Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Cara Akhir sang Kematian

Oleh Lafahriza
Aku adalah pria pemberani yang normal.

Sejak dulu, saat masih kecil, aku adalah anak normal. Aku tidak mempunyai kelainan ataupun keluhan di dalam diriku, tidak ada sedikit pun. Aku juga tidak memiliki ketakutan, tidak pernah takut terhadap apa pun. Saat teman-temanku mempunyai ketakutan terhadap suatu hal, yang biasa orang sebut fobia, aku adalah satu-satunya anak di lingkungan aku tinggal yang tidak mempunyai fobia. Aku tidak pernah takut darah, hantu, ketinggian, atau sesuatu tentang ratusan lubang yang biasa orang sebut Trypophobia yang beberapa orang jijik bahkan takut jika melihatnya. Bagiku itu adalah hal yang normal. Seperti sedang memejamkan mata saat tidur, dan juga saat makan menggunakan tangan, semua itu normal bukan?

Tapi, akhir-akhir ini aku mulai merasakan ketakutan, semua orang menganggapku tidak normal, bahkan istriku yang setiap hari hidup denganku mulai menganggapku gila. Tapi, sungguh, aku tidak gila, aku masih normal. Aku hanya mempunyai fobia sama seperti orang-orang normal lainnya, aku hanya mengidap Misophonia dan Phonophobia. Meski berbeda, jika Misophonia atau Phonophobia hanya takut jika mendengar beberapa suara, aku beda, aku mulai takut jika mendengar suara apa pun. Konyol memang, tapi, inilah yang aku rasakan.

Aku benar-benar takut jika mendengar suara. Sungguh, aku sedang tidak membuat lelucon ataupun mengada-ngada tentang apa yang kurasakan. Aku sangat takut bahkan sangat membenci suara, ia seperti teror yang terus meneror dan mengurungku di sebuah ruangan gelap yang sangat kecil. Kecil sekali. Dengan tubuh yang sebesar ini, aku seperti dipaksa hidup di ruangan yang kecil itu. Sungguh menyakitkan dan akan merobek seluruh kulit dan dagingku hingga ke inti sel darah yang kumiliki. Jika menurutmu itu berlebihan dan terkesan mengada-ngada, tapi itulah fakta yang aku rasakan jika mendengar suara.

Kejadiannya terjadi bulan lalu, ketika aku selesai makan di sebuah restoran, aku merokok dan berjalan menuju mobil yang berada di seberang restoran. Aku ingat, ketika aku sedang berjalan, aku berhenti di perempatan jalan, menunggu lampu untuk pejalan kaki berubah dari merah menjadi hijau. Saat itu istriku menelepon, karena suara berderingnya terus-menerus berbunyi tanpa henti membuatku harus cepat-cepat mengangkatnya. Kondisi jalan saat itu sangat ramai, sesak sekali. Orang-orang tampak terburu-buru dan saling berdesakan menunggu lampu berganti menjadi hijau, aku mengangkat telepon istriku dan dia berteriak-teriak dengan nada yang sangat tinggi tanpa henti, ia bertanya kepadaku, “Apakah kau membawa kunci mobilku? Cepat katakan!” Aku ingat, memang aku sempat memindahkan kuncinya, aku meletakannya di atas lemari. Namun istriku tetap berteriak dan mengatakan bahwa dia sudah mencarinya dan membongkar semua barang-barang tapi tidak ada. Jalanan semakin dipenuhi orang-orang. Aku berpikir kembali apakah aku lupa menaruhnya, dengan terus mencoba mengingat detail otakku, tiba-tiba kerumunan orang mulai saling mendorong karena aku berdiri di barisan paling depan. Aku melirik lampu sudah menjadi hijau. Dalam posisi menelepon sembari memegang rokok, aku ingat semua detail kejadiannya. Saat itu aku berjalan beberapa langkah, mungkin empat hingga lima langkah.

Aku masih menelepon, lalu tiba-tiba suara orang-orang bergemuruh saling berteriak kepadaku. Suara yang seperti kesetanan itu bercampur dengan kerasnya suara kasar istriku yang masih marah tak karuan. Aku tidak melihat sekitar, karena fokusku hanya pada telepon. Aku ingat, selain itu ada suara lain yang kudengar, itu adalah suara ban mobil yang sedang bercumbu dengan aspal. Suara berdecit itu keras sekali hingga mengalihkan fokusku pada telepon istriku, aku melihat ke kiri, tiba-tiba bayangan mobil mendekatiku lalu menghantamku dan akhirnya semuanya menjadi gelap total.

Aku pikir itu adalah akhir kehidupan si pria normal. Tapi aku salah. Aku terbangun di atas ranjang yang tertutup oleh gorden di sebuah kamar. Beberapa tubuhku terlihat dipenuhi oleh gulungan kain berwarna putih, dan beberapa orang berpakaian putih menceritakan bahwa aku baru saja melewati masa kritis, mereka memberiku selamat. Aku hanya terdiam tidak bisa menggerakan tubuhku, aku tampak seperti seseorang yang tolol. Lalu istriku datang. Mata bulatnya berwarna merah dan juga terlihat bengkak. Dia meminta maaf dengan suara yang sangat pelan dan terbata-bata, terus-menerus mengulang permintaan maafnya, “Ini adalah kesalahanku. Maaf.”

Dua minggu aku dirawat di rumah sakit, dokter pun mengatakan bahwa aku boleh pulang dan mulai beristirahat di rumah. Aku mulai menuju parkiran, melangkah dengan pelan dituntun oleh istriku, pada saat inilah aku mulai mendengar suara-suara. Suara pria tua yang terdengar mengatakan, “Ronaldo membawa bola, dan gooollll!”

Lalu suara dari seorang anak yang mengatakan, “Dokter tolong selamatkan ibuku!” awalnya hanya empat hingga enam suara, namun seiring waktu berjalan, suara itu bertambah banyak dan suara-suara itu semakin terdengar keras dan jelas di telingaku. Mereka mengatakan, “Presiden Donald Trump”, “Lagi dan lagi, bom Iraq telah terjadi.”

Lalu teriakkan yang keras begitu terngiang di telinga, terdengar seperti, “Hei bung, tidakkah kau melihat kiri-kanan? Apakah dia selamat? Apa otakmu masih menempel? Rem bung!”

Aku berhenti berjalan, lalu melihat ke sekelilingku, aku mulai gemetar. Yang kulihat adalah beberapa mobil saling menabrak dan sopir yang saling berteriak. Akhirnya aku mengerti, “Tidak mungkin!” Kataku dalam hati.

Bagaimana mungkin aku bisa mendengar mereka saling berteriak, jika jarak antara kami saja sekitar lima sampai tujuh ratus meter, “Tidak mungkin itu suara mereka! Mereka sangat jauh, tidak mungkin!” Aku menutup kedua telingaku, sekujur tubuhku gemetar. Istriku tampak bingung melihatku berteriak dan menutup kedua telingaku.

“Sayang, kamu kenapa? sejak sadar dua minggu lalu, kamu selalu berteriak, jangan berteriak, ini rumah sakit.”

Sesampainya di rumah, suara itu tetap tidak menghilang. Seharusnya berada di rumah waktu istrahatku lebih banyak dibandingkan di rumah sakit. Namun seharian aku lebih tenang berada di kamar mandi, memenuhi bak dengan air lalu mencelupkan kepalaku ke dalam air. Aku merasa benar-benar merasa beristirahat saat mencelupkannya, karena suara-suara itu menjadi samar. Awalnya memang efisien, namun ketika aku menarik kepalaku untuk memberi napas aku kembali mendengar suara memuakkan itu lagi.

Semakin lama suara-suara baru bermunculan, dan mereka semakin menerorku, membuatku tidak bisa menahan rasa sakit di kepalaku. Rasanya seperti mereka menarikku ke lubang yang kecil, sangat kecil. Dengan tubuh sebesar ini, mereka menarik paksa tubuhku, dan rasanya sangat menyakitkan.

Aku tahu istriku ketakutan, karena sejak sampai ke rumah tadi siang hingga malam, aku mengurung diri di kamar mandi dan berteriak-teriak. Saat istriku menenangkanku dari balik pintu, maka aku akan berteriak-teriak. Bahkan saat akan tidur pun suara memuakkan itu tetap menerorku, selama beberapa jam aku terus-menerus memegang kepalaku.

“Hentikan sialan! Dasar pelacur bodoh kenapa aku seperti ini. Hentikan bangsat!” Aku tahu istriku terganggu dan tidak bisa tidur karena aku selalu berteriak.

Hingga langit pun mulai terang, aku tidak tidur karena teror memuakkan ini. Suara itu semakin mendengung dan terngiang tanpa henti. Sampai-sampai istriku selalu menangis jika mendengar aku berteriak dan membenturkan kepala, ia selalu mencari-cari pengobatan yang tepat agar aku sembuh.

“Akhirnya ketemu! Sayang ini adalah pengobatan paling efektif untukmu, tempat itu bernama ‘Anechoic Chamber’ prosedurnya pun sederhana.”

Istriku menjelaskan sebuah prosedur yang dimiliki tempat bernama Anechoic Chamber, setelah menjelaskannya dia membawaku pada tempat itu.

***

Tempat bertuliskan Anechoic Chamber ini tampak sederhana dari luar, hanya sebuah bangunan berbentuk kotak, namun cukup luas saat di dalamnya, hanya ada satu ruangan di dalam bangunan itu, mungkin itulah tempat untuk menyembuhkanku. Aku bertemu seseorang di dalam, ia mengatakan bahwa aku mengalami trauma di bagian otak, tepatnya di bagian inti sel pendengaran, ia menjelaskan banyak hal teori-teori yang tidak kumengerti. Persetan dengan teori! Aku hanya ingin sembuh, karena suara-suara itu semakin meneror, bukan lagi dari suara manusia dan suara normal lainnya, melainkan suara yang semakin detail. Suara detik jam, suara putaran kipas angin, bahkan suara detak jantung dan suara darah yang mengalir pada tubuh manusia mulai terdengar di telingaku.

Hingga akhirnya dia memulai prosedur, aku disuruh memasuki sebuah ruangan, dia membuka pintu pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai akhirnya aku melihat ruangan yang unik tapi sangat aneh, dinding-dindingnya seperti terbuat dari fiberglass, berbentuk kotak dan berukuran cukup luas, ruangan itu berlipat-lipat dan menekuk aneh. Dia menjelaskan sangat banyak dan detail, intinya dia mengatakan, saat pintu tertutup proses penyembuhan segera dimulai, karena saat pintu menutup aku tidak akan lagi mendengar suara satu pun.

Sebelum dia menutup pintu, istriku menatapku dengan kosong, ia mengatakan sesuatu dengan sangat pelan. Dan perlahan pintu pun tertutup dan semua menjadi gelap tanpa adanya cahaya sedikit pun. Awalnya suara-suara itu menjadi samar, hingga akhirnya suara-suara memuakkan itu perlahan menghilang satu demi satu. Suara yang menerorku benar-benar lenyap. Aku tidak bisa menjelaskannya, ruangan ini seperti menghisap semua suara. Yang kudengar kini hanya detak jantungku yang berdegup dengan desisan aliran darah, hingga setiap detiknya volumenya perlahan-lahan mengecil dan akhirnya lenyap hingga aku benar-benar tidak mendengar suara apa pun.

Aku pikir ini adalah pengobatan paling efektif seperti apa yang dikatakan istriku, semua ini berhasil. Namun pikiranku semuanya salah.

Selama beberapa jam aku benar-benar tidak mendengar adanya suara. Namun, tidak terdengarnya suara sama buruknya seperti mendengar suara-suara yang menerorku itu. Awalnya aku bertahan cukup lama. Sampai perlahan, sesuatu seperti sedang menguasaiku. Di sini hening. Sangat hening. Bahkan saat aku mengetuk dinding, tidak ada suara yang muncul. Aku menggertakan gigiku, namun tidak ada suara sedikit pun yang bisa kudengar. Aku mulai merasa suatu tekanan yang tidak bisa dijelaskan. Aku mencoba berteriak sekeras-kerasnya, namun tidak ada suara yang muncul dari mulutku. Di ruangan ini aku seperti terjebak di dimensi lain. Aku mulai berhalusinasi sedikit demi sedikit. Tanpa sadar aku mulai menyakiti diriku, dimulai dari kepalaku. Aku menyentuh lantai dengan lembut memakai kepalaku, lalu menghantamnya dengan keras, aku terus-menerus melakukan hal itu hingga berkali-kali, namun tidak berhasil, tidak ada suara sedikit pun. Aku mulai mencakar-cakar dinding menekuk itu beberapa kali, hingga aku merasakan suatu cairan, entah apakah itu, di sini terlalu gelap. Aku mencoba menahan tekanan ini agar tidak menyakitiku lebih jauh, namun hal itu membuatku frustasi, dan menciptakan rasa kenikmatan saat tubuh terasa tersakiti.

Aku mulai menggigit beberapa daging di setiap bagian tubuhku, dimulai dari tangan hingga kaki. Merobek kulit yang menyelimuti tulang-tulang lalu memuntahkannya di lantai yang dipenuhi oleh cairan berbau amis. Lalu menarik rambut dengan sekeras-kerasnya, mencolok-colok mata menggunakan kuku-kuku patah. Hingga akhirnya aku benar-benar tidak bisa bergerak, tidak bisa merasakan apa pun, dan tidak lagi mendengar suara. Namun hanya ada satu suara yang kini mulai terngiang di telingaku. Sebelum pintu tertutup, ketika istriku menatap kosong dengan linangan air mata, dia bergumam dengan sangat pelan yang terdengar sangat jelas olehku.

“Aku mencintaimu. Maaf, Sayang. Selamat tinggal.”

Terima kasih, istriku. Proses penyembuhan telah berhasil. Kini teror itu lenyap, suara telah hilang. Kau selalu tahu apa yang aku inginkan: keheningan. Dan hening adalah cara terakhir sang kematian merobek nyawa si pria normal dan pemberani.
Selasa 12 Juni 2018
26
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Luthfi Akbar Fahriza

Lafahriza

Saat ini aktif di komunitas Prosatujuh

Tuliskan tanggapanmu tentang Cara Akhir sang Kematian

Baca karya Luthfi Akbar lainnya

Cara Akhir sang Kematian

Cerpen oleh Luthfi Akbar Fahriza

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah