Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Perjalanan (Bagian 1: Bahagia)

Oleh LinaNurdianael
"Halo, Nona. Nona baik-baik saja?"
Kepalaku berputar sejenak mencoba meluruskan benang merah yang mengantarkanku tiba di sini. Terakhir kali yang ku ingat, aku tidur di kasurku. Ah, ini mimpi. Lucid dream

Aku bangkit dan mengerjap-kerjapkan mataku.

"Mari, Nona. Mampir dulu ke rumahku."

Aku mengikutinya. Perlahan ku perhatikan perawakannya. Aku kenal dia. Sangat mengenalnya.

Tiba di rumahnya, ku sapukan pandanganku ke halaman rumahnya. Dia memiliki taman yang luas. Taman yang dipenuhi berbagai bunga. Mulai dari mawar hingga sakura semua ada di sini. Namun sayangnya, semua bunga itu layu.

Kemudian ku dengar isak tangisnya. Ku pandang wajah sayu itu. Matanya sembab oleh air mata yang mungkin telah mengalir sedari kemarin malam.

Aku terus memandanginya. Dia adalah aku. Atau setidaknya cerminan dari diriku. Namanya juga mimpi. Semua bisa terjadi.

"Aku bahagia."

Aku mengernyitkan dahi. Dia terlalu sedih untuk menjadi bahagia.~

"Semua bunga ini adalah bahagiamu. Tapi ku gagal merawatnya." Isakannya kian menjadi-jadi.

"Telah lama air terjun di belakang rumahku tidak mengucurkan air lagi. Itu sumber kehidupan kebahagiaanmu. Bibit-bibit bunga baru pun tak kunjung datang. Tak ada kebahagiaan baru.

"Dulu, ku ingat sekali saat kanu masih kecil. Bibit-bibit bunga baru selalu berdatangan tiap harinya. Aku ingat dulu saat kamu SD kelas satu, kamu mendapat uang saku tambahan dari Ibumu. Dan saat itu juga, sepuluh bibit mawar putih langsung diantar ke rumahmu. Kamu suka mawar putih, bukan? Itu hal yang sederhana. Tapi menciptakan banyak kebahagiaan untukmu.

"Tapi sekarang berbeda. Tak ada bibit bunga baru, tak ada kebahagiaan baru. Bahkan kamu menghentikan sumber kehidupan kebahagiaanmu. Kamu menutup hatimu. Kamu selalu meminta lebih, tanpa melihat apa yang sudah kamu punya.

"Tolong.. Aku mohon padamu. Jangan membanding-bandingkan kebahagiaan orang lain yang setiap hari kamu lihat di layar Instagrammu. Sungguh ku ingin menghancurkan Si Instagram itu. Kamu punya kebahagiaan sendiri yang seharusnya kamu urusi. Tolong, jangan siksa aku seperti ini."

Aku bisa merasakan kemarahannya. Kini air matanya makin deras menetes.

"Jangan meminta maaf. Aku tahu ada sesal di hatimu. Tapi sesal takkam bermakna jika kamu tak punya niat untuk memperbaikinya."

Kemudian Si Bahagia menghampiriku. Secepat kilat dan sekonyong-konyong tangannya menekan ubun-ubunku.

"Mulai sekarang, urusilah kebahagiaanmu sendiri."

Kemudian kepalaku terasa pening. Sekelilingku terasa berputar-putar. Kencang, sangat kencang, kemudian segalanya lenyap.
Kamis 29 November 2018
45
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Lina Nurdiana

LinaNurdianael

Soal siapa tak menjadi apa-apa

Tuliskan tanggapanmu tentang Perjalanan (Bagian 1: Bahagia)

Baca karya Lina lainnya

CERPEN

Pulang

Selasa 27 November 2018
62
CERPEN

Laut

Selasa 04 Desember 2018
25

Perjalanan (Bagian 1: Bahagia)

Cerpen oleh Lina Nurdiana

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah