Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Memesan yang Tidak Ada di Menu.

Oleh AccordingToGalcit
[Cikal]

Sebuah perjalanan harus meninggalkan kesan, minimal pelajaran, tapi jangan dilakukan demi sebuah pelarian. Sudah menjadi kebiasaan untuk selalu pergi membeli tiket pergi tanpa menjadwalkan tanggal pulang. Untuk melepas lelah, yang tak tau arah, bukan penginapan yang pertama ku tuju, aku mendatangi kedai kecil yang ku ketahui dari artikel majalah maskapai yang kunaiki tadi.

*drrrt drrrttt* (whatsapp message)
Riga : Kal dimana? temenin gue nonton yuk, tadi mau ngajak Bri tapi dia lagi on the way Lampung.
Cikal : Gue lagi di Surabaya
Riga : Semua aja ninggalin gua, Kal patah hati sama siapa lagi lu? ngabisin uang aja tiap patah hati heran.
Cikal : Gue butuh me time, lagian gue ada kerjaan di sini.
Riga : Kal coba lah untuk bersyukur, gak semua berjalan seperti yang lu inginkan.
~
Riga : Kal kok ceklis biru sama last seen nya lu matiin?

Hanya satu tujuan, menunjukkan ke seluruh dunia bahwa aku baik baik saja, bersenang senang dan melanjutkan hidup. Tak sepenuhnya memaafkan tapi mencoba melupakan. Tidak bagi Riga dan Brian yang sudah apal kebiasaan.

Semua konsentrasi semedi ku terpecah, sampai ketika sesorang yang cendrung urakan di meja kasir memesan kopi.

"Satu hot vietnam drip, ada lagi tambahannya?" seorang wanita berkaca mata di belakang kasir melayani pria itu.
"Boleh deh mbak, satu ya.. gemblong ibu Juju" Pria itu memesan sambil cengengesan.
"Maaf mas?" wanita itu menanyakan dengan muka kesal seakan ingin menyudahi pembicaraan.
"Iya gemblong ibu Juju, ketan mbak yg dibalut gula merah."
"Maaf mas, silahkan ini menu kami. untuk menu spesial, yang ada di etalase saja mas, kebetulan kami belum memasukkan inovasi menu baru" dengan pandangan satire wanita di meja kasir itu melayani.
"Hmmmh yaudah itu aja deh vietnam drip aja. hahhaha Nikiii... Nikiii..." goda Pria itu sambil memandang ke seluruh tempat mencari tempat duduk kosong.

Mata kami bertemu, tapi seperti nya mimik ku heran, mengernyitkan alis, kemudian dia tersenyum cendrung nyengir lalu lantas pergi mencari tempat duduk di area smooking room.

[Sigit]

Tidak seperti biasanya kedai kecil di Ketabang ini jadi ramai. Seseorang yang singgah dengan kesulitan menarik kopernya yang terganjal undakan tak lebih dari lima sentimeter setelah pintu masuk. Ada saja ternyata gadis yang sedang kabur dari rumah karena tak dibelikan keinginannya.

Seperti biasa mbak Niki bertugas menjaga kasir, dan sengaja aku goda untuk membuatnya jengkel agar aku dapat berlama lama di meja kasir dan memperpanjang antrian dengan memesan asal menu makanan. Tak berapa lama gadis koper itu kemudian membayar pesanan nya dan terlihat mengobrol dengan mbak Niki, wah ada juga ternyata yang menggunakan trik memperpanjang antrian, itung itung kedai ku ini jadi terkesan ramai betulan. Kemudian Niki menunjuk ke arah ku. Keluar dari meja kasir, dan memberitahu ku mengenai Cikal, seorang food blogger. Aku menghampiri Cikal yang kembali duduk di meja nya. Aku tidak melihat dia berniat mencicipi kopi yang memang sengaja ku roasting sendiri, di meja nya belum ada setengah minuman itu habis. Cikal bertanya, aku menanggapi, dia tidak fokus, selalu menatap pesan masuk dari gawai nya. Obrolan pun berjalan cukup singkat, berakhir dengan permintaan rekomendasi kuliner di Surabaya.

[Cikal]

Hari terakhir di Surabaya, setelah mencicipi kuliner yang hampir semua disarankan Sigit, ini waktu yang tepat untuk mengicipi restaurant yang katanya wajib dikunjungi sebelum pulang, menu utama nya selalu cepat habis, sehingga sebelum pulang aku meluangkan rentang waktu tidak lama dari jam restaurant itu buka, tidak lebih satu kilometer ke arah selatan dari Stasiun Gubeng. saat aku memasuki restaurant, sudah ada kejanggalan.

"Permisi mbak untuk berapa orang" Pelayan menghampiriku dengan baju ala timur tengah.
"Satu mas"
"Baik, silahkan ke sebelah sini" ia mengarahkan ku ke salah satu meja tak begitu jauh dari jendela.
....
"Mau pesan apa mbak?" sambil memberikan buku menu.
"Ooiyaaa rawon setan nya masih ada mas?" aku hanya membuka-buka malas buku menu dan langsung memesan menu andalan disini.
"Maaf? Silahkan liat menu mbak, kebetulan menu utama kami nasi briyani dengan potongan kurma, tersedia kambing dan ayam juga" pelayan itu nampak heran.

Aku mengirim pesan singkat ke Sigit, nama restaurant nya benar, Bagaimana ceritanya aku memesan nasi rawon di restaurant middle east.

Cikal : Mas Sigit ini bercanda nya keterlaluan loh
Sigit : Iya saya minta maaf, santai saja mbak,
Cikal : Ini sama konyolnya kamu yang memesan gemblong di kota Surabaya.
Sigit : Untuk pelajaran mbak, tempo lalu kedai ku sebenernya menawarkan sesuatu yang tidak ada di menu. tapi mbak pergi buru buru.
Cikal : Lain kali kamu berhutang dengan pesanan yang tidak ada di menu itu!
Sigit : Tentu saja, silahkan datang kembali, Kedai kami menawarkan menu spesial, ~~~ kedamaian,~ obrolan,~ dan waktu.~Yang tak akan kau temui di kotamu, kau boleh datang saat gundah, tapi jangan membawa gelisah di raut wajahmu.
Selasa 30 Oktober 2018
84
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

G alcit

AccordingToGalcit

Transmigran dari Jogja yang kemana mana, tidak bisa bahasa jawa, hanya bahasa Indonesia.

Tuliskan tanggapanmu tentang Memesan yang Tidak Ada di Menu.

Baca karya G lainnya

Memesan yang Tidak Ada di Menu.

Cerpen oleh G alcit

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah