Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Edward Hallett Carr, Meramal dengan Realisme

Sejarawan (Inggris)

Minggu 12 Mei 2019
225

Penakota.id — Dunia mengenang Perang Dunia I sebagai salah satu perang yang paling mengerikan dalam sejarah. Sebagai perang pertama yang terjadi pada era Revolusi Industri, muncul berbagai jenis senjata baru yang tak pernah ada sebelumnya. Wilayah koloni dilibatkan dan daerah kota diserang, dua peradaban adidaya yakni Kekaisaran Austria-Hongaria dan Kekaisaran Ottoman runtuh.

Sebanyak 21 juta korban terluka dan 20 juta korban jiwa dalam perang tersebut, separuhnya merupakan nonkombatan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Liga Bangsa-Bangsa (LBB) agar tragedi serupa tidak terulang. Kendati demikian, pada kenyataannya, Perang Dunia II masih saja pecah dan hal itu menjadi sesuatu yang sudah diramalkan oleh sejarawan sekaligus pemikir realisme terkemuka, Edward Hallett Carr.

Ia merupakan pria kelahiran London, 28 Juni 1892. Carr dikenal sebagai anak yang sangat kritis, bahkan ia pernah menerima beasiswa dalam studinya tentang kesusasteraan kuno (classics) di Trinity College, Cambridge. Walaupun sempat memiliki cita-cita untuk dapat berpartisipasi dalam kerja militer, karena alasan kesehatan pada akhirnya ia tidak mampu dan bekerja di Kantor Luar Negeri (The Foreign and Commonwealth Office atau FCO) sebagai juru tulis.

Kecerdasan yang dimiliki Carr pada akhirnya membawa ia naik sebagai salah satu perwakilan resmi Britania untuk konferensi perdamaian di Paris. Menjadi ahli dalam studi tentang Rusia, ia dianugerahi gelar Commander of the Most Excellent Order of the British Empire (CBE). Untuk beberapa waktu, Carr menetap di Riga dan semakin fokus memperdalam ilmunya tentang Rusia.

Medio 1936, Carr diangkat oleh Thomas Woodrow Wilson (Presiden Amerika Serikat ke-28) menjadi Chair of International Politics keempat di University College of Wales, Aberystwyth. Pada periode jabatannya sebagai Chair of International Politics, Carr menerbitkan sebuah buku berjudul The Twenty Years’ Crisis 1919-1939: An Introduction to the Study of International Relations (1939).

Buku ini menjadi terkenal karena dianggap sebagai kritik terhadap LBB—sebuah intitusi yang saat itu digadang-gadang sebagai solusi terhadap segala konflik internasional. Carr menuding liberalisme sebagai konsep yang utopis. Menurutnya, mereka hanya berfokus pada visi tanpa rencana eksekusi yang mendetail. Ia juga merujuk secara khusus pada tanggapan Woodrow Wilson tentang perkiraan keberhasilan realisasi LBBIf it doesn’t work, it has to work!

Pada buku yang sama, Carr secara gamblang menyatakan bahwa respons tersebut menunjukkan bahwa mereka yang pro-LBB sendiri menyadari bahwa, walaupun utopis, realisasi ini tidak boleh tidak berhasil. Kegagalan akan berujung pada konsekuensi yang tak terbayangkan. Sebagai respons terhadap kegagalan yang diprediksinya, Carr mengusung realisme—salah satu paradigma tertua di dunia—sebagai solusi.

Ia menyebut realisme sebagai hasil dari kontemplasi manusia yang dibutakan utopia liberalisme untuk kembali ke dunia nyata. Walaupun identik dengan kritik dan kesinisan, realisme versi Carr menekankan pada pentingnya penerimaan fakta—karena merupakan sesuatu yang tak terhindarkan (inevitable).

 

Baca juga: Mahmoud Salem Darwish, Tanamkan Perlawanan Lewat Puisi

 

 Di waktu yang bersamaan, ia tidak menampik pentingnya utopia liberalisme dalam politik internasional. Utopia hendaknya dijadikan sebagai pedoman dengan realisme sebagai mediator fakta—menciptakan sebuah siklus paradigma. Aktor utama dari siklus ini adalah negara, yang harus menyejahterakan rakyatnya dengan bantuan warga internasional.

Tentu saja tidak semua orang dapat menerima pemikiran Carr. Pada sebuah jurnal yang berjudul “The Utopian Realism of E. H. Carr”Paul Howe pernah menuding teori Carr sebagai perpaduan konyol dari realisme—yang identik dengan pesimisme—dan impian yang kelewat utopis.

Menurutnya, realisme yang diusung Carr tak berbeda dari apa yang dikritiknya. Keduanya sama-sama merupakan utopia yang nyaris mustahil direalisasikan. Menyadari hal yang sama, Carr menulis Nationalism and After (1945) dan versi kedua dari The Twenty Years’ Crisis (1946). Namun, ia dianggap gagal memperjelas realismenya dan malah memberikan konsep yang berbeda.

Meskipun mengundang pro dan kontra, kedua sisi tentu mengharapkan hal yang sama: agar prediksi Carr akan kegagalan LBB tidak terwujud. Sayangnya, pada tahun 1939, Perang Dunia II pecah dan baru berakhir pada 1945. Melibatkan hampir 100 juta orang, korban diperkirakan mencapai 85 juta jiwa dan dinobatkan sebagai konflik paling mematikan sepanjang sejarah.

Prediksi Carr menjadi kenyataan dan LBB dianggap sebagai kegagalan liberalisme yang paling fatal. Kendati demikian, LBB tidak sepenuhnya tidak berguna. Institusi ini menjadi basis berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)organisasi serupa yang lebih terstruktur. PBB diharapkan tidak mengulang kegagalan LBB dan mencegah terwujudnya prediksi Carr untuk kedua kalinya.

 

Editor: Galeh Pramudianto

Bagikan Profil Tokoh

Pilih salah satu pilihan dibawah