Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Spasi

Oleh fadlilahnida
Hari Senin adalah hari yang paling aku tunggu. Untuk apa lagi selain mendengarkan kisah darinya, lantunan bacaannya, dan suara senandung nasyidnya yang merdu? Jeda beberapa hari saja membuat perjumpaan semakin dirindukan. Tahu apa dulu aku soal cinta, yang kutahu bahwa aku rindu pada perjumpaan dan pemandangan wajahnya yang menenduhkan. Ah, apalagi jika kami nanti sudah dewasa dan tumbuh dengan jalan masing-masing, akankah nanti ada jeda yang panjang sebagai spasi dari perjumpaan ke perjumpaan? Bukankah spasi hanya jeda kosong namun begitu berarti?

"Aa akan melanjutkan kuliah ke Mesir. Mohon doanya, ya. Besok tesnya. Kalau lulus berarti rezekinya di situ, kalau belum lulus berarti Aa masih harus sama-sama dengan kalian." begitu jelasnya di (ke sekian) awal pekan perjumpaan.

Ada segurat kesedihan yang hanya bisa aku pendam. Dia akan terbang melintas benua? Berada di belahan dunia lain dengan segudang aktivitas barunya? Begitu cepat perjumpaan ini, hanya hitungan bulan saja! Lebih tepatnya hanya seumur jagung saja.

"Aa, kalau kita sama-sama udah besar, udah kuliah, Aa udah nikah, nanti kita akan tetap ketemu, enggak?" tanya Haza dengan polos.

A Rifki hanya senyum simpul. "Semoga kita tetap bisa bertemu, ya. Kalian nanti harus berkabar di mana pun kalian berada. Berkabar juga sampai mana cita-cita kalian tercapai."
___

Dialah salah satu orang yang turut memupuk mimpi-mimpiku. Lewat dia juga seberkas cahaya datang, di saat aku kadang merasa terpuruk akan nasib, dia mencoba ulurkan tangan harapan, bahwa derita itu tak hanya menimpa satu orang saja, melainkan juga orang lain yang mungkin bisa jadi lebih perih dan dalam. Hanya saja, Tuhan tidak membiarkan kita banyak tahu keadaan orang, agar Ia bisa menilai mana hamba yang taat dan tawakkal.

"Fatya sama Naya adik kakak? Kok, Aa perhatikan enggak mirip, sih?"

"Kak Naya kakak angkat Fatya, anak angkat Mama Papa. Ya, kan, Kak?" tutur Fatya santai.

Beberap tahun terakhir, sudah tak asing perbincangan ini kubahas dengan orang-orang. Aku sudah kebal menceritakan dengan jujur ihwal masa laluku.

"Naya yatim piatu, A Rifki. Diangkat menjadi anak oleh Mama Papa. Dulu, Mama Papa teman dekat orang tua kandung Naya."

"Innalillahi, maafkan Aa, Naya. Bukan maksud A Rifki ngingetin masa lalu Naya. Aa tadi cuma nanya iseng aja."

"Udah biasa, kok, A. Iya, kan, Fatya."

Fatya mengangguk. Kami melempar senyum ke arah A Rifki. Namun, A Rifki membalas dengan senyum yang iba. Ada penyesalan di balik wajah manisnya.

Usai mengaji, A Rifki mengajakku mengobrol ringan, usai semua pulang. Hanya tinggal aku dan dia. Fatya sedang ke kamar mandi.

"Naya, maafkan Aa, ya."

"Enggak apa-apa. Udah biasa." kembali kulempar senyuman.

"Naya, kita hampir senasib. Aa juga ditinggalkan almarhum Ibu saat masih kecil."

"Oh iya? Aa punya ibu pengganti enggak?"

"Sayangnya enggak. Ya, paling Aa anggap saja tante Aa sebagai ibu pengganti. Kita harus sama-sama bersyukur, ya, atas takdir kita. Allah sayang sama kita dan ingin kita kuat meski orang tua kita enggak bisa lihat anaknya sampai besar."

"Hehe, iya. Emh, Aa boleh, kok, jadiin Mama sebagai ibu Aa. Serius, Mama baik. Nanti Naya sampaikan, ya?" ujarku 'sok' memberikan pelepur lara.

"Eh... emang boleh?"

"Tentu, boleh!" serobot Fatya dari gawang pintu.

Mulai hari itu, hubungan kami semakin dekat. Namun, jarak yang tercipta pun semakin lebar karena kami harus menjalani ikhtiar cita masing-masing. Aku akan masuk pesantren tahfizh (SMPIT di luar kota), A Rifky berjuang untuk kuliah ke Al-Azhar, dan Fatya masih menyelesaikan SDIT di Bandung.

Kami (atau lebih tepatnya aku dan dia yang memiliki rasa) mencipta spasi. Bukan karena agar tak saling menyapa, melainkan karena kami masih harus menata hidup, mencipta cita. Biarlah spasi itu menjadi jeda antara perjumpaan ke perjumpaan. Kosong, namun berarti. Ada jeda, namun nanti mencipta rindu yang sama.
Selasa 22 Mei 2018
36
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Spasi

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
77
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
77
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
52

Spasi

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah