Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Radha Sarisha, Komunitas Tari FISIP UI Siap Harumkan Negeri

Komunitas Seni Tari

Depok, Jawa Barat, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Indonesia.

Penakota.id — Banyak orang berpendapat, anak-anak kiwari jauh daripada seni. Budaya yang semakin global dan pola pikir hedonisme perlahan mengikis dunia kesenian di tengah kehidupan mereka. Mengguritanya mall, kafe-kafe, dan sebagainya turut andil akan fenomena tersebut.

 

Tak terkecuali untuk seni tari. Kesenian gerak tubuh ini dianggap telah dijauhi oleh generasi muda seiring dengan perkembangan zaman dan wacana pengetahuan tentang seni tari yang kian melemah. Apalagi untuk ukuran seni tari tradisional.

 

Akan tetapi, nampaknya praduga ini tidak berlaku bagi semua anak-anak muda. Pasalnya masih ada anak-anak muda yang memang mendalami seni tari sebagai gaya hidup mereka. Masih banyak anak-anak muda yang menyukai dan ingin belajar seni tari.

 

Hal ini dapat kita lihat dari sekumpulan anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas seni tari yang lahir dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Komunitas tersebut memiliki nama Radha Sarisha.

 

Radha Sarisha didirikan oleh mahasiswa FISIP UI. Berawal dari komunitas yang digagas oleh beberapa mahasiswa FISIP UI, kini Radha Sarisha telah resmi menjadi Badan Semi Otonom (BSO) atau organisasi kehamasiswaan fakultas tersebut.

 

“Awalnya kami itu komunitas, namanya Komunitas Tari FISIP (KTF). Saya tidak tahu tepatnya komunitas ini berdiri, yang jelas pada akhirnya kami berganti nama pasca tampil dalam acara UI Art War (UAR) 2015,” ungkap Ketua Radha Sarisha 2019, Siti Alvia Hidayat, Selasa (30/4).

 

UIAW sendiri adalah kompetisi seni antar fakultas UI. Bersamaan dengan penamaan tersebut, KTF mulai secara resmi terbagi dalam tiga bidang—tari tradisional, tari modern, dan musik tradisional. Selain itu, pasca acara tersebut Radha Sarisha juga resmi menjadi BSO.

 

Dikatakan wanita yang akrab disapa Lavi ini, seiring berkembangnya waktu, Radha Sarisha bukan hanya dikenal di ruang lingkup kampus, namun hingga di luar kampus. Mereka mulai unjuk gigi dan mendapat job yang cukup banyak.

 

Menurut Lavi, Radha Sarisha aktif dan kerap melakukan latihan reguler setiap hari Kamis. Biasanya agenda dimulai dengan pemanasan bersama, dilanjutkan dengan latihan per bidang masing-masing secara terpisah—tari tradisional, tari modern, dan musik tradisional.

 

Apabila hendak mempelajari gerakan atau lagu baru, pelatih akan diundang untuk mengajar. Apabila hanya hendak mengulang apa yang dahulu pernah ditampilkan, lanjutnya, maka Radha Sarisha akan berlatih secara mandiri dengan supervisi kakak tingkat yang lebih mahir.

 

“Biasanya kami selalu menutup latihan dengan running, yakni menampilkan hasil latihan di depan teman-teman dari bidang lain,” papar Lavi.

 

Tentu perjalanan Radha Sarisha tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan dihadapi dalam dinamikanya. Sebagai contoh pada “Misi Budaya”. “Misi Budaya” merupakan salah satu program terbesar yang dihadapi Radha Sarisha setiap dua tahun—atau, baru-baru ini, setahun—sekali.

 

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya tradisional Indonesia, baik seni tari maupun seni musiknya ke kancah internasional. "Sudah pernah ke Turki dan Bulgaria misalnya," ungkapnya.

 

Dalam mempersiapkan hal ini, Lavi mengaku, banyak tantangan yang dihadapi oleh Radha Sarisha, khususnya ihwal sumber daya manusia (SDM). Minat mahasiswa terhadap komunitas ini juga entah mengapa berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terlebih lagi dari mahasiswa putra. 

 

Selain itu budaya kerja Radha Sarisha pada masa ini juga telah sangat berubah. Padahal Lavi merasa, ketika ia masih menjadi mahasiswa baru (maba), rasa memiliki terhadap komunitas ini sangatlah tinggi.

 

Tak hanya itu, pendanaan yang besar juga drasa menjadi sumber tantangan—untuk transportasi, makan, hingga kostum untuk sekian banyak anggota—dan hal ini sukar dicapai. “Dan karena ‘Misi Budaya’ menguras perhatian banget, anak (tari) modern suka ‘ngerasa dianaktiriin. Tapi ya mau gimana lagi? Emang jalurnya udah beda,” lanjutnya.

 

 

Baca juga: Komunitas Bersajak, Wahana untuk Kembangkan Kualitas Menulis

 

 

Lebih lanjut, Lavi menjelaskan, Radha Sarisha tidak hanya mengajarkan untuk mahasiswa menari. Lebih dari itu, komunitas ini juga kerap membimbing mahasiswa untuk berlatih music. Lavi memaparkan, ada banyak sekali hal-hal dalam aktivitas mereka sehari-hari yang dapat diserap demi pengembangan diri. Oleh sebab itu, Lavi berniat untuk mengubah sistem pendaftaran yang ada pada kepemimpinannya.

 

“Tidak lagi setiap orang memilih di awal—tari tradisional, tari modern, atau musik tradisional—melainkan membiarkan setiap orang mencoba semua bidang yang ada,” ujarnya.

 

Hal ini dilakukan dengan harapan agar minat mahasiswa terhadap Radha Sarisha kembali menemukan semangatnya semula. Selain itu, Lavi juga berharap agar bidang tari modern tak lagi merasa dianaktirikan.

 

Rebranding menjadi salah satu langkah krusial agar tari modern dapat diterima oleh semua kalangan dengan menekankan sisi seni kontemporer. “Bukan yang seksi-seksi gitu,” pungkas Lavi sambil tersenyum.

 

Harapan yang tak kalah penting adalah adanya “donatur tetap”. Pasalnya untuk mengembangkan lebih baik lagi Radha Sarisha, ia tidak memungkiri modal sangatlah dibutuhkan.

 

Untuk diketahui, Radha Sarisha akan mengadakan dua pagelaran dalam waktu dekat. Tari modern dengan penampilan teaterikalnya, ‘Underrated’, akan unjuk gigi pada 3 Mei 2019 di Makara Art Center UI Depok. Selanjutnya untuk tari dan musik tradisional akan pamit untuk “Misi Budaya” pada 12 Mei 2019 di Gedung Sasono Langen Budyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

 

 

Penulis: Regina Anindita Marhendro

Editor: Fadli Mubarok

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah