Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Mark Twain, antara Juru Mudi dan Juru Tulis

Novelis (Amerika)

Selasa 21 Mei 2019
323

Penakota. idHuckleberry Finn mungkin saja sangat kaya berkat harta temuannya. Namun, kemudian seseorang ditemukan mati dan semua mengira itu adalah dirinya! Apa yang harus dia lakukan? Jika mengaku masih hidup, dia akan dikembalikan pada ayahnya yang kejam. Sebaliknya, nyawa Jim, pelarian budak yang setia menemaniya, benar-benar terancam jika Huckleberry terus bersembunyi (The Adventures of Huckleberry Finn, 1884).

Kiranya itulah sepintas cuplikan novel Amerika dengan judul The Adventures of Huckleberry Finn karya Samuel Langhorne Clemens atau lebih sering dikenal dengan nama Mark Twain. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1884 di Inggris, kemudian disusul pada tahun 1885 di Amerika.

Gubahan Twain ini agaknya juga telah memberi pengaruh besar terhadap fiksi Amerika modern pada saat itu. Bukan tanpa sebab, ia dianggap sebagai induk dari kembalinya peradaban fiksi Amerika. Hal itu dikuatkan oleh pernyataan novelis modern terkemuka asal negeri seorang penyuplai daging: Ernest Hemingway.

“Semua kesusatraan Amerika modern berasal dari satu buku karya Mark Twain, kita mengenalnya dengan Huckleberry Finn,” terang Hemingway medio 1935.

Dikatakan Hemingway, karya Twain sangat ciamik dan merupakan cikal bakal gaya penulisan sasta Amerika modern. Novel tersebut baginya merupakan karya terbaik yang pernah dimiliki oleh kesusastraan Amerika, kendati pasca itu banyak tulisan-tulisan yang buruk.

Agaknya kita boleh setuju dengan pendapat Hemingway itu. Pasalnya banyak pula kritikus-kritikus sastra kontemporer menyatakan, bahwa karya tersebut patut dijadikan acuan para penulis Amerika. Twain, dalam The Adventures of Huckleberry Finn berhasil mengemas tulisan sastra dengan balutan bahasa sehari-hari. Walau sedikit mengandung humor kurang sopan, akan tetapi karyanya dapat memberikan pesan mendalam terhadap pembacanya.

Karya Twain tidak jauh dengan kehidupan nyata, ia mengangkat seputar masalah kelas-kelas sosial dan rasialisme masyarakat Amerika. Selain itu dalam karyanya, Twain juga kerap membahas secara keseluruhan mengenai masyarakat Amerika secara khusus dan umum.

The Adventures of Huckleberry Finn mengandung fenomena sosial yang menceritakan kesenjangan antara kulit hitam dan putih, perbedaan budak dan majikan yang diakibatkan dari kemiskinan, kejahatan, penindasan dan kekerasan yang tersebar di mana-mana. Novel ini terkenal karena deskripsi penuh warna dari warga dan tempat di sepanjang Sungai Mississippi.

Berada di sebuah masyarakat sebelum perang selatan yang sudah tidak ada lagi sekitar 20 tahun sebelum karya itu diterbitkan, The Adventures of Huckleberry Finn merupakan sebuah sindiran pedas pada sikap yang mengakar di Amerika saat itu, terutama ihwal rasisme.

Selain populer di kalangan pembaca, The Adventures of Huckleberry Finn juga telah menjadi objek penelitian oleh para kritikus sastra sejak diterbitkan. Buku ini dikritik secara luas pada rilis karena penggunaannya yang luas dari bahasa kasar. Sepanjang abad ke-20, dan meskipun ada argumen bahwa protagonis dan tenor buku itu anti-rasis, kritik terhadap buku ini terus berlanjut karena penggunaan stereotip rasial yang dirasakan dan seringnya penggunaan cercaan ras, "Negro".

Adapun inspirasi yang melatarbelakangi terbitnya novel The Adventures of Huckleberry Finn adalah kehidupan masa kecil Twain sendiri. Ketika umur 9 tahun, Twain pernah melihat seseorang membunuh pengusaha. Sedangkan di usia 10 tahun, ia juga sempat menyaksikan seorang pekerja mati setelah pengusaha kulit putih memukulnya dengan tongkat baja.

Walaupun novel ini berpengaruh terhadap kesusastraan Amerika, novel ini sempat dilarang beredar karena bahasanya yang cukup banyak mengandung unsur rasis. Bahkan, sebuah perpustakaan umum di wilayah Concord, New Hampshire, Concord Public Library pernah mencekal peredaran novel ini lantaran novel Twain dinilai lebih cocok untuk masyarakat di daerah kumuh daripada di perkotaan yang identik dengan kecerdasan. Namun, novel ini pernah masuk dalam daftar American Library Association’s ‘Most Frequently Challenged Books’.

Obsesi Menjadi Juru Mudi

Twain lahir dengan nama asli Samuel Langhorne Clemens. Ia lahir di Florida, Missouri, sebuah kota di tepian Sungai Mississippi (kelak menjadi model bagi kota fiksional St. Petersburg) pada bulan November 1839. Twain merupakan buah daging keenam dari pasangan John Claudens (ayah) dan Jane Lampton (ibu).

Menurut buku The Autobiography of Mark Twain yang disusun oleh Charles Neider pada tahun 2000, keluarga Twain sangatlah sederhana. Hal tersebut dapat ditinjau dari kehidupan mereka yang disebutkan oleh Twain tidak memiliki banyak barang di rumahnya dan sempat tinggal di wilayah pegunungan, tepatnya di daerah Jamestown.

Agaknya darah kepengarangan Twain sudah menurun dari kedua orangtuanya itu. Pasalnya Twain mengaku, kendati ayahnya berprofesi sebagai ahli hukum, ayahnya disebut sebagai juru tulis gagal. John sangat amat suka menulis. Begitu pun Jane, sastra telah menjadi kecintaannya yang teramat dalam hingga membunuh selera humornya dalam bersosial.

Sayangnya Twain hanya dapat mengenang John hingga ia berusia 12 tahun. Ayah kesayangannya itu meninggal karena penyakit  pneumonia yang dideritanya. Kemudian disusul oleh ibunya pada tahun 1890.

Twain kecil sebetulnya juga sempat menderita penyakit. Di usianya yang ke-5, kesehatan Twain amatlah buruk. Karena kesehatannya itu Twain sempat merasakan kesepian lantaran harus terus beristirahat di rumahnya. Sebelum pada akhirnya di usinya yang ke-9 dia kembali sehat dan dapat bermain lagi di luar bersama teman-temannya, lantas kemudian mulai mengenyam pendidikan di sekolah swasta di wilayah Hannibal.

 

Baca juga: Edward Hallett Carr, Meramal dengan Realisme

  

Nahas, pasca ayahnya meninggal ekonomi keluarganya menurun. Hal ini juga menyebabkan Twain pada akhirnya harus berhenti sekolah di usianya yang baru 13 tahun. Untuk meringankan beban keluarga, pada usia tersebut ia bersikeras untuk mencari pekerjaan.

Pada akhirnya, dua tahun lepas berhenti sekolah, jerih payahnya terbayar. Twain sempat bergabung menjadi seorang juru tulis di sebuah surat kabar, yakni Hannibal Journal medio 1851. Tulisan pertamanya terbit di sana. Di titik ini juga Twain mulai menikmati aktivitas menulis.

Kendati mulai menikmati dunia kepenulisan, Twain masih belum dapat melupakan keinginannya sejak kecil. Angan-angannya menjadi seorang juru mudi karena terbiasa hidup di pinggir sungai dan acap kali mendengar dentingan kapal uap selalu menjadi impiannya.

Akhirnya di usianya ke-17 ia nekat berhenti dari pekerjaannya sebagai juru tulis. Twain hijrah dari wilayah Hannibal untuk menggapai impiannya tersebut. Seolah gayung bersambut pada akhirnya ia dapat menjadi seorang pemandu sungai. Bahkan, medio 1859 ia mendapatkan lisensi yang absah pada profesi tersebut.

"Ketika aku muda, ada satu ambisiku yang juga menjadi ambisi teman-temanku, menjadi juru mudi kapal uap," akunya sebagaimana termaktub dalam Old Times on the Mississippi (1875).

Nama Mark Twain sendiri ia dapat ketika ia mengisi hari-harinya dengan profesi sebagai pemandu sungai. Istilah tersebut diambilnya dari sebuah kode yang sudah tidak asing lagi bagi Twain sejak kecil ketika hidup tepi sungai, yaitu sebuah kode yang menandakan kedalaman yang aman untuk dilalui kapal. Itulah arti dari istilah Mark Twain.

Jurnalis Terkemuka

Medio 1861 perang sipil di Amerika bergejolak. Perekonomian dan aktivitas sungai menjadi sepi. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi Twain untuk tidak meneruskan profesinya sebagai pemandu sungai.

Ia sempat bergabung dengan milisi Konfederasi selama dua minggu. Pengalamannya dalam perang sempat dituangkannya dalam karyanya The Private History of a Campaign that Failed (1885). Namun, karena ia muak dengan perang, ia hijrah ke Nevada mengikuti kakanya, Orion yang pada saat itu menjabat sebagai sekretaris gubernur Teritori Nevada.

Di wilayah itu, Twain sempat menjadi seorang penambang. Akan tetapi lantaran ia tidak berbakat, pada akhirnya ia gagal dan memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis di koran Virgina City. Di sinilah pertama kali nama Mark Twain ia gunakan sebagai nama pena.

Seiring berjalannya waktu, nama Mark Twain mulai dikenal banyak orang. Twain sendiri menjadi seorang jurnalis yang cukup disegani dan kerap berpindah kerja di surat kabar terkemuka yang ada di Amerika.

Medio 1870, Twain menikah dengan seorang wanita bernama Olivia Langdon. Dari hasil pernikahannya tersebut, mereka memiliki empat anak. Satu di antaranya meninggal saat masih bayi, dan dua yang meninggal di usia dua puluhan.

Kemudian, disusul dengan meninggalnya satu lagi putrinya. Lebih lanjut, cucunya (putri Clara) juga meninggal sehingga membuat Twain, hingga akhir hayatnya tidak memiliki keturunan.

Untuk diketahui, ketenaran Twain sendiri ia dapat saat karyanya, The Jumping Frog Celebrated Calavaras County beredar di New York pada tanggal 18 November 1865. Sementara buku pertama Twain, The Innocents Abroad diterbitkan pada tahun 1869.

Disusul dengan The Adventures of Tom Sawyer (1876), hingga karya terpopulernya, The Adventures of Huckleberry Finn (1885). Terhitung, hingga Twain meninggal dunia pada tanggal 21 April 1910, ia sudah menulis 28 buku dan berbagai cerita pendek, surat dan sketsa.

Tidak hanya dikenal sebagai penulis, Twain juga dikenal sebagai seorang pengusaha, juragan penerbitan dan seorang pengajar atau dosen.

 

Editor: Fadli Mubarok

Bagikan Profil Tokoh

Pilih salah satu pilihan dibawah