Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Malaikat Naik Perahu

Oleh AflahaRizal
Perempuan itu menatap pagi di sebuah empang besar di sudut kota. Empang yang paling baik, jika mau ditatap atau dikunjungi saat matahari pagi. Siang, para buaya sudah keluar dan menunggu mangsa. Ular-ular banyak yang melintas, mereka juga meminta sumbangan kepada orang-orang peduli binatang agar para ular-ular mendapatkan tempat yang layak. Agar mereka tidak membunuh manusia dengan bisa yang mematikan. Ketika sore, penutupan empang saat senja dan malam berujung kegilaan. Malam penuh kejahatan dan pembuangan mayat tenggelam di empang.

Perempuan itu cantik. Memiliki tubuh bagus dan membawa nafsu laki-laki yang mampu mengobarkannya. Bagai api yang meledak-ledak dari korek api milik manusia yang ingin mati dalam keadaan tidur. Perempuan itu selalu duduk menatap empang, dan salah satu gedung kota yang begitu jauh yang mampu ia jangkau. Kedua mata itu memang putih, seputih pakaian kain milik bidadari yang rindu akan pulangnya rumah manusia selama mereka menjelajahi dunia yang amat kejam itu. Ketika ditanya oleh Ibunya di rumah, “Mau kemana kamu, Nak?” ia senantiasa akan menjawab, “Pergi ke empang.”

Hadirlah sosok yang menaiki perahu. Perahu itu jalan sendiri. Perahu kayu. Tidak ia temukan mesin itu. Perahu juga sudah berkembang mengikuti internet. Para pekerja internet yang mampu menumbuhkan kejahatan dan penipuan, “Selamat pagi Nona Cantik,” Malaikat itu menyapa. Menyapa ramah. Pakaiannya hitam, membawa tongkat penanda kematian. Tetapi ramah kepada perempuan itu.

“Anda siapa?” tanya perempuan itu.

“Perkenalkan, aku malaikat.” Ia menjulurkan tangannya.

“Aku Allisa. Kau malaikat spesies apa?” Malaikat di pikiran Allisa, merupakan sebuah gaib dan tidak mudah dipecahkan bagi manusia separuh kegilaan dan penuh ambisi yang menjatuhkan orang-orang. Atau sebuah wabah rintangan yang bahaya bagi mereka yang tidak mau terjerat di ambang neraka dunia.

“Spesies kematian. Tetapi aku disini tidak ingin membawamu untuk mati.” Jawab si Malaikat.

“Apakah ini tanda hari akhir? Bertemu malaikat dari dunia lain?” Allisa seakan di ambang sebuah pertanyaan besar. Lahirlah sebuah keajaiban yang dituturkan oleh sang Malaikat.

“Hei. Ketika kau sedang keluar dari rahim Ibumu, kau diberikan oleh semesta, agar dapat bertemu malaikat yang tidak semua orang bisa menemukannya. Oleh karena itu, mengapa kau tidak mempunyai kekasih dan seorang teman. Karena kau berbeda. Perbedaan, memang saling diperdebatkan dan tidak berujung selesai. Kesimpulan yang dibuat-buat dari manusia palsu.” Tongkat kematian Malaikat itu ia gentarkan. Teriakkan orang-orang menghampiri mereka berdua. Perempuan itu kebingungan, ia tidak mengetahui kelahiran dan alat tubuhnya yang seperti itu. “Itu suara kematian orang dari kota yang jauh. Suaranya sampai disini. Nanti aku akan kesana untuk melihatnya, sehabis berbicara denganmu.”

Si Malaikat mulai duduk disamping Allisa. Kedua kaki Allisa dilipat, dengan kedua tangannya sebagai penyanggah. “Kau sudah makan Nona Cantik?” ia tidak memanggil perempuan itu dengan nama. Hanya sebuah sebutan Nona Cantik. Malaikat itu memang alangkah ramahnya. Dengan pakaian hitamnya itu.

“Tadi Ibuku sedang memasak sayur asam.” Jawab Allisa. Malaikat itu tahu, perempuan yang duduk disamping begitu ketakutan. Seakan-akan ia akan mendapatkan jatah kematian selanjutnya dan teriakkan.

“Apa yang kau takutkan denganku? Aku baik-baik saja,” ujar si Malaikat.

Allisa menggeleng pelan. Di suatu sudut lain, pohon-pohon membuat payung bagi para manusia yang mau menghindari dari panas. Tetapi, pohon-pohon akan berubah ditebang oleh orang-orang dengan kepentingan tertentu. Berubah menjadi kursi, pintu, atau buku. “Aku tidak mengerti, mengapa aku bertemu denganmu. Kau datang dengan menaiki perahu?” Allisa hanya terdiam, menatap air-air yang kesepian itu dan lemparan batu kecil dari tangannya. Kemudian, datanglah seorang Malaikat yang menaiki perahu.

“Selama aku diciptakan, aku belum mendapatkan waktu untuk merasakan naik perahu seperti manusia,” Malaikat menatap air-air yang juga kesepian. “Aku iri dengan manusia yang sombong dan separuh berharap tetapi hanya sebuah bicara bibir tanpa jiwa yang ikut sesungguhnya. Mereka bisa naik perahu, kapal pesiar, atau kapal feri. Untungnya, Semesta tidak marah jika aku meminta untuk naik kapal pesiar atau kapal feri. Barangkali, aku tidak bisa bertemu denganmu.” Lanjut Malaikat.

Malaikat itu juga merasakan lapar seperti manusia. Ketika ia meminta kepada perempuan itu untuk diantar mencari makanan, ia bertanya-tanya dengan segala keanehan. “Malaikat tidak pernah menyentuh makanan setahuku. Aku tidak pernah tahu tentangmu. Kau makhluk yang selalu muncul di buku-buku kitab atau dongeng anak kecil.” Kata Allisa.

“Memang. Sebenarnya, aku orang baik. Karena pekerjaanku saja yang dituntut untuk menjadi rupa wajah menyeramkan agar mereka takut kepadaku. Tetapi, dunia ini dan seluruh manusia tidak juga takut denganku. Aku melihat kau ketakutan menatap wajahku yang rupanya lain ini, bukan?” perempuan itu lantas mengangguk. Suaranya yang juga selayaknya manusia seperti biasanya, yang penuh baik-baik, rasa ketakutan perempuan itu tidak muncul lagi. Allisa dan Malaikat yang naik perahu mengantarnya untuk mencari makanan. Di sudut luar empang, banyak penjual makanan yang tersedia. Mereka tidak melihat kehadiran Malaikat. Hanya Allisa saja yang sendiri, melihat-lihat sekeliling. Dan juga menatap wajah perempuan cantik itu yang setengah gila karena berbicara sendiri. Para pedagang makanan yang membuka lapaknya setengah ketakutan. Kepala mereka menumbuhkan sebuah kejadian yang mereka lihat, seorang perempuan cantik yang berbicara sendiri yang tiba-tiba akan membunuh mereka. Seakan bibirnya yang bergerak melontarkan kata-katanya berupa mantra kutukan untuk mereka.

Jadilah mereka memilih untuk makan ketoprak. Si Malaikat memilih untuk pedas. “Bisakah kau memesannya untukku?” pinta Malaikat kepada Allisa.

“Mas, dua. Satu pedas dan satu tidak pedas.” Mendengar perempuan itu menyebutkan dua pesanannya, seseorang penjual ketoprak menatapnya kebingungan. Bagai memecahkan teka-teki yang tidak ada ujungnya bagi sebuah jawaban.

Dengan kepala yang kebingungan, tukang ketoprak tersebut mulai membuat pesanan untuk perempuan cantik dan aneh itu. “Mereka tidak begitu mengetahui aku. Karena kau tahu, manusia sudah lupa akan kehadiranku, sebagai sosok hari kematian bagi mereka.” Ujar si Malaikat.

Dua piring yang telah tersedia mulai mereka makan. Allisa masih menikmati makanannya, ketika Malaikat disampingnya, dengan gaib, telah menghabiskan makanannya begitu cepat. Tidak mengeluarkan sendawa, sebagaimana orang-orang makan pada biasanya. Allisa tidak begitu mengerti, mengapa Malaikat bisa makan cepat sekali. Malaikat, setahu Allisa, tidak pernah mengenal makanan. Karena mereka tercipta dari cahaya, dan sepasang sayap yang meliuk-liuk. Ketika naik perahu, sayap Malaikat bergerak-gerak ingin terbang ke langit-langit. Malaikat itu mulai diam, menatap sebagian manusia yang ia pandangi. Tentang manusia yang lupa akan kehadiran kematian.

_______

“Mereka menatapmu aneh. Makanya, aku membawamu cepat-cepat. Karena mereka sedang mengejarmu.” Kata si Malaikat. Mereka berlari, dari sebuah keanehan yang tampak dari wajah mereka karena perempuan itu. Berbicara sendiri sebagai aura kata-kata kutukan kematian bagi mereka. Mereka kembali ke empang. Tempat yang sudah diketahui manusia, dan bagi Malaikat, sudah aman dan tidak perlu terlalu panik. Mereka menikmati sebuah kenyang yang terjadi. Malaikat, pertama kalinya menikmati makanan dunia berkat perempuan yang ia temukan. Dan tugasnya sebagai hari akhir usia manusia yang akan mati.

“AHHHHHHHHHHH!!!!!” Teriak seseorang lain, dengan tongkat Malaikat yang ia gentarkan di tanah.

“Itu suara seseorang yang tinggal di kota S. Masih jauh juga,” Malaikat berdiri. Menatap empang dan perahunya. Sudah selesai dengan tugasnya. “Aku akan datang kesini lagi, di saat kau datang. Jika tidak, maka aku tidak datang. Semoga ada hari lain untuk kita berbicara dan wisata kuliner lagi.” Malaikat itu menaiki perahu. Berjalan dan meninggalkan Allisa.

Di belakang, suara seseorang yang sedang mengejar perempuan itu dengan perilaku aneh semakin menjadi-jadi. Terdengar suara mobil Polisi yang berbunyi disana, ikut mengamankan keadaan dan sedang ikut mencarinya.
Selasa 13 Maret 2018
41
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Aflaha Rizal

AflahaRizal

Karya-karya yang sudah terbit: Cuaca Sama(Nulisbuku.com,2016), Cuaca Sama II(Nulisbuku.com,2017), Antologi cerpen December Sky(Ellunar publish, 2017), Antologi puisi Ratu Abu(Ratu Abu, 2017), Cerpen T...

Tuliskan tanggapanmu tentang Malaikat Naik Perahu

Baca karya Aflaha lainnya

CERPEN

Pengunjung Kedai yang Sedang Menelepon Anaknya

Selasa 07 November 2017
-
101
PUISI

Tsunami: Meruntuhkan Rumahku dan Kekasih

Rabu 03 Januari 2018
-
85

Malaikat Naik Perahu

Cerpen oleh Aflaha Rizal

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah