Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Mahmoud Salem Darwish, Tanamkan Perlawanan Lewat Puisi

Penyair (Palestina)

Senin 06 Mei 2019
226

Penakota.id - Pada masa sejarah Palestina dan Israel di abad 19, selalu muncul peperangan dan pertumpahan darah manusia untuk mendapatkan lahan dan kekuasaan. Dalam perebutan lahan tempat tinggal, antara kaum Zionis dan Arab, terjadi peperangan senjata militer yang selalu menghias di media.

Imbasnya, korban-korban Palestina yang berdarah, meninggal, hingga hidup tak pernah merasa tentram seperti di negara-negara lain. Hal itu dimulai dari tahun-tahun zaman Nabi, ketika Israel tak memiliki tempat tinggal.

Sebagaimana melihat negara tersebut pecah dengan pertumpahan darah, Palestina ingin merdeka dan berdaulat penuh seperti negara lain. Dan rumor yang selalu terdengar, bila Palestina dan Israel damai, akan terjadi kiamat atau hari akhir setelahnya. Apakah menunda kiamat harus dengan terus menumpahkan darah manusia dari warga Palestina sendiri?

Pada masa peperangan Palestina dan Israel yang telah berlangsung lama ini, telah banyak pahlawan lahir, seseorang yang muncul atas nama kemerdekaan dan kesejahteraan. Salah satunya ialah penyair Mahmoud Salem Darwish. Dapat dikatakan ia adalah seorang pahlawan yang membangkitkan Palestina dari tidur panjang.

Darwish lahir di al-Birwah, sebuah perkampungan di distrik kota Galilee bagian barat Palestina. Ia berasal dari keluarga petani. Ayahnya seorang petani yang serba berkecukupan; ibunya yang tunaaksara, seorang anak dari kepala daerah di perkampungan al-Damun.

Setelah pendudukan Israel di tanah Palestina yang meluluhlantakkan perkampungnnya, ia dan keluarganya pundah ke Lebanon. Di tengah kesibukannya, Darwish mulai menerbitkan karya tulisnya ke surat kabar berbahasa Arab di sana, dan bekerja paruh waktu di surat kabar Al-Ittihad dan majalah Al-Jadid (keduanya merupakan organ bawahan Partai Komunis Israel).

Darwish dikenang di seluruh dunia sebagai seorang penyair yang menyuarakan nasib bangsa Palestina. Ia memiliki capaian pada sebuah estetika yang tinggi terhadap puisi yang ditulisnya. Pada setiap hidupnya, ia melukis pemikiran dan perlawanan dirinya lewat sebuah puisi. Dalam puisi-puisi Darwish, terdapat sisipan pesan humanisme dan perlawanan untuk melawan Israel yang sewenang-wenang menindas warga Palestina.

Di antara waktu dan hidupnya yang penuh penderitaan dan pertumpahan darah serta penindasan,  karya puisi Darwish yang menyisipkan perlawanan, salah satunya yang paling terkenal berjudul I Have Witnessed the Massacre, yang diterbitkan di Beirut tahun 1977. Dengan bunyi:

Aku menjadi saksi pembantaian. Aku seorang korban dari peta buatan

Aku anak lelaki dari kata-kata tanpa hiasan. Aku melihat koral berterbangan

Aku melihat embun berubah jadi bom berjatuhan. Ketika mereka menutup pintu-pintu hatiku

Memasang barikade dan menetapkan jam malam. Hatiku berubah menjadi lembah

Sulbiku menjelma batu. Dan bunga-bunga anyelir tumbuh. Dan kembang-kembang anyelir mekar.

 

Baca juga: Emile Zola dan Palagan Melawan Ketimpangan 

 

Jeruji Penjara Serta Kisah Cintanya

Beberapa kali Darwish ditangkap dan dipenjarakan karena tuduhan kegiatan perlawanan terhadap Israel. Hal tersebut dikarenakan puisi-puisinya yang dianggap mengancam dan kerap menimbulkan semangat bagi masyarakat Palestina.

Pertama pada 1961 di Haifa dan kedua pada 1965, sewaktu ia dijebloskan di sel tahanan Ramla, lantaran  ia melakukan perjalanan dari Haifa ke Jerusalem (untuk ambil bagian di sebuah acara malam puisi, yang diselenggarakan mahasiswa Arab di Universitas Hebrew di Jerusalem) tanpa melaporkan izin terlebih dahulu kepada pihak keamanan Israel.

Keindahan puisi-puisinya juga tak sebanding dengan kisah cintanya. Diketahui Darwish telah menikah dua kali dan bercerai dua kali. Dengan dua mantan istrinya yang bernama Rana Kabbani, seorang penulis, lalu pertengahan tahun 1980 menikah kembali dengan Hayat Heeni.

Pada masa-masa awal kepenyairannya, Darwish kerap menyematkan napas “romantik” yang menyuarakan hakikat manusia dan kegelapan kemanusiaan. Para kritikus mengatakan puisinya berada di dalam dialog antara perpusian klasik dan modern Arab, yang menyampaikan ragam penuh spontanitas. Atas meninggalnya, Darwish dimakamkan di Ramallah, puncak bukit yang menghadap Yerusallem pinggiran barat daya.

Di Indonesia, karya terakhirnya yang terbit berjudul Almon yang Mekar dan Hal-Hal Lainnya, diterjemahkan oleh Hamzah Muhammad dan diterbitkan oleh Penerbit Jual Buku Sastra Jogja. Buku terakhir ini menandakan sebagai napas terakhir sang penyair, yang juga melawan ketertindasan atas Israel.

Pada beberapa puisi inilah, yang menjadi mekar perlawanan rakyat Palestina untuk segera merdeka dari jajahan Israel. Dengan pesan terakhir: Selamat tinggal. Selamat tinggal puisi yang kesakitan.

Para kritikus mengibaratkan Mahmoud Darwish sebagai “multifarious”, yaitu seorang penyair yang berada dalam dialog antara perpuisian klasik dan modern Arab, lantaran kecakapannya memediasikan aneka ragam persoalan kehidupan ke dalam bentuk-bentuk pengucapan puitik, yang dipenuhi spontanitas.

Dalam sebuah wawancara, Darwish menyatakan, "Puisi bisa melawan dengan mengukuhkan keterikatannya pada kerentanan manusia seperti sehelai rumput yang tumbuh di tembok selagi tentara-tentara lewat.

 

Editor: Galeh Pramudianto

 

Bagikan Profil Tokoh

Pilih salah satu pilihan dibawah