Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Amplop Putih

Oleh fadlilahnida
Ada bayangan yang tergopoh-gopoh mengejar senja yang akan usai. Bayangan itu menyesuaikan dengan tuannya, konsisten pada hukum alam. Ada dua bayangan di situ. Yang satu, seperti yang telah kuceritakan, berlari mengejar senja. Dan, yang satunya lagi adalah bayangan diriku. Kuatur ritme langkah agar tak sampai kedua bayangan bertemu. Aku tahu, dia sedang berusaha, tapi aku tak mampu mengucapkan kata berpisah. Aku belum ingin mengatakannya!

Senja semakin tua. Bayangan itu tak menyerah. Aku pun sama. Kita sama-sama keras kepala. Berkali-kali dirinya memanggil. Aku tetap pada jalan setapak dengan ritme yang lebih cepat. Hingga, satu kalimat darinya mampu memberhentikan arah langkah. Senja seolah tertahan beberapa saat untuk tak gelap. Berusaha menyinari perbincangan yang hendak kami lakukan.

"Ini penting! Demi cita-cita kita, Naya!" teriaknya.

Mendengar kata 'cita-cita' itulah aku mendadak berhenti. Bayangan dia semakin mendekat. Senja tertahan. Aku menoleh ke belakang.

"Ini ambillah, tolong sampaikan surat ini kepada Papa dan Mama. Kamu tidak perlu membacanya sekarang. Nanti saja di rumah."

"Apa isinya?" tanyaku penasaran.

"Nanti kamu akan tahu, yang pasti ada kaitannya dengan cita-cita kita. Maafkan Aa belum bisa pamitan langsung. Pesawatnya terbang malam ini."

Amplop putih berisi kertas pun beralih ke tanganku. Ada titik-titik peluh yang menempel. Ada kusam debu. Ada lekukan-lekukan bekas tiup angin yang membuat amplop itu tak kaku lagi.

"Sudah, ya. Doakan Aa. Aa tahu kalau kamu paling gak suka dengan perpisahan makanya dari tadi kamu terus jalan. Tapi, kamu juga harus mengerti kalau dalam hidup itu pasti ada perjumpaan dan perpisahan, sunnatullahnya begitu. Sudah mau magrib, Aa pamit, assalamu'alaikum!"

Ada kalimat yang kelu untuk aku ungkap. Ada alasan bahwa diriku tak berani memandangnya lama-lama. Ini penyebabnya: aku takut kehilangan dan aku benci perpisahan! Sampai kapanpun!

Ah, setelah terpaku beberapa detik dengan kecamuk pikiran, baru kuingat bahwa tadi dia mengucapkan salam. Kulirihkan jawaban salam untuknya. Ia telah jauh berlari ke ufuk yang berlawanan dengan tempat terbenamnya mentari. Senja telah didapatkannya. Bayangan telah dikejarnya. Satu hal lagi, yang paling penting, amplop putih itu telah ia berikan sebagai pesan perpisahan bertajuk cita-cita. Ah, entahlah, aku belum tahu pasti isinya apa. Sekarang, aku ingin segera pulang. Senja sudah menua. Langit sekejap lagi akan tersaput malam.
Minggu 27 Mei 2018
61
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Amplop Putih

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
107
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
109
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
87

Amplop Putih

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah