Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Surat dan Fajar Untuk Kekasihku

Oleh Luthfinisme

Kepada Kekasihku

di Kamarnya

Yang lucu


Kekasihku,


Aku menuliskan surat ini pada dini hari. Membiarkan mataku terjaga sampai lusa datang. Jangan khawatir kasihku, aku sudah cukupkan asupan istirahat untuk diriku. Setidaknya beberapa jam yang lalu aku sudah mencecap aktivitas bernama tidur, bahkan bukan tidur yang sekedar tidur. Aku ingin merasakan mati pada tidurku.


Tak perlu risau kasihku, aku tidur laksana mati bukan karena aku ingin mati. Aku justru berharap mati tak segera datang. Agar surat ini kelak dapat berganti menjadi temu. Sudah rindu bukan kepalang aku melihat kau yang tersipu malu, senyum bulan sabit di bibirmu yang merah oleh gincu, serta pipi gembil yang selalu mengundang cubit dari jemariku.


Tersebab aku belum bisa menemuimu hari ini, maka kupetikkan saja fajar untukmu. Aku tak yakin mendapatkan fajar yang merekah sempurna sebagaimana saudarinya bernama senja yang sering kita lihat setiap kencan kita. Gerimis menitik tiada henti sejak semalam, bila ia tak kunjung reda bukan tidak mungkin fajar akan diselimuti mendung dan menghilang dari langit pagi. Semoga saja tidak.


Nanti kasihku, akan kupaketkan fajar itu bersama surat ini. Untuk menemanimu seharian. Memberikan kehangatan dan kenyamanan untukmu sekaligus menggantikan pelukku yang telah lama tak kau rasai itu.


Jangan khawatir kasihku, langit sudah mengizinkan fajar kuberikan padamu. Katanya, ia sudah memprediksi bahwa mendung kelabu akan turun juga di siang ini. Sebagaimana kelabu mendung memayungi kota kita kemarin. Meski bukan gerimis, hujan, atau badai yang turun, tetapi gas-gas perih, asap, serta abu yang membumbung.


Akupun mengamini apa yang langit katakan kekasihku. Kota ini masih akan berbau aneh seperti kemarin. Campuran dari bau sangit, amis darah, dan kecut keringat dari lautan manusia yang akan kembali tumpah siang ini di pusat kota.


Lautan itu akan kembali tersibak dua. Sebagaimana laut merah yang dibelah oleh nabi Musa. Di satu sisi, orang-orang dengan pakaian warna-warni akan berbaris rapi membawa spanduk, umbul-umbul, dan juga pengeras suara. Sementara di sisi seberang orang-orang dengan helm berkaca, perisai tebal, dan pentungan berderet bersama dengan kendaraan bermeriam air dan senapan berisi proyektil gas air mata.


Aku akan berdiri di sisi orang yang berpakaian warna-warni itu kekasihku. Orang-orang biasa berspanduk dan pengeras suara. Mereka boleh jadi banyak kasihku, tetapi suara mereka yang lantang dan nyaring justru tak pernah benar-benar didengar. Beratus kali mereka menemukan kesalahan, ketidaksesuaian, dan memberikan masukan, beratus kali pula suaranya macet, tak sampai, dan justru berbalik dengan hardik. Mengatakan bahwa orang-orang ini bodoh, egois, dan tak tahu apa-apa.


Bahkan kasihku, seringkali hardikan itu datang dengan bonus berupa pukulan, tendangan, dan seretan. Juga cap tak enak seperti tukang rusuh, dan tukang bikin onar. Padahal mereka hanya ingin berbuat baik kasihku. Sebagaimana yang juga sering diutarakan oleh mereka yang dilindungi orang-orang berperisai itu.


Tapi kasihku, ada pepatah yang bilang suara jelata, suara rakyat, adalah suara Tuhan. Vox Populi Vox Dei. Tak ada keraguan bagiku untuk menjadi bagian dari mereka. Jangan kau takut dan berpikiran macam-macam. Aku akan pulang, tunggu saja. Peluklah dan ciumlah fajar yang kuberikan. Sejenak ia akan menggantikan diriku, memberimu ketenangan, dan kenyamanan.


Dengan penuh cinta

Kekasihmu

Selasa 27 Oktober 2020
41
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Luthfi Imama

Luthfinisme

Menulis jika ingin

Tuliskan tanggapanmu tentang Surat dan Fajar Untuk Kekasihku

Baca karya Luthfi lainnya

Surat dan Fajar Untuk Kekasihku

Cerpen oleh Luthfi Imama

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah