Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
RESENSI

Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya: U21+

Oleh AccordingToGalcit

Novela ini merupakan karya kolaborasi penulis Puthut EA dan seniman Gindring Wasted dengan ilustrasinya yang khas, ini adalah karya Puthut EA yang paling unik, karena tidak seperti buku-buku sebelumnya yang berkisah percintaan, keluarga, atau bahkan nostalgia saat dirinya masih muda di Jogja. Buku ini cendrung brutal dan gelap. Seperti kebanyak novel Puthut EA, ia menggunakan kata ganti orang pertama, yang sekaligus membuat pembaca mendapatkan persona sebagai dirinya sendiri. Penulis berhasil memantik emosi, atau pikiran kita mengenai kerentanan-kerentanan yang kita rasakan, walau dengan pengalaman yang berbeda, namun tetap dalam kadar perasaan yang sama.


 


Tidak berlebihan jika saya menggambarkan tokoh "Aku" disini mengalami siksa neraka di dunia, ditambah pula ilustrasi Gindring di setiap bab yang apik dan membuat "tidak nyaman", dengan ilustrasi yang dengan gamblang menggambarkan darah, urat, api, dan tentu pilihan warna gelap. Siksaan neraka di dunia yang saya maksud adalah betapa lengkap penderitaan sang tokoh utama; kemiskinan, perundungan, dan kekerasan seksual. Seakan kejadian-kejadian di hidupnya adalah efek beruntun dari ketidakberuntungan hidupnya bahkan sejak dari tokoh utama dilahirkan ke dunia.


 


Penggambaran tokoh yang mungkin menderita gangguan psikologis depersonalisasi dan derealisasi—tidak punya emosi—datar. Pada pengantar cerita kita diajak untuk melihat dan menyelami perasaan seorang anak kecil yang malang, dari keluarga miskin yang semakin malang sepeninggalan kematian Bapaknya, Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, saudaranya yang menjadi preman pasar yang tentu bersifat kasar kepada adiknya. Anak terlantar, tidak diperhatikan orang tua, sehingga menjadi bebal. Pembaca diajak merasakan bagaimana rasanya dirundung secara fisik, mental dan perkataan, sampai justru rasa sakit itu membuat jiwa semakin terisolasi, memendam rasa malu dan takut.


 


"Di hidupku Tak Ada Batas Penting dan Tak Penting, Semua Terjadi Begitu Saja". Kekerasan seksual yang dialami tokoh digambarkan pula sebagai akibat dari runtunan kemiskinan anak belasan tahun yang polos. Bahkan sampai ia tumbuh remaja rasanya perundungan selalu melekat, ditambah dengan ketidakadilan sistem pendidikan, bukan membuat anak yang bebal menjadi pintar, serta sistem pendidikan dimanapun yang mengganjar kesalahan selalu dengan hukuman.


 


Orang buruk tidak harus terlahir dari keluarga yang buruk, bagaimana kita bisa menilai baik dan buruk jika kita dihadapkan dengan realita baik atau buruk yang bias, semua orang bisa berpura-pura bahkan orang itu tidak sadar sedang berpura-pura. Sialnya, semua hal itu abu-abu, tidak hitam, dan tidak putih. Tidak ada yang jahat sekali atau baik sekali. Seiring dengan tokoh yang beranjak dewasa, penulis membawa kita dalam bagaimana tokoh tersebut bertemu dengan banyak watak manusia, watak yang biasanya ditemui di kota besar untuk bertahan hidup; penipu, manipulasi, dan penjilat.


 


Penulis juga menggambarkan kerasnya kehidupan jalanan dengan latar yang sering kita temui sehari-hari, pedagang asongan, masjid di tengah pemukiman padat, angkringan, toko-toko berdempetan, yang dibumbui dengan kesenjangan sosial. Serta pelengkap kebohongan sebagai tameng kehidupan, baik membohongi orang lain atau justru membohongi diri sendiri.


 


Pada akhir cerita ditutup dengan hakikat keserakahan orang-orang yang berkuasa "mutlak". Mekanisme politik yang mana orang (yang mungkin) baik diantara mereka pun tidak bisa melakukan apa-apa padahal punya kekuasaan yang setara, yang punya kekuasaan makin berkuasa, rakyat kecil makin terinjak, karena faktanya kita memilih diam dan pengecut walaupun kelaparan dan dikebiri seperti tokoh Aku.


.


.


.


Tetap berbuat baik walau tidak sedang baik-baik saja, walaupun saya ingin mengakhiri resensi buku ini dengan kata kata kasar tanpa sensor seperti epilog bukunya, tapi saya urungkan :)

Selasa 06 Oktober 2020
123
1 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

G alcit

AccordingToGalcit

Transmigran dari Jogja yang kemana mana, tidak bisa bahasa jawa, hanya bahasa Indonesia.

Tuliskan tanggapanmu tentang Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya: U21+

Baca karya G lainnya

Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya: U21+

Resensi oleh G alcit

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah