sekolah Menengah Atas (SMA),” jelas Ibu.

Ibu memberitahukan padaku contoh kasus-kasus kekerasan terhadap guru yang dilakukan oleh siswa dan orangtua siswa. Misalnya pada kasus di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Makassar, Dahrul (52), yang dianiaya oleh orangtua siswanya, Adnan Achmad (43), saat proses belajar berlangsung, Rabu (10/8/2016) silam. Kemudian, kasus seorang guru bernama Ahmad Budi Cahyono. Dia adalah guru honorer SMAN 1 Sampang, Madura yang menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh siswanya sendiri pada 1 Februari 2018.

“Peristiwa itu berawal dari dalam kelas saat korban mengisi pelajaran di kelas XII. Korban menegur pelaku karena tidak menghiraukan pelajaran yang disampaikan korban. Sampai beberapa kali ditegur, pelaku tetap tidak menghiraukan sehingga terjadi debat antara keduanya. Setelah perdebatan terjadi, pelaku kemudian menganiaya korban,” kata Ibu berdasarkan pendengarannya dari tetangga-tetangga saat membeli sesuatu di warung dekat rumah.

Selain kedua kasus itu, masih ada lagi. Seorang guru bernama Puji Rahayu misalnya. Kata Ibu ia dipukul oleh siswanya saat pembagian rapot lantaran siswa itu tidak naik kelas, Sabtu (17/6/2017). Maka dari itu ibu menyuruhku untuk berhenti sekolah dan melupakan cita-citaku.

Sekarang, aku jadi tukang pengantar kue yang dibuat ibu secara keliling. Cita-citaku seolah beku.

“Tapi itu kan Cuma mimpi, Sir. Bisa-bisa kita kena pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Apalagi kalau di tulisan nanti ada indikasi kalau kita mengujarkan kebencian kepada pemerintah atau anngota dewan. Baik-baik UU MD3, SIr” kata salah satu tim kami kepada Sir Pentoel.

Maka, Sir pun nampak diam sejenak.

“Loh iya ya. Sial, aku mau jadi anggota DPR saja lah kalau gitu,” katanya lantas mendadak ia izin kebelakang untuk buang air besar.

(penakota-fdm/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Tatkala Menunggu Bangkit Kembalinya B. M. Syamsuddin
Memahami Seni Memahami