Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Ramadan Karim Alaikum, Mo: Jangan Menangis Lagi

oleh Redaksi

Penakota.id – Ia sudah tak ganjil lagi bagi kedua kaki Mo. Ia sudah karib dan bersahabat, bahkan sejak Mo masih di usia anom. Ia sudah menemaninya. Mo selalu membawanya, mengajaknya bermain di lapangan-lapangan, di jalan-jalan sepi penuh serdak Najrij. Mo dan Ia bagai dua saudara kandung yang tak pernah terpisahkan.

Ke mana pun Mo pergi, Ia seolah bagai anjing penjaga. Karena Ia, Mo pun bertemu tangan emas yang membuat keadaan Mo seperti saat ini. Saat itu, Ia bersama Mo tengah bersetubuh di sebuah kompetisi lokal, tepatnya Liga Pepsi untuk anak-anak di daerah Tanta, kota daripada Masjid Ahmad Badawi.

Kota itu menjadi jembatan Mo dan Ia menumbuhkan sayap. Pasalnya, selang kompetisi tersebut Mo pada akhirnya bertemu dengan seseorang, dia adalah pencari bakat dari klub sepak bola Contractors FC (El Mokawloon) yang bermarkas di Kairo. Saat itu usia Mo baru menginjak 14 tahun.

Akibat pertemuan itu, Mo dan Ia pun rela berangkat ke Kairo demi sebuah mimpi. Mo dan Ia bahkan rela setiap harinya menempuh 150 kilometer atau sekitar lima jam setengah (sekali perjalanan) perjalanan untuk berlatih. Mo, setidaknya harus berganti lima bus untuk sampai ke tempat latihan.

Bukan tanpa pengorbanan, karena jarak tempuh yang cukup panjang dan harus ditempuhnya setiap hari, Mo harus mengorbankan waktu sekolahnya. Setiap hari, Mo hanya belajar selama dua jam di sekolah, yakni pada pukul 07.00 hingga 09.00. Setelah itu, Mo  harus berpacu dengan waktu agar dapat sampai di tempat latihan sebelum pukul 14.00. Latihan dimulai 30 menit kemudian dan baru selesai sekitar pukul 18.00.

Biasanya, pasca latihan Mo tiba di rumah pukul 10 malam. Sesampainya di rumah, Mo membersihkan tubuhnya lantas dia makan dan lalu tidur. Jarang Mo menemui waktu hangat dengan keluarganya. Hanya itu rutinitasnya setiap hari.

Kendati demikan, Ia masih setia menemani Mo sampai Mo pada akhirnya menjadi salah satu bintang sekarang. Ia adalah si kulit bundar. Mo dan Ia kiranya terus berteman sampai sekarang, tanpa pernah ada rasa benci satu sama lain. Ia menjadi kecintaan Mo dan sebaliknya. Mereka bersahabat bagai tubuh dan mata dalam diri Mo. Di saat Ia terluka, mungkin Mo akan menangis, begitu sebaliknya. Bagai kedua sisi keping mata uang, tak terpisahkan.

Sekarang, Mo telah menjadi salah satu bintang. Akan tetapi, Mo selalu bersamanya di tengah gemerlapnya dunia lapangan hijau atau sepakbola

Perjalanan Awal Menuju Titik Emas

Ilustrasi di atas merupakan sebuah deskripsi singkat bagaimana Mo atau Mohammed Salah dengan dunia sepakbola. Kecintaan Mo dengan dunia ini begitu terasa sejak dia kecil. Keseharian Mo kecil hanya diisi dengan bermain di dunia itu. Apalagi, Mo kecil sudah memiliki mimpi, bahwa suatu hari dirinya akan mengikuti jejak para legenda di dunia itu seperti Zidane Zidan, Luis Nazario de Lima (Ronaldo), dan Francesco Totti. Ketiga nama itu selalu disimpannya dalam hati untuk kemudian dijadikan sebuah pecutan bagi dirinya.

Mimpi dalam benak Mo mulai terlihat sinarnya pada medio 2002. Saat itu Mo bertemu dengan pencari bakat yang kemudian mengajaknya untuk berlatih dan bermain dengan sebuah klub bernama El Mokawloon yang terletak di kota Kairo, Mesir.

Selama 8 tahun, Mo menimbah ilmu di El Mokawloon. Sampai pada akhirnya, Mo pun diproyeksikan ke skuad senior di klub yang sama pada akhir tahun 2010. Di kurun waktu 2 musim, Mo dipercaya tampil sebanyak 41 kali. Kepercayaan itu lantas tak membuat Mo mengabaikannya begitu saja, 11 gol yang Mo sarangkan ke gawang lawan cukup membuktikan cikal bakal bintang yang ada pada dirinya.

Nahas, lantaran bahala terjadi di Ibu kota Mesir itu, tepatnya serangan massal yang terjadi di Stadion Port Said yang menewaskan 79 orang dan lebih dari 1.000 terluka, membuat kompetisi sepakbola di negeri itu sempat terhenti. Asosiasi sepakbola Mesir mengungumkan hal ini secara resmi pada 10 maret 2012. Hal tersebut membuat keseharian Mo harus berhenti karena tidak adanya sebuah pertandingan yang akan dijalankan.

Akibat daripada itu, akhirnya salah satu klub dari Benua Biru (Eropa) tertarik memboyong Mo dan berniat mendatangkannya untuk bermain di Basel, sebuah klub sepakbola profesional yang cukup terkenal di negeri dengan cokelatnya yang sangat lezat, Swiss. Pada tanggal 10 april 2012, secara resmi Mo didatangai kontrak dengan durasi 4 tahun.

Sepanjang karirnya di Basel, Mo dipercaya tampil sebanyak 47 kali dan berhasil memberikan sumbangan 9 gol. Salah satu gol berkesan Mo untuk Basel yang masih diingat yakni kala Basel berhasil menumbangkan klub raksasa sepakbola asal Inggris, Tottenham Hotspur 4-1 melalui adu penalti setelah sebelumnya menghasilkan agregat imbang 4-4 di ajang Europa League. Sayang beribu sayang, di partai semifinal Mo dan rekan-rekannya harus mengaku kalah di tangan klub Inggris lain Chelsea dan membuatnya tidak bisa meneruskan kompetisi besar itu.

Karunia Allah

Pasca pertemuan Basel dan Chelsea di Stamford Bridge, agaknya klub London tersebut  tertarik dengan gaya permaian Mo lantas berniat membawanya ke kota yang konon didirikan oleh Raja Lud itu. Akhirnya Mo pun menerima pinangan itu, teaptnya pada 23 Januari 2014. Mo resmi bergabung dengan Chealsea dengan biaya transfer £11 juta.

Mo, dia merupakan orang Mesir pertama yang bermain untuk Chelsea dalam sejarah sepakbola klub asal Inggris tersebut. Catatan penampilan Mo bersama Chelsea cukup sedikit, hanya 13 kali dan hanya  berhasil menyumbangkan 2 gol.

Oleh sebab itu, karena minimnya menit bermain dan kecilnya kesempatan Mo dalam menembus skuad utama Chelsea, Mo pada akhirnya dipinjamkan ke klub asal Itali, yakni Fiorentina untuk menambah jam terbang.

Selama dua musim dia bermain bersama Fiorentina, Mo diberikan waktu menit bermain yang cukup banyak di tengah usianya yang terbilang masih cukup muda dan minim pengalaman di liga elit Eropa.  Tercatat Mo tampil sebanyak 34 kali dengan sumbangan 14 gol.

Kegemilangan Mo bersama Fiorentina membuat klub elit lain negeri Pizza itu tertarik mendatangkannya. Sebut saja AS Roma.

Bersama AS Roma, Mo bermain sangat impresif. Bahkan, Mo berhasil mengantarkan klub ibu kota tersebut berada di urutan 2 Liga Seri A setelah kalah selisih poin dengan Juventus untuk perebutan liga bergengsi di Itali tersebut. Total 31 penampilan telah Mo lakoni bersama AS Roma dan berhasil menyumbangkan 19 gol.

Performa impresif Mo saat bermasa AS Roma bukan hanya menyinarkan namanya. Medio 2016, MO diganjar berbagai macam penghargaan, salah satunya adalah penghargaan dari Globe Soccer Awards (GSA). Mo, medio tahun itu dinobatkan sebagai pemain Arab terbaik. Nama Mo di Timur Tengah meroket dan mendapatkan perhatian lebih sebagai pemain bintang.

Atas kecemerlangan Mo bersama AS Roma, Liverpool pu pada akhirnya melirik dan mendaratkan Mo ke Anfield untuk awal musim 2017/2018. Dengan biaya transfer yang cukup fantastis, £35 juta, Mo pada akhirnya resmi memakai kostum merah kebanggaan klub kota pelabuhan itu.

“Aku memiliki dua musim yang hebat di Roma, itulah yang membuatku percaya diri untuk kembali ke Inggris . Aku harus melanjutkan perfoma apik di Roma dan fokus pada laga-laga yang akan menantiku nanti,” ujar Mo seperti dilansir BT Sport.

Kemegahan nama Mo terus besar semenjak dia bermain untuk Liverpool. Mo telah menunjukkan kematangannya hingga para penggemar klub berlambang burung Liver itu begitu mencintainya.

Mohamed Salah adalah karunia dari Allah
Dia datang dari Roma ke Liverpool
Dia selalu mencetak gol, itu hampir membosankan
Jadi jangan biarkan Mohamed pergi

Begitulah nyanyian yang diciptakan para penggemar khusus untuk Mo. Bisa dibilang, untuk saat ini dia adalah tongkat emas yang dimiliki Liverpool. Pemain asal Mesir itu bahkan telah mencetak hampir 50 gol dari semua laga yang telah dijalaninya bersama klub Inggris ini. Hingga pada akhirnya, Mo berhasil membawa klub ini menumpaskan semua lawannya di ajang kompetisi paling bergengsi, yakni UEFA Champions Legue untuk menghadapi klub raksasa asal Spanyol Real Madrid.

Sergio Ramos, Bibit Air Mata Mo

Sejak pertama kali ia memasuki NSC Olimpiyskiy Stadium untuk bertempur dalam ajang final, Minggu (27/5), wajahnya penuh semangat. Di matanya, seolah terlukis corak-corak The Big Ears, si Telinga Besar. Mo, dia yang namanya telah menjadi sorotan banyak publik agaknya harus benar-benar serius dan membuktikan kalau dia memang tidak dapat diremehkan.

Dalam hatinya, mungki telah penuh mazmur-mazmur suci. Apalagi bulan ini menjadi special bagi diri Mo, bulan Ramadan. Banyak orang telah memprediksi bahwa Mo akan menajdi sesosok malaikat yang mengantarkan Liverpool kepada tahta tertinggi di Eropa.

Terbukti, sejak awal pertandingan dimulai, penguasaan bola Mo memang lebih banyak dibandingkan bintang besar lainnya, yakni dari kubu lawan, Cristiano Ronaldo. Dengan apik Mo menunjukan kemahirannya kepada lawan-lawannya yang kerap melengketkan tubuhnya itu, kepada Marcelo Vieira da Silva Júnior, kepada Sergio Ramos García.

Kaki emasnya pun kerap menciptakan peluang bagi Liverpool di awal-awal pertandingan. Pada menit 7:05 misalnya. Ketika kaki Mo mencungkil si kulit bundar, Adidas Finale Kiev, hal itu membuat Alexander Arnold menakutkan Real Madrid. Sayangnya, Alexander tak memanfaatkannya dengan apik. Kemudain, ketika pada menit 17:50 Mo mengambil sepakpojok, gentusan kepala Virgil van Dijk nyaris membobol gawang yang dianjingi oleh Keylor Navas.

Mo benar-benar terlihat sebagai momok bagi Real Madrid di awal-awal babak, sampai pada akhirnya bencana pun terjadi. Menit 24:44, lantaran harus berhadapan sengit dengan Ramos, Mo harus mengalami kesakitan di salah satu tangannya. Tangan Ramos yang terlihat sempat mengunci tangan Mo membuat dia, Mo tidak dapat meneruskan pertandingan lagi. Walau sempat meneruskannya sebentar, pada menit 30:00 dia benar-benar harus meninggalkan lapangan. Air matanya tak dapat terbendung saat Mo digantingan oleh Adam Lallana.

Akibat daripada itu, Liverpool pun terlihat pincang serangan. Akibatanya, Madrid membuka keunggulan di menit ke-51 lewat gol Karim Benzema. Dengan memanfaatkan blunder fatal Loris Karius, Benzema membuat penggemar Liverpool diam sejenak.

Selang empat menit kemudian, tepatnya menit ke-55, Liverpool semapat menyamakan kedudukan lewat Sadio Mane. Mane mencetak gol memanfaatkan bola hasil sepak pojok.

Gol spektakuler Gareth Bale di menit ke-64 lantas membawa Madrid kembali memimpin. Tendangan saltonya menyambut umpan lambung Marcelo melesak ke pojok kiri atas gawang Liverpool.

Petaka bagi Liverpool, sebuah kesalahan dari Karius lagi-lagi membocorkan gawang Loris. Penjaga gawang asal Jerman ini gagal menghadang dengan baik tendangan jarak jauh Bale, sehingga bola anjlok dari tangannya dan masuk ke gawang.

Skor 3-1 bertahan sampai pertandingan usai. Madrid pun pada akhirnya berhasil menjuarai Liga Champions untuk tiga kali beruntun. Ini merupakan titel ke-13 Los Merengues di turnamen tersebut.

Kekalahan ini agaknya membuat kesedihan Mo semakin menjadi. Pasalnya, Mo tidak dapat berjuang sampai akhir pertandingan bersama rekan-rekannya itu. Walaupun demikian, usaha Mo patutnya mendapatkan apresiasi. Setidaknya, Mo telah membuktikan dengan cara berhasil membawa Liverpool ke Ukraina.

Sekali lagi, jangan menangis, Mo. Ramadan Karim Alaikum. Selamat menunaikan ibadah puasa, Mo. Semoga langkahmu tetap berkah. Hala Madrid. (penakota-fdm/glp)

Walaupun Mohammed Salah gagal membawa Liverpool menjuarai Liga Champions 2017/18, semangat kerasnya agaknya perlu diapresiasi.

Bagikan

Ngobrol yuk!

Menjadi Bundak Pasca Pemain Bumi Manusia Dikenalkan
Tirto Adhi Soerjo; Selayang Pandang Bingkai Sang Pemula