Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Rekomendasi Bacaan Selama Libur Lebaran

oleh Redaksi

Penakota.id - Di masa vakansi seperti ini ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan. Di Indonesia, lebaran identik dengan mudik serta berkumpul dengan sanak saudara. Setelah itu mengunjungi tempat wisata dan mengabadikannya dalam jurnal visual dan media sosial. Menyenangkan melihat orang-orang berbahagia dengan preferensi dan seleranya. Hal tersebut berlaku juga buat Sir Pentoel, juru bicara Penakota.id. Seorang snob yang tulus dan berbahagia dengan cara hidupnya.

Setelah mendengar khotbah dan mendengar ragam lisan lainnya, Sir Pentoel mafhum dan mengangguk: bahwa sebaik-baik umat ialah bermanfaat untuk sesama, maka dari situ ia coba berbagai sebisa ia punya kapasitas serebrum kepada warga penakota dan handai tolan di kolong langit lainnya. Penakota seperti diamini Sir Pentoel, bukanlah demarkasi antara lokal dan global. Mentang-mentang ada kata kota di dalamnya, maka platform ini terlihat ekslusif (masturbasi saja) dan esoteris (mengintip dari lubang kunci). Sir Pentoel langsung menggelengkan kepala sebelum pertanyaan dan pernyataan itu tiba.

Ia tidak hendak mengatakan bahwa kota adalah gedung tinggi menjulang dengan polusi di dalamnya. Bukan juga desa dengan keeksotisan sawah dan gunung. Kota hanyalah sebuah nama. Sebuah tempat saja untuk para warganya beraktivitas (menulis, disuksi dan berbagi). Kota dan desa baginya seperti pita möbius yang penuh enigma. Paradoks dikotomi eksklusif-inklusif, lokal-global, populer-serius ingin ia jauhkan. Ia berada di tengah-tengah. Menurut KBBI versi mutakhir, lokal berarti ruang yang luas, terjadi (berlaku, ada, dan sebagainya) di satu tempat, tidak merata; setempat, dan di suatu tempat (tentang pembuatan, produksi, tumbuh, hidup, dan sebagainya).

Sir Pentoel ingin suatu saat nanti Penakota.id menjadi Desa Global seperti ia menyitir Marshall McLuhan. Atau biar canggih sekalian bisa menjadi Multivac atau sekalian melayang di luar angkasa seperti mobil milik begawan Elon Musk. Begitu juga dengan laman ini, berusaha menjembatani para penulis untuk menyalurkan kreativitasnya. Sebuah wadah untuk saling berbagi: dari tulisan buruk sampai kanon (mungkin).

Toh Sir Pentoel dan kami seperti air: tergantung wadah dan para penggunanya. Platform seperti Youtube, atau generasi kiwari yang karib dengan Tiktok dan Musically. Sebuah seni performansi dari khazanah digital. Jadi, tinggal kita saja memfiler waktu dan memilih bacaan yang tepat sesuai preferensi dan kebutuhan. Maka dari itu, untuk menemani vakansi yang tak berjalan lama (karena waktu relatif tergantung bagaimana ia dihabisi), inilah buku yang bisa menjadi pilihan untuk menemani sisa liburan kalian.

20180617101738

PARRHESIA: Berani Berkata Benar (Marjinkiri, 2018)

Kita hidup di tengah gempuran hoaks dan betapa sulitnya untuk melek literasi. Sir Pentoel mengatakan kata “kita” untuk hal yang sering ia temui. Grup WhatsApp keluarga, kedunguan yang merajalela di media sosial, keinginan untuk menghakimi daripada memahami dan merundung daripada mengabarkan walau hanya satu ayat. Itulah yang sering Sir Pentoel temui.

Buku filsuf plontos yang diterjemahkan oleh Haryanto Cahyadi dan diterbitkan penerbit sakti macam Marjinkiri adalah kwaliteit mutu tanpa ragu. Pada beberapa tahun silam, kamus berbahasa Inggris, Oxford Dictionaries menetapkan termin post truth (pasca-kebenaran) sebagai word of the year. Bagaimana sebuah kata-kata dapat membangun persepsi dunia.

Di masa Idulfitri, ucapan maaf banyak bertebaran seperti oksigen. Namun maaf hanya terlahir sebagai maaf, tanpa rasa ikhlas di dalamnya. Rasanya seperti meninju udara, lega namun tidak berasa. Parrhesia: Berani Berkata Benar, sebuah tradisi sejam zaman Romawi kuno—untuk selalu mengatakan kebenaran, betapa pun menyakitkannya. Bacaan yang asik untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi (meski klise bagi manusia) maka kita tidak bisa menyangkal itu semua.

 

Dari Kekalahan ke Kematian - Mahfud Ikhwan (EA Books dan Fandom, 2018)

Piala Dunia 2018 di Rusia tengah berlangsung. Buku ini bisa dicicipi sambil ngopi dan berbual banyak soal bal-balan bareng konco sedulur. Ditulis dengan presisi, enak dibaca dan perlu. Seperti tendangan bebas C. Ronaldo yang meliuk dan melenggang masuk ke jala De Gea. Bagi para pecinta sepakbola atau sekalipun yang tidak suka bola, buku ini bisa menjadi pilihan karena konten yang ditawarkan. Karena menulis sepakbola bukan hanya persoalan di lapangan saja, ia melibatkan banyak hal: kewarasan dan perasaan.

Penulis yang karib dengan sinema India, pesantren dan buruh migran ini mendedahkan sepakbola dari perspektif yang luas: politik hingga berbagai intrik di dalamnya. Kalau Borges benci dengan sepakbola karena ia semacam simulakra tak bertepi, maka cak Mahfud Ikhwan cinta dan benci dengan sepakbola karena ia seperti hati wanita: penuh enigma. (ini bukan semacam objektifikasi perempuan, hanya Sir Pentoel masih karib dengan dead metaphor sepertinya). Setidaknya dengan moco buku ini, pandangan kita tentang sepakbola Indonesia jadi terbentang lebih luas seperti semut berjalan di Padang Mahsyar dan tentunya masih ada harapan meski hanya satu persen.

 

On the Road - Jack Kerouac (baNANA, 2017)

Jelas buku ini begitu relevan dengan perjalanan panjang saat mudik lebaran. Novel semi-autobiografi ini berisi lima bagian yang meriwayatkan kehidupan dari sudut gairah, identitas dan renjana. Novel yang erat kaitannya dengan para penulis beken macam William S. Burroughs (Old Bull Lee), Allen Ginsberg (Carlo Marx), dan Neal Cassady (Dean Moriarty) yang mewakili karakter-karakter dalam buku, termasuk Kerouac sebagai narator Sal Paradise.

Novel yang mendefinisikan sebuah generasi. Perjalanan untuk mencari makna dan pengalaman sejati. Kitab para pengelana bohemian. Salah satu prosa yang menjadi favorit Jim Morisson, John Lennon, dan Bob Dylan ini cocok untuk bersantai di mobil sambil diiringi Eric Clapton atau Ebiet G. Ade sekalipun.

 

Jemput Terbawa - Pinto Anugrah (Buku Mojok, 2018)

Sebuah novel debut dari penulis asal Sumatera Barat, Pinto Anugrah. Setelah sebelumnya mendapatkan penghargaan dari Kemendikbud (2017) lewat  Lomba Penulisan Naskah Lakon Teater atas lakonnya Sarekat Djin. Novel bergaya karnival dan memiliki premis tentang kampung halaman ini cocok untuk menemani hari-hari yang lambat saat libur lebaran.

Novel ini memiliki struktur empat cerita secara paralel dan saling tumpang tindih secara silih berganti. Tentang mudik yang nasibnya tidak seindah harapan, tentang sejarah PRRI yang rumit dan kelam, tentang hal-hal yang banal dan adat istiadat serta tentang kehidupan yang penuh teka-teki. Mau dibawa ke mana nasib manusia? Mau dibawa ke mana cerita ini? Jawabnya bisa saja: “kisah orang kami kabarkan, dusta orang kami tidak ikut serta!”

 

Tiba Sebelum Berangkat - Faisal Oddang (Kepustakaan Populer Gramedia, 2018)

Novel yang berasal dari sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta ini bercerita lugas soal budaya di Sulawesi Selatan dan dialektikanya. Memiliki titik pijak dan premis pada seorang Bissu (Pendeta dari Bugis) tokoh yang pada dasarnya terbelah secara gender, orientasi seksual, dan orientasi sosial. Tokoh Bissu digambarkan secara nestapa: ditangkap, disekap di tempat tersembunyi lalu lidahnya dipotong.

Gore yang manis dengan kayanya perbendaharaan kata dari Sulawesi. Jika kita biasa membaca karya sastra dari dimensi dan regional Jawa, maka novel ini bisa menjadi alternatif. Kita bisa melihat lokalitas dengan dimensi lintas batas. Direkomendasikan untuk mengenal sejarah bangsa Indonesia dari sudut pandang fiksi: memperluas cakrawala dengan berbagai konflik di dalamnya.

 

Buku Panduan Matematika Terapan – Triskaidekaman (Gramedia Pustaka Utama, 2018)

"Batas itu ada gunanya. Keterbatasanmu pun ada gunanya. Nanti, kamu akan paham." (hlm. 232). Tapi jelas, novel ini tidak memberi batas akan penafsiran. Buku Panduan Matematika Terapan (atau BPMT) karya Triskaidekaman adalah juara pertama Unnes International Novel Writing Contest 2017. Sebuah terobosan di lingkup sastra Indonesia, lewat perpaduan aksara dan angka.

Seno Gumira Ajidarma pernah mengatakan di sebuah kesempatan soal tiga mitos sastra yang menjadi sebuah distorsi. Ketiga hal tersebut ialah sastra itu curhat, sastra ditulis dengan bahasa mendayu-dayu, dan sastra berisi rentetan petuah. Buku ini berhasil melanggar mitos tersebut dan jauh dari kepatuhan. Hal tersebut membuat Seno dan dewan juri lainnya kepincut. Lewat teknik dan isi yang berkelindan, membuat jembatan antara humaniora dan eksakta. Di era pascamodern, memang batas-batas tersebut telah lebur. Tidak ada dikotomi untuk menghakimi, tapi lebih kepada apresiasi dan selebrasi dari berbagai ragam disiplin ilmu pengetahuan.

 

Kura-Kura Berjanggut - Azhari Aiyub (baNANA, 2018)

Adakah yang lebih lega setelah berhasil merampungkan (menulis atau membaca) novel setebal 900-an halaman? Jawabnya tergantung untuk siapa pertanyaan itu diajukan. Setelah Arus Balik Pramoedya Ananta Toer dan Nagabumi Seno Gumira, nampaknya jarak itu (bila melihat dari jumlah halaman dan narasi besar yang diangkat) bisa dipangkas oleh penulis dari Aceh: Azhari Ayub.

Novel yang bisa digunakan sebagai bantal ini memiliki kompleksitas dan kedalaman cerita yang dapat menggetarkan mental siapa saja yang membaca. Seperti dalam kelebat sinopsisnya: berisi petualangan-petualangan menakjubkan yang melibatkan pertempuran di laut, muslihat di antara para pengkhianat, adu gajah sampai mati, agama yang memuja kerang, sampai sufi Hamzah Fansuri yang diperebutkan Tarekat Burung Pingai dan Pertapa 33 Tasbih sekaligus ditakuti Anak Haram Lamuri.

Setelah memikat lewat kumpulan ceritanya di Perempuan Pala, Azhari Aiyub mengembangkan cerpen “Hikayat Kura-kura Berjanggut” yang pernah diganjar sebagai salah satu dari 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 menjadi sebuah novel epik. Proses penulisan Kura-Kura Berjanggut dimulai pada tahun 2006 dan menghabiskan waktu dua belas tahun untuk meriset dan mempelajari sejarah maritim Indonesia dan membangun semesta cerita yang luas.

Sementara untuk istilah Kura-kura Berjanggut itu sendiri adalah perompak sekaligus pemburu/pembunuh yang hidup pada abad 15 silam. Jadi siapkah kalian untuk bertemu para perompak dan begundel yang bawel ini?

 

Perawi Rempah – Ahmad Yulden Erwin (Lampung Literature, 2018)

Setelah bergumul dengan nonfiksi dan prosa, maka kita kembali pada salah satu karya sastra tertua di muka bumi: puisi. ada tiga buku puisi baru yang ditulis oleh penulis asal Lampung. Beliau adalah Ahmad Yulden Erwin. Seorang yang aktif di berbagai milis dan grup sastra di Facebook. Ia kerapkali memberikan sebuah pengetahuan dan wawasan perihal puisi secara mendalam dan komprehensif. Lewat diskusi pada sebuah topik, hingga bergulir pada kritik sastra yang membangun secara kaidah kebahasaan dan teks itu sendiri: sintaksis, semantik, pragmatik dan dialektika di antaranya.

Tiga buku puisi tersebut telah terseleksi secara tematik, presisif, inovatif, dan penuh pertanggungjawaban secara licentia poetica dan kaidah serta logika kebahasaan. Tiga buku yang berisi 125 puisi itu berjudul: Perawi Tanpa Rumah (edisi revisi), Perawi Rempah, dan Hara Semua Kata.

Di antara ketiga buku tersebut, Sir Pentoel memilih Perawi Rempah secara selera pribadi. Perawi Rempah berisi 42 puisi dan disunting oleh Yulizar Fadli Lubay. Setiap buku memiliki daftar glosarium "kata, istilah, dan tokoh". Selain itu juga terdapat satu esai "ars poetica"  di dalamnya. Simak kutipan puisi berikut:

 

Tak ada yang perlu

 

diubah, kecuali letak piring, cawan beling, dan garpu makanmu

—gramofon Hindia: menyala. Bayang jendela mulai berdansa:

hanya tungkai hantu dan bangkai belalang, hanya tumit hantu

dan bangkai belalang, hanya negeri hantu dan bangkai belalang!

(Gramofon Hindia, hlm. 18)

Demikian rekomendasi dari Sir Pentoel. Bila tidak setuju dengan pilihan di atas, tentu saja dengan senang hati Sir Pentoel mendengarkan dan menyimaknya dalam-dalam. Silahkan berkomentar atau buat tulisan sendiri sesuai selera dan horizon pembacaan masing-masing.

 

Ke pantai main pasir

sambil makan ikan asin.

Selamat berlibur  

mohon maaf lahir dan batin.  (penakota-glp/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Tirto Adhi Soerjo; Selayang Pandang Bingkai Sang Pemula
Berbicara dengan Orang Asing [Paul Auster]