Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Sebelas Malam

Oleh RenaldoAchmad

Jam menunjukan pukul sebelas malam, aku melamun sendirian di teras rumah dengan kaki menyilang. Dan malam ini merupakan salah satu malam dari sekian malam di sepanjang hidupku dimana aku meragukan sebuah ikatan rumah tangga. Namun bedanya kini aku memiliki lawan bincang. Seorang lawan jenis yang akhir-akhir ini menemaniku berpergian hingga tukar pikiran.


Sedang asyik-asyiknya berbalas pesan dengannya, akhirnya aku terpaksa memulai pembicaraan berat tentang keresahanku itu. “Apa untungnya sebuah pernikahan ?” tanyaku padanya. “Tumben sekali kau menanyakan perihal ini, ada apa, kau ingin menikahiku ?” balasnya diselingi emoji tertawa. “Kalau kau bisa memberikan jawaban yang tepat dan dapat meyakinkanku, aku akan menikahimu !” seruku sambil menantangnya.


“Menikah itu bukan sembarangan, kau harus memilih dulu seseorang yang dapat mendampingimu seumur hidup. Bukan hanya sekedar cantik, kalau hanya cantik lukisan juga cantik, bahkan aku”.

“Ya, tapi apa untungnya dari sebuah pernikahan ?”.

“Kalau sebuah pernikahan dihitung dan diukur untung rugi susah dong !. Seorang lelaki yang penghasilannya cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarganya pun tidak mau menikah, beban yang ditanggunnya akan bertambah.

“Nah, itu kamu tahu akan semakin berat !”.

“Baik, sekarang kita tukar posisinya. Seorang wanita sebelum ia menikah, ia bekerja dan berpenghasilan. Cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Setelah menikah seringkali mereka tidak diizinkan bekerja kembali oleh suaminya. Cukup urusi ranjang, dapur, dan anak saja”.

“Nah, kalau itu semakin mudah !”.


Meskipun aku membalas pesannya dengan ringan, namun setelahnya aku terdiam cukup lama. Aku cukup tersentak dan berpikir ketika membaca kata “ranjang”. “Apakah artinya wanita akan mampu menanggung dan membayar semua perihal kehidupan dengan urusan yang satu itu ?” gumamku.


“Memang semakin mudah, tetapi apakah kau tahu ?. Dibalik semua itu wanita hanya dijadikan sebagai pemuas kenakalan lelaki”.

“Kenakalan lelaki itu abadi”.

“Setelah pernah dekat dengan beberapa lelaki, memang aku sadari itu abadi. Namun tetap saja jika semua harus dihitung dan diukur materi, wanitalah yang paling merugi. Jika seorang lelaki berhubungan dengan wanita tanpa adanya ikatan terlihat normal dan alamiah saja, namun jika wanita berbeda, terlihat seperti tindakan kotor dan keji”.

Terdiam aku tak dapat membalas pesannya


“Sebelum lebih jauh kita sudahi saja pembicaraan ini. Intinya aku hanya ingin berkata bahwa segala sesuatu tidak harus dihitung dengan materi. Yang terpenting adalah dari sebuah pernikahan kau akan mendapatkan kebahagiaan yang tak akan kau dapatkan dari sebuah materi. Karena seberapa banyak koleksi benda mati yang kita miliki tak akan pernah sebanding harganya dengan sebuah hati”.

Senin 24 Pebruari 2020
64
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Renaldo Achmad

RenaldoAchmad

Tuliskan tanggapanmu tentang Sebelas Malam

Baca karya Renaldo lainnya

Sebelas Malam

Cerpen oleh Renaldo Achmad

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah