Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Emile Zola dan Palagan Melawan Ketimpangan

Novelis (Perancis)

Jumat 19 April 2019
175

Penakota.id – Polarisasi dan oposisi biner semakin menjadi kala setiap kubu merasa paling benar di antara kubu lainnya. Jauh sebelum di Indonesia, peristiwa itu telah terjadi di bumi Perancis. Adalah kasus Dreyfus. Kasus ini merupakan salah satu kasus besar yang terjadi di Perancis. Kasus ini menceritakan kisah tentang seorang perwira angkatan darat yang diasingkan seumur hidup ke sebuah pulau terpencil bernama Diable yang bertempat di Guyana, Perancis.

Hal itu terjadi akibat ia dicurigai sebagai seorang mata-mata Jerman. Meski hal ini belum sepenuhnya benar dan ada intrik politik di dalamnya, dengan diasingkannya Dreyfus, ada seorang tokoh yang melawan keputusan yang pemerintah ambil itu. Tokoh itu ialah Emile Zola. Ia  menolak dengan menulis sebuah surat terbuka berjudul J’Accuse! atas asas kebebasan berpendapat yang menjadi terkenal dan mendatangkan banyak simpatisan yang berpikiran serupa.

Dengan diterbitkannya J’Accuse!, orang-orang yang berpikiran sejalan dengan apa yang dipikirkan Zola secara tidak langsung tergabung dalam sebuah kelompok yang sering disebut sebagai Dreyfusards yang merupakan gerakan orang-orang yang menuntut keadilan dan pengembalian Dreyfus ke Perancis. Para Dreyfusards ini, dengan menolak keputusan hukum telah menentang dan memunculkan adanya kelompok kepentingan negara (raison d’Etat) yang membuat dua kelompok ini bergejolak dalam bedanya pemikiran.

Namun, pergejolakan ini berakhir dengan kemenangan para Dreyfusards dan kembalinya Dreyfus ke angkatan darat Perancis. Seseorang yang berperan penting dalam perjalanan kasus Dreyfus ini salah satunya adalah Zola. Jika Zola tidak menerbitkan surat terbukanya pada saat itu di surat kabar L’Aurore, diramalkan Dreyfus tidak akan pernah kembali ke Perancis dan akan menghabiskan seluruh hayatnya di Pulau Diable.

Zola sendiri merupakan novelis yang amat terkenal dari Perancis medio 1877. Namanya harum lantaran karya pertamanya masif membumi yakni, The Drunkard. Ia merupakan seorang penggemar besar karya-karya Victor Hugo dan Musset, dan merupakan anak dari Francois Zola, seseorang yang aktif berperan sebagai insinyur.

Zola besar di Aix-en-Provence, bagian selatan Perancis dan beralih ke Paris saat ayahnya meninggal. Ia memiliki seorang istri yang bernama Gabrielle-Alexandrine Meley dan tidak dikaruniai anak. Zola memulai kariernya sebagai seorang anggota divisi penelitian di sebuah penerbit yang bernama Hacchete. Namun, dengan kerja keras pekerjaan yang dilakukannya di Hacchete, Emile Zola naik dari gelar peneliti menjadi seorang kepala divisi di bagian pelayananan iklan.

 Autokritik dan Kontroversi Perancis

Berusaha bangkit dari kehidupan setelah kepergian ayahnya, Emile Zola tidak hanya menjadi seorang pekerja. Setelah beberapa tahun, pada tahun 1866, ia keluar dari Hacchete dan mulai aktif dalam bidang kepenulisan yang mana membuat namanya mulai naik ke khalayak umum. Tak dipungkiri lagi, dari banyaknya karya yang ia ciptakan, ia memberikan pengaruh yang begitu kuat di zamannya dan di negaranya. Meski ada hal-hal yang kontroversial, tetapi sesungguhnya itu adalah sebuah autokritik untuk dirinya juga untuk bangsanya.

Pemikiran Zola bisa dikatakan kritis dan romantis—menyatukan unsur keduanya. Zola menerbitkan banyak buku yang dikenal menyindir kepemerintahan yang sedang berjalan kala itu—kritis serta juga tidak lupa menghadirkan kesan romantis dari buku itu sendiri—walaupun terkadang kisah romantis yang tertulis merupakan sisi romantis yang gelap. Tidak aneh memang, karena selama hidupnya, Zola acap kali menghadiri acara pertemuan dan diskusi bersama kaum-kaum intelektual atau kaum liberal sehingga hal tersebut membawanya mendapatkan pemikiran demikian.

Salah satu karya populernya yang mengupas sisi romantis gelap/ dark romantic misalnya Therese Raquin. Pada karyanya tersebut, Zola seolah ingin menggambarkan sebuah kisah dark romantic yang membuat pembaca menggelengkan kepala akan peristiwa yang terjadi. Therese Raquin menggambarkan tentang seorang wanita yang tidak banyak mengandalkan emosi saat merasakan jatuh cinta. Karya ini cukup banyak dikritik atas dasar moralitas, namun di balik gelapnya karya tersebut, terdapat banyak pesan tersirat yang tidak banyak diketahui orang tentang moral manusia dan bagaimana rasa cinta, egoisme serta amarah dapat merubah jati diri seseorang.

Therese Raquin bercerita tentang Therese yang dititipkan kepada Mme Raquin yang malah berujung pernikahan antara Therese dan anak dari Mme Raquin, Camille. Therese yang tidak merasakan adanya hubungan yang selayaknya terjalin antara ia dan suaminya membuat Therese hidup tanpa menampakkan banyak emosi. Namun, kehidupan Therese berubah saat Laurent—teman lama dari suaminya datang dan mengubah diri Therese. Konflik besar terjadi dalam buku ini. Bukan sekadar konflik tentang perselingkuhan biasa di mana ada satu pihak yang diperebutkan, namun penuh dengan pesan-pesan gelap seperti kebohongan besar serta pembunuhan berencana yang dapat dikatakan sadis.

Therese Raquin dapat memberikan pembalikan kenyataan di mana orang yang terlihat baik dan tidak begitu peduli dengan jalannya kehidupan dapat berubah menjadi seseorang yang immoral dan mengutamakan cinta akan segalanya dalam sekejap mata. Zola sebagai pencipta, terlihat sebagai seseorang yang peduli pada kejadian sosialis dengan diterbitkannya buku ini. Namun tidak, Zola hanya mengangkat sedikit sisi manusia yang tidak banyak disadari.

 

Baca juga: Edward Hallett Carr, Meramal dengan Realisme

 

Selain Therese Raquin, karyanya yang berjudul Germinal juga mengangkat permasalahan Perancis pada saat itu. Germinal menceritakan tentang pemberontakan kaum buruh tambang terhadap para kaum borjuis. karyanya ini dinilai mengangkat sejarah yang terjadi pada masa hidup Zola. Buku yang pernah diangkat ke dalam film tahun 1993 dengan judul yang sama ini, menggambarkan tentang pekerja kelas bawah yang menginginkan kestabilan ekonomi dan upah yang sesuai untuk pekerjaan mereka. Germinal diawali dengan sebuah konflik ‘coba-coba’ namun berakhir kepada malapetaka untuk banyak pihak. Buku ini mengajarkan pembaca sebagai manusia memikirkan sebab akibat dari egoisme individualis.

Hal yang tidak kalah menarik dari penulis penuh kontroversi ini, pada tahun 1898, Zola melarikan diri dari Perancis menuju Inggris. Ia melarikan diri untuk menghindari dakwaan bersalahnya atas fitnah perlawanan untuk tentara Perancis. Ia kembali ke Perancis setelah limit dakwaannya berakhir dan kembali merilis buku untuk di publikasikan. Sebuah perjalanan hidup yang sangatlah ekstrem tapi dinikmati oleh penulis kebangsaan Perancis itu.

Zola sendiri meninggal dunia di usia 62 tahun pada 29 September 1902. Kematiannya menghasilkan banyak pertanyaan bagi orang-orang. Pasalnya, saat itu Zola dan istrinya beranjak untuk tidur dengan menyalakan api penghangat untuk menghangatkan diri mereka. Namun lama kelamaan mereka merasa keadaan terasa aneh dan hingga pada keesokan harinya, ia ditemukan oleh pembantunya telah meninggal di atas lantai dan sang istri—Alexandrine ditemukan tidak sadarkan diri di atas tempat tidur.

Banyak orang mengatakan bahwa kematian Zola adalah atas pembersihan perapian kurang yang menyebabkan kematian karena gas karbon monoksida. Namun banyak juga yang menarik kesimpulan bahwa kematian Zola adalah akibat orang-orang yang melawannya—atau bisa dikatakan musuh pada kasus Dreyfus. Walaupun hingga kini kemungkinan tersebut masih sebatas konspirasi.

Kematian Zola agaknya akan tetap menjadi sebuah misteri yang sulit dipecahkan. Dan perjuangannya di palagan ketimpangan terus berlanjut lewat pemikiran-pemikirannya yang dipelajari para intelektual dunia.

 

Editor: Destriyadi Imam Nuryaddin

Bagikan Profil Tokoh

Pilih salah satu pilihan dibawah