Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Lawak Tunggal dan Suara Nyaring Lokalitas

oleh Destriyadi Imam Nuryaddin

Penakota.id - Mulutnya tak habis-habis mengeluarkan senyum. Terkadang sabit kecil yang terlukis, terkadang sabit besar. Tak ada yang mengetahui penyebabnya, kelakuan Sir Pentoel hari itu. Kami tidak tahu-menahu. Kurang ajar memang, jika itu adalah kebahagian, seharusnya ia membaginya kepada kami. Tidak membagi kebahagian itu hukumnya kebahagiaan yang sungsang.

Kami harus mengakui Sir Pentoel layak mendapatkan kebahagiaan dari kesedihannya yang ia alami berminggu-minggu lalu. Katakanlah untuk mengembalikan suasana dengan sesuatu yang menggelitik lucu itu memang perlu. Namun, yang kami sedikit tidak terima,  kenapa dia tidak membagi kebahagian itu kepada kami. Padahal, kami telah menemaninya juga saat ia terpuruk. ‘KZL’ kami.

“Akhir-akhir ini kami sering melihatmu begitu bahagia. Ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami kah, Sir?” Tanya salah satu teman sejawat Sir Pentoel.

Baru saja beberapa jam, tepatnya jam istirahat makan siang, Sir Pentoel terlihat sangat terbahak-bahak. Tentu bukan kisahnya yang sedih tapi ada sesuatu yang ia anggap lucu. Tapi kami anggap keanehan. Entah untuk menghibur dirinya sendiri atau kami khawatir kalau-kalau Sir Pentoel sedang sakit kepala, sakit jiwa mungkin. Sebab baru beberapa pekan yang lalu ia merasa kesedihan yang dalam, tak perlu kami ceritakan panjang lebar, takutnya nanti dia akan mendengar dan marah kepada kami lebih baik kalian ingat-ingat lagi.

Sekarang Sir Pentoel sedang keluar mencari berita untuk hari ini, mungkin nanti sore baru pulang. Entah dia malu atau memang tidak mau ketahuan oleh teman-teman handai tolannya ini, setiap dari kami masing-masing mencoba mendekatinya saat sedang tertawa tiba-tiba gawainya ditutupi dan kami tak bisa melihatnya. Suara video itu tidak bisa kami dengar karena dia menggunakan headset, tapi hebatnya Sir, dia tahu langkah kami mendekatinya. 

“Kenapa lagi dengan Sir?”

“Apa yang dia tonton?”

“Jackie Chan? Srimulat? Pee Mak? Warkop DKI? Sule Sutisno?”

Kami terus menanyakan apa yang terjadi. Tapi Sir tak mau menjawab. Memang tugasnya selesai, tapi saat-saat senggang dari pemberitaan. Mulai sudah tertawanya, setiap hari. Kami datangi Sir, sekaligus ramai-ramai. Ada yang memegang erat tubuhnya, ada yang memegang gawainya untuk mengecek apa yang menjadi rahasia selama ini. Sir tak dapat berkutik untuk mengambil gawai atau pun sekadar tertawa. Tenang ini bukan penyekapan tapi ini hanya taktik untuk mengetahui Sir Pentoel sedang apa, cukup itu. Kami dengan serius mengecek kilas balik apa-apa saja yang ditonton, lalu memperlihatkan kepada yang memegang tubuh Sir. Tapi entah kami pun ikut tertawa.

“Nah, betul dugaanku. Kalian pun ingin tertawa dan pasti tertawa setelah melihat video itu.”

“Kenapa tidak kau ajak kami menonton? Kalau begini aku pasti betah.”

“Hehehe. Aku takut mengganggu kerja kalian, dan aku senang sendiri mendengarnya”

“Jangan seperti orang gila.”

“Tidak. Wajar kalau aku tertawa, memang apa yang komika (pelaku lawak tunggal) itu sampaikan begitu lucu. Kalian tidak mendengarnya ya tidak tertawa. Stand Up Comedy (Lawak Tunggal) itu cara baru humor. Tergantung komika-komika itu sendiri menggunakan Lawak Tunggal sebagai apa. Jelasnya adalah keresahan. Mau mengkritik pemerintah dengan lucu, bisa. Menyampaikan asmara dengan lucu, bisa. Menceritakan kemiskinan, bisa. Menceritakan kekurangan fisik dengan lucu, bisa. Dengan keberagaman itu ya wajar saja setiap orang suka mendengar dan melakukannya. Semuanya berbeda-beda kan?”

“Sepertinya kau juga ingin menjadi komika?”

Sir bercerita kepada kami kalau dengan intens memperhatikan perjalanan perkomedian di Indonesia, Lawak Tunggal memberikan warna baru dan peluang yang besar bagi siapa saja. Lagaknya sudah seperti seorang pemerhati komedi. Kami terus mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Sir selanjutnya.

Menurut Sir, kehadiran Lawak Tunggal di Indonesia mendapatkan respon yang baik. Dalam artian antusias masyarakat Indonesia memanfaatkan Lawak Tunggal sebagai sarana menyampaikan sebuah keresahan secara jujur, menyampaikan tentang diri sendiri secara dalam, memberitahu apa yang belum orang-orang ketahui. Dengan berbagai persona yang diciptakan, beragam pula dapat dilihat.

Komtung

Selain persona yang menjadi ciri khas setiap komika, lokalitas menjadi bahan yang kuat dan original dari dalam diri setiap komika yang berasal dari daerah-daerah di luar kota Jakarta. Lokalitas yang dibawa setiap komika—daerah—mengisahkan tentang ironi dan kehidupan di daerah mereka masing-masing. Dengan begitu, secara tidak langsung, anasir penting yang dibawa komika daerah adalah lokalitas daerah mereka sendiri selain harus membuat kelucuan dari lokalitas itu.

Dalam anggapan Sir, Lawak Tunggal sebagai sarana suara yang efektif untuk didengar oleh khalayak luas. Terlebih saat ini, Lawak Tunggal sangat banyak peminatnya baik dari pelaku atau pun pendengar. Lagi pula kelucuan yang keluar dari lisan komika mudah diingat oleh mereka yang mendengarkan.

Yang menggambarkan lokalitas tidak hanya secara eksplisit atau terang dijelaskan oleh diri mereka sendiri, tapi dari dialek yang kental sangat menggambarkan dari mana mereka berasal. Dengan begitu menurut Sir, pembawaan secara materi yang disampaikan berbau lokalitas.

“Kalian bisa mencontohkan bagaimana orang Medan dan Padang berbicara? Kalian bisa menirukan bagaimana orang-orang Sulawesi berbicara? Jawa? Jakarta?” Sir mencoba menanyakan kepada kami dan ia akan menelaah dari mana bahasa yang kami ucapkan dan mengaitkan dengan komika.

Biasanya setiap pertunjukan akan diberi satu tema sebagai tantangannya, pun sama, tema-tema yang diberikan dengan mudah dimanfaatkan komika untuk mengaitkan secara kuat dengan di daerah mereka sendiri. kalau bertemakan kendaraan, tentu akan merembet ke kendaraan di setiap daerah, mudahnya angkot. Tentu di setiap daerah memiliki angkot yang berbeda-beda, dari istilah angkot itu sendiri, warna, kreasi, dan lainnya.

Apalagi kalau kuliner, sudahlah, Sir begitu tertawa saat menceritakan hal ini. daerah mana yang tidak memiliki makanan khas? Dan siapa yang tidak mau memperkenalkan ke khalayak ramai? Namun kehadiran komika yang berasal dari daerah tidak hanya untuk meorientasikan daerahnya kepada mereka yang mendengarkan, tetapi juga tentang ironi-ironi yang terjadi. Seperti orang-orang timur selalu menyampaikan keresahan mereka tentang daerah yang jauh dari modernitas, serba kekurangan, harga yang mahal, transportasi yang sulit, hingga materi-materi yang menyangkut kepada otonomi daerah dan birokrasi negeri.

“Lalu bagaimana dengan komika-komika yang tidak mengangkat lokalitasnya tetapi mereka berasal daerah di luar kota Jakarta, Sir?”

Sir menegapkan badan. Ia mengatakan tidak masalah, lokalitas adalah bahan abstrak yang diolah maupun tidak tetap akan hidup dalam diri mereka. Walaupun memang komika harus pandai-pandai menggunakan antara bahasa universal dengan dialek yang kental itu. tersampainya sebuah pesan atau komunikasi yang baik adalah menyampaikan dengan baik pula. Sir Pentoel menganggap bahasa daerah akan minim keluar, karena untuk mencapai pendengar yang banyak perlu bahasa yang orang mengerti. Tergantung bagaimana kecerdasan komika menyampaikannya. Begitu kata Sir Pentoel. Oh iya, terkait tema yang lokalitas, tidak menjadi keharusan tetapi akan menjadi warna yang berbeda dan memiliki nilai jual yang tak bisa dimiliki orang lain. sebuah angle yang tidak perlu dibuat-buat.

“Misal kucontohkan seperti Abdurrahim Arsyad, Arie Kriting, dan Mamat al Katiri. Mereka bertiga komika dari timur yang membawakan pesan-pesan dari timur. Seperti yang kubilang tenang ketertinggalan, tentang keunikan, ironi kehidupan, karakter, dan perantara dari masyarakat kepada pihak yang berkaitan. Maksudku kepada pemerintah.”

“Kenapa mereka tidak mengambil yang lain saja selain lokalitas, Sir?”

“Kalau kau bertanya begitu, sepenglihatanku karena keresahan terbesar adalah datangnya dari daerah mereka. Memang mereka bisa mengambil yang lain, tapi karakter yang seperti lokalitas tidak sembarang orang bisa mencomot. Kebanyakan komika memang membentuk seorang diri yang tidak berlokalitas dan itu yang paling kuat dan menjadi ciri mereka. Menurutku sama saja dengan komika-komika dari timur, hanya bedanya mereka tidak perlu mencari-cari ciri khas dalam hal materi yang disampaikan atau membentuk diri mereka di mata orang-orang seperti apa karena memang mereka sudah lahir dari sebuah budaya yang tidak orang ketahui.

Sumber: http://gituaja.com

 

“Maka mereka punya beban secara lahiriah dan batiniah. tapi yang penting bagaimana bisa mengolah kelokalitasan itu menjadi menarik untuk ditertawakan secara estetis. Bung, masih ada komika dari Sumatera yang membawa ke-sumatera-annya di materi Lawak Tunggal. Babe Cabita dengan rambut yang mekar, indra jegel si kurus, boris bokir dengan kain lap di bahunya. Mereka menyampaikan bagaimana kehidupan orang-orang Medan, kekerasan baik kelembutan. Adalagi dari tanah minang, Pras teguh yang dikenal dengan act out-nya dan rin hermana si rambut panjang.

“Coba kalian dengar saja apa-apa yang disampaikan mereka saat tampil, tak akan padang itu tertinggal. Aku tidak mau seperti penonton film yang spoiler, nanti tak seru. Lalu dari “Kalimantan. Pasti kalian sudah mendengar nama Ardit Erwandha si muka tampan, dan Deswin Faqih anggota BNN yang tampan pula. Suara-suara mereka adalah suara-suara masyarakat Timur, Melayu, Borneo. Tak juga ketinggalan seperti Sadana Agung dari Salatiga dan Dodit Mulyanto Jawa Timur yang muncul sebagai komika yang kental Jawa-nya. Walaupun ada beberapa komika yang tidak selalu bersuara tentang daerah, tapi aku sangat yakin inspirasi terbaik adalah lokalitas mereka juga.

“Pasti. Kenapa aku begitu yakin, karena formula yang aku lihat adalah yang paling utama mereka cari dari hal yang spesifik geografik lalu baru tentang hal yang umum. Maksudku mereka mencari dari yang paling dekat dengan mereka seperti daerah asal mereka kalau memang cukup mereka mencari materi yang lebih luas lagi. Tugas mereka bagaimana yang belum terdengar menjadi terkenang dalam batin pendengar, Bung,” papar Sir.   

“Apa pekerjaan rumah yang paling berat bagi seorang komika, Sir?” tanya rekan sejawat.

“Menurutku adalah menyampaikan kepelikan dengan lucu, Bung,” jawab Sir tegas.

“Catat obrolan ini. Kita belajar tentang kelucuan, Sir,” sambung rekan sejawat.

Sir Pentoel hanya tertawa kecil mendengar itu. Sementara ia memandang salah satu dari kami yang sedang memandang kami yang sedang menuliskan kata kunci di kolom pencarian youtube, Lawak Tunggal­, yang lainnya mencari dengan kata kunci nama komika yang disebutkan seperti Mamat Al Katiri, Dodit Mulyanto, Babe Cabita, sampai nama-nama yang baru kami temukan sendiri. Kami memandang Sir Pentoel yang sedang mengambil kertas dan pulpen dan menuliskan sejuntai kalimat. Seperti judul materi lawakannya. Tulisan itu berbunyi: Negaraku dan Vicky Prasetyo Bagai Pinang Kembar. (dmn/fdm)

Mengeluarkan pendapat atau menginformasikan sesuatu dapat dibungkus dengan cara apapun, tak terkecuali komedi.

Bagikan

Ngobrol yuk!

Meneroka Metode Pendidikan Lewat Film Pilihan
Menjadi Bundak Pasca Pemain Bumi Manusia Dikenalkan