Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Film Laut Bercerita: Lagi-lagi Romansa Sejarah dan Manajemen Ketakutan

oleh Riyadijoko Prastiyo

Kurangnya kekuatan pendekatan psikologis dalam Laut Bercerita, membuat film tersebut terasa begitu hitam-putih

Penakota - Terlalu dini saya tiba di Kios Ojo Keos, Jakarta Selatan, Rabu (26/9). Adzan Magrib masih tinggal menunggu menit, sementara pemutaran dan diskusi film Laut Bercerita (2017) baru akan dimulai satu jam ke depan.

Saya datang memang tanpa rencana, hanya sekadar mampir. Mengingat konten novel Laut Bercerita menyoal pergerakan mahasiswa di zaman Orde Baru (Orba), dan saya pun belum sempat membacanya, menonton filmnya terlebih dulu mungkin akan memberikan saya beberapa gambaran. Lagipula, saya lebih terbiasa dengan konsep membaca novel seperti itu: mendahulukan filmnya.

Sambil menunggu, saya teringat dengan line up pembicara. Ada nama seorang aktivis dan seorang perwakilan dari KontraS hari itu. Sambil berbasa-basi dengan beberapa pengunjung yang juga menunggu, saya terbayang akan disksusi ke depannya. Pasti menyoal pergerakan di zaman Orba.

Saya pun memfokuskan memori saya seputar itu. Saya tak mau ketinggalan pada sesi diskusi, karena beberapa tahun terakhir saya telah melakukan riset seputar pergerakan aktivisme politik dan kebudayaan di masa-masa rezim Soeharto tersebut. Diskusi ini dapat dikatakan sebagai momentum mendapatkan sejumlah perspektif lain. Syukur-syukur, kalau saya bisa berbagi juga.

Acara yang saya hadiri ini bertajuk Ngaso Malam Kamis. Waktu itu sudah terhitung malam yang ke empat. Acara ini diadakan memang khusus untuk membicarakan soal Aksi Kamisan.

Tajuk acara tersebut merupakan singkatan dari Ngobrolin Aksi Kamisan Sore di Malam Kamis. Setidaknya, itulah info yang saya dapatkan dari pemandu acara. Setelah memperkenalkan maksud dan tujuan, acara pun dimulai. Hadirin dimohon untuk tidak merekam behind the scene maupun film yang akan diputar.

Terkesan Hitam-putih

Film Laut Bercerita ini berdurasi 30 menit. Film ini dibuka dengan adegan keluarga Biru Laut yang sedang menyantap hidangan makan besar. Ayushita, artis yang berperan sebagai Asmara Jati, seorang adik Laut, memperingatkan kakaknya yang seorang aktivis pergerakan tentang bahaya mendiskusikan buku-buku terlarang. Novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer tak luput sorotan layar dan membuat suasana makan saat itu pun kikuk.

Sayangnya, suasana kikuk di saat adegan makan itu membuat saya merasakan hal yang sama hingga bagian akhir. Hampir keseluruhan lakon yang disuguhkan begitu terasa wagu. Padahal, film ini dibintangi sederet pemeran layar lebar ternama.

Saya baru merasa terenyuh saat Aryani Willems, yang berperan sebagai ibu dari Biru Laut itu, menangis di pelukan Dian Sastrowardoyo yang memerankan Ratih Anjani, kekasih Laut. Film ini mengingatkan saya pada film Istirahatlah Kata-kata (2017). Peran aktivis pergerakan demokrasi dan kemanusiaan, sebagai pelarian dari kebuasan alat-alat negara masih digambarkan begitu menyerah dan nerimo.

Ihwal yang membedakan, dalam biopic yang berkisah tentang buronan bernama Wiji Thukul tersebut, tak ada sedikit pun penyiksaan macam yang dialami Biru Laut. Apalagi dalam film yang satu itu, Wiji digambarkan ujug-ujug buron. Poin ini membuat beberapa penonton yang tak memahami sejarah, sulit untuk memahami pesan yang disampaikan.

Istirahatlah Kata-kata memiliki kelebihan di pendalaman psikologis, satu hal yang kurang dari Laut Bercerita. Adegan pemukulan-pemukulan yang dialami Laut terasa kurang natural.

Kurangnya kekuatan pendekatan psikologis dalam Laut Bercerita, membuat film tersebut terasa begitu hitam-putih. Ujug-ujug buron, ujug-ujug depresi. Kurang kuatnya alasan dari suatu peristiwa, adalah salah satu hal yang saya sayangkan dari beberapa karya bernuansa sejarah akhir-akhir ini.

Mestinya Bukan Sekadar Menolak Lupa 

Selepas pemutaran, moderator dan narasumber bergegas ke depan, menduduki bangku yang disediakan. Mbak Efi, yang bertugas sebagai moderator, memperkenalkan Dimas Bagus Arya (KontraS) dan Mbak Lilik HS (Aktivis ’98).

Usut punya usut, ternyata Dimas adalah seorang pemuda kelahiran 1992, sama dengan Efi. Mbak Lilik yang lebih berumur, berkelakar dengan mengidentifikasikan dirinya dan kawan-kawannya yang hadir, sebagai golongan minoritas di tengah milenial.

Sesi diskusi pun dimulai. Mbak Lilik bercerita panjang lebar tentang pengalamannya bersama beberapa aktivis pergerakan ’98. Mbak Lilik terus menekankan betapa mahalnya demokrasi yang dinikmati generasi sekarang.

Tak hanya seputar pergerakan ’98, Mbak Lilik juga menyinggung kesewenangan Orde Baru di seputar 1965. Bahkan ia juga membeberkan pandangan politiknya. Ia begitu menggebu menyatakan mendukung rezim sekarang, dan menggantungkan harapan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menuntaskan kasus pelanggaran HAM, meskipun beberapa purnawirawan yang terlibat berada di belakang rezim sekarang, dan tak mau memilih penculik menjadi Presiden.

Waktu telah menunjukkan pukul 20:50 WIB. Waktu yang disediakan semakin mepet. Tibalah saya mendapat giliran. Saya memperkenalkan diri sebagai cucu dari kakek seorang Algojo 1965, penandu Jenderal Soedirman.

Bagai tersambar Intel ABRI di Ojo Keos, hadirin seketika menyimak. Saya menceritakan bahwa film tersebut mengingatkan saya dengan seorang aktivis angkatan 1987 bernama Bambang Isti Nugroho, salah satu dari tiga aktivis yang tertangkap akibat diskusi karya Pramoedya Ananta Toer. Bagaimana aktivis yang sering terlihat di Guntur 49 itu, dengan gayengnya menceritakan pengalamannya digebuki Kopassus. Bahkan tak jarang terlihat ngobrol dengan anggota Polisi Militer, yang notebene markasnya berdekatan dengan tempatnya berkumpul itu. Ada realitas yang tidak sehitam-putih narasi sejarah dalam buku dan perfilman, di sana.

Menjelang penutupan, Mbak Lilik dan seorang kawannya yang juga aktivis ‘98 lanjut menceritakan pengalamannya seputar detik-detik penghilangan paksa ‘98 itu. Begitu menggebu dan dramatisnya mereka menggambarkan lagi suka-duka menghadapi represi aparat. Mbak Lilik dan seorang kawannya tersebut juga membahas Laut Bercerita dalam novel yang dikarang Lelila S. Chudori. Ia menilai banyak sekali gambaran penindasan yang membuat mereka ngilu mengingatnya.

Kendati demikian, ia tak mempermasalahkan penggambaran romansa yang disuguhkan di dalamnya yang terkesan nge-pop. Ia menilai, itulah bumbu agar milenial mau membaca.

Popularisasi nampaknya masih menjadi alasan untuk menjadikan romansa sebagai daya tarik. Jumlah kesadaran masih terus dikejar. Padahal, bagi saya yang diperlukan sekarang bukan hanya membangkitkan jumlah kesadaran dan terus mengampanyekan slogan ‘Menolak Lupa’.

Bukan sekadar kesadaran yang membela korban, tapi juga kesadaran bagaimana menyelesaikan kejahatan kemanusiaan secara lebih adil. Bukan sekadar kesadaran dengan manajemen ketakutan terhadap alat negara, tapi dengan keberanian mengahadapi dan bersatu menyelesaikan kejahatan kemanusiaan itu, dengan pihak lawan sekalipun.

Jika generasi terdahulu teralu asyik bernostalgia masa lalu dan menakut-nakuti dengan gambaran yang serba hitam-putih, maka selama itu juga kita akan terus menyaksikan anak-anak muda macam pengunjung Aksi Kamisan – yang mau nonton Efek Rumah Kaca, cuma buat bernyanyi lalu pulang.

Film, prosa, puisi, musik dan segudang produk kebudayaan lainnya mestinya menggetarkan dan menggerakkan. Bukan cuma mempopularkan.

(Penakota-rdp/fdm)

Bagikan

Ngobrol yuk!

Tiba Sebelum Berangkat: Catatan Ringkas
Berburu Ruang Digital bagi Sastra Daerah