Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Tentang Naya

Oleh fadlilahnida
Aku dibesarkan oleh keluarga angkat sejak usiaku terhitung belasan bulan. Adalah suatu jalan hidup yang sukar untuk tersampai jika ada orang yang memintaku untuk menceritakan muasal kehidupanku. Sungguh, mengenangnya beberapa saat mampu meluluhkan berjuta air mata. Meski begitu, aku tak menolak, Teman. Aku sangat bersedia menceritakannya jika ada orang yang ingin tahu masa laluku. Aku berharap agar cerita tentang kehidupanku sama-sama mampu menumbuhkan ikhlas dan rasa syukur di antara kita.

Saat menuliskan ini, sudah tertebak bahwa aku tengah berkaca-kaca. Kau tak perlu bersalah, Teman. Doakan saja agar tangisku mampu menyalurkan emosi yang masih terpendam, mampu menjadi penggugur dosa-dosa.
Siapkah menjelajah masa laluku? Kuceritakan, kisahnya di sini, ya!

___

Aku terlahir di era milenial dan termasuk gen-Z periode awal. Almarhum ayah dan ibuku dahulu adalah pedagang pakaian di salah satu kios Kota Bandung.

Dahulu, pernah ada program transmigrasi masal yang digalakan oleh presiden kedua kita. Keluarga besarku termasuk rakyat yang antusias dalam program transmigrasi. Alhasil, hampir seluruh keluarga besarku berpindah. Daerah tujuan mereka terbagi dua, ada yang ke Kalimantan dan ada yang ke Lampung.

Hanya ayah dan ibukulah yang tak tertarik dengan keputusan keluarga besar untuk berpindah. Dengan alasan yang tak aku tahu sampai sekarang, ayah dan ibuku memutuskan untuk tetap menjejak di Kota Kembang dan terus menekuni usaha pakaian bersama-sama.

Tahun 1995, lahirlah aku sebagai anak tunggal mereka. Samar-samar, masih kuingat belas kasih ayah dan ibuku. Katanya, aku diberi julukan 'anak emas' karena untuk mendapatkanku, ayah dan ibu harus berjuang dan menunggu sampai tujuh tahun pascapernikahan.

Hidup akan seimbang hitam dan putihnya lewat nikmat dan ujian dari Tuhan, bukan? Begitulah yang dialami aku dan orang tuaku. Usai amat bahagia dengan kehadiran buah hati yang telah tujuh tahun ditunggu, tibalah babak episode hidup yang lain, di mana babak itu mampu mengubah garis hidupku.

Tahun 1996, saat aku belum genap 12 bulan, kios pakaian orang tuaku terbakar hebat. Orang tuaku berada di dalam kios sedangkan aku berada di rumah pengasuh. Entahlah penyebab pastinya dari apa, namun desas-desus yang tersebar saat itu ada orang yang 'sengaja' merencanakan niat jahatnya. Tuhan, aku selalu ngilu ketika ada orang yang menceritakannya kembali. Aku tak kuasa membayangkan tubuh kedua surgaku hangus terbakar api.

Orang-orang di sekitarku selalu menghibur, "Naya, kamu tidak perlu khawatir bahwa kejadian itu adalah azab. Orang tuamu adalah orang baik. Yakinlah, bahkan saat salat jenazah, masjid tak cukup menampung pelayat. Kedua orang tuamu sangat baik kepada tetangga, murah hati, selalu berbagi, dan ringan tangan dalam membantu. Kamu harus mengetahui itu dan tak perlu peduli dengan kabar buruk yang didesuskan orang."

Aku telah menjadi anak sebatang kara saat belum genap 12 bulan! Sahabat orang tuaku (yang saat ini aku panggil dengan sebutan Mama dan Papa) memutuskan untuk mengangkatku sebagai anak kedua mereka. Ya, Mama dan Papa telah punya putri yang seusia denganku, namanya Fatya. Aku pun menjadi bagian keluarga mereka.

Singkat cerita, aku tumbuh besar. Aku mulai mengerti arti hidup. Aku mulai dikenalkan berbagai rasa: ada sedih, bahagia, kecewa, terkhianati, putus asa, optimis, ikhlas, dan rasa syukur. Aku merasa menjadi hamba yang beruntung karena Tuhan tak membiarkanku berlama-lama berprasangka buruk kepada-Nya. Ya, meski perasaan itu terkadang singgah, namun aku bersyukur, selalu ada Mama, Papa, dan Fatya yang menjadi pengingatku di kala futur dan terlarut dalam kesedihan.

Teman, beberapa kali aku bertanya kepada Tuhan, "Mengapa Engkau memberi ujian yang sangat berat? Kenapa tidak orang lain saja yang mendapatkannya?" Hingga semua itu terjawab lewat sebuah nasihat dari Mama, "Naya, Tuhan memeberikan ujian kepadamu karena Dia sayang. Dia ingin Naya tumbuh sebagai perempuan yang taat dan kuat. Naya, jangan pernah lagi merasa kamu tak mampu, Sayang. Bedoalah agar Tuhan menguatkan pundakmu, bukan meringankan bebanmu. Mama yakin, kamu adalah hamba terpilih, Sayang."

Di saat lain, terutama ketika aku berada dalam kondisi tertekan, aku pun bertanya, "Tuhan, mengapa takdir hidup ini yang berlaku untukku? Apa timbal balik atas semua kebaikan orang tuaku dan atas usahaku?" Semua tanya itu telah mulai menuai jawab lewat fase-fase kehidupan. Aku terkadang malu jika aku ingat bahwa aku pernah menanyakan hal demikian kepada Tuhan. Ingin rasanya aku balik memarahi diri dengan berkata, "Naya, tak cukupkah kondisimu dengan keluarga angkat yang sangat baik ini membuat kamu bersyukur? Antara dirimu dengan Fatya dan orang tua angkat tidak memiliki ikatan darah, tapi mereka sangat menyayangimu! Lihatlah, di luar sana anak sebatang kara bertebar di jalanan. Ada yang jadi gelandangan, melacur, bahkan terjerat kasus kriminal berat. Tak cukupkah kondisimu sekarang yang masih dijaga keimanannya oleh Allah membuat kamu bersyukur? Sadarlah, Naya, banyak nikmat yang perlu kamu syukuri dibandingkan memikirkan ujian yang hanya membuatmu buruk sangka pada Allah. Coba berdamailah dengan hati, tundukkan diri, dan husnuzhanlah!"

Itulah nasihat yang kudapat dari hasil renungan panjang di kala usiaku 21 tahun. Sungguh, tak menempuh waktu singkat agar aku bisa kuat, agar aku mampu menularkan semangat, dan agar aku mampu bijak menilai kehidupan. Warna hidupku beragam, Teman. Kuakan kembali kisahkan, terutama tentang perjalanan memilih teman. Teman hidup, maksudnya. Hal itu sungguh tak sederhana dan setiap orang punya dongeng unik dalam babak kisah cintanya.
Kamis 10 Mei 2018
53
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Tentang Naya

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
77
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
77
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
52

Tentang Naya

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah