Masuk
Daftar
Close
Beranda
Edit Profil
Tulis Karya
Keluar
P
e
n
a
k
o
t
a
.
id

Pengikut Teguh

Teguh Setiawan

3
Pengikut
2
Mengikuti
Tentang Penulis
Menulis tanpa kotak.
Tempat, Tanggal Lahir
Kisaran , 20 November, 1996
Username Penakota
penakota.id/penulis/masteguhh/
Media Sosial
Puisi
Cerpen

Cerpen Teguh

Teguh belum menulis satu pun Cerpen

Puisi Teguh

Manis
Puisi

Lustrum keempat jenakamu sampai jua. Lebih lucu dari dagelan dulu. Kenakan kosong lebih terbuka. Bak batuk menahun pada Merbabu. Wulang bentala pada basyar kaku. Jangan duduk kaki kaku-kaku. Lebih baik berdiri mengira-ngira. Sampai kapankah...

Jalan Murni, Tanjung Rejo, Kota Medan, Sumatera Utara
: 12 | : 0 | : Selasa, 13 November 2018 - 10:41

Memelihara Tuhan
Puisi

Dari hulu matamu berjatuhan anak-anak ikan. Mondar-mandir cacat arah kelelahan. Sekali dua kali bertatapan dengan palungku. Seperempat jauh jatuh tergugu-gugu. Sepenggal ingin sejengkal langkah. Seringan iman yang merekah. Sebentar biru...

Jalan Murni, Tanjung Rejo, Kota Medan, Sumatera Utara
: 12 | : 0 | : Senin, 12 November 2018 - 18:14

Tanpamu Senja Cuma Senja
Puisi

Merajam tubuh dalam duka. Mengais harap. Pahami kumbang yang kagumi bunga. Meski bumi telah mencumbunya dalam...

Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
: 11 | : 0 | : Minggu, 11 November 2018 - 18:54

Reminisensi Picisan
Puisi

Di sengal nafas ibu kota. Antara debu dan peluh. Wangi mawar dan melati dalam narasi. Berjalan bersama bergandeng...

Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
: 6 | : 0 | : Sabtu, 10 November 2018 - 19:28

Tak Seperti Yang Kau Kira
Puisi

Matahari lalu tersenyum. Maka laut menari. Di antara daun yang sendu menjelajahi. Larik bisu.

Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
: 2 | : 0 | : Sabtu, 10 November 2018 - 19:26

Sejak Sajak Beranjak
Puisi

Dipeluk degup kencang rasa takutmu kehilanganku. Takut hujan tak lagi mencumbu bentala. Takut laut tak lagi bernyanyi. Takut pabila takutmu meradang. Di bawah atap bersama sunyi. Basah membengkak menyadari. Takutmu takutku...

Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
: 3 | : 0 | : Sabtu, 10 November 2018 - 19:25

Ditiup dulu
Puisi

"Sup apa Bu?" "Babi!" "Bagaimana mungkin persekusi atas uai kulakukan?" Besok pagi, sup hangat kuah kaldu...

Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
: 5 | : 0 | : Kamis, 8 November 2018 - 18:54

Filtrum
Puisi

Itu yang menunjukkan afsunmu meski tiada niat kau terangi. Di jengah waktu, maafku lamunmu kutebangi. Ala senyummu asa kusampaikan. Denganmu, masa depan terandaikan. Baik tidur atau jagamu, Bukan lagi abu-abu. Lewat senyum sampai...

Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
: 8 | : 0 | : Kamis, 8 November 2018 - 17:24

Elegi Demensia
Puisi

Seingatku jendela punya cerita. Tujuh empat limaku di rusuk jendela. Repetisi lakon tuan lesap dan hamba. Katanya pernah ada cerita dan warna, yang direguk selalu tanah dan lupa. Melerai hujan, mencari ihwal, hanya berhenti kala guruh marah...

Jalan Murni, Tanjung Rejo, Kota Medan, Sumatera Utara
: 19 | : 0 | : Senin, 5 November 2018 - 13:43

Pianissimo
Puisi

Sejak kapan boleh sebuket bunga duduk manis di gerbong satu? Harum, ranum, lantas aku tergugu-gugu. Matanya sayu lamun tegas. Memberi album yang membekas. Deras kelembutan meluruh dari wajahnya. Tanda lahir yang melahirkan rasa. Pipinya...

Medan, Kota Medan, Sumatera Utara
: 12 | : 0 | : Kamis, 8 Maret 2018 - 06:59

Ut Infra
Puisi

Malam itu gemuruh elegi mega bersahutan. Menyalahkan Afrodit di Olimpus laksana setan. Karena kini relungnya jauh lebih pagan. Dalam dan sangat jatuh pada Rawi yang arogan. Tiga dua puluh, Tuan Guruh jauh lebih tenang. Cintanya...

Medan, Kota Medan, Sumatera Utara
: 29 | : 0 | : Jumat, 23 Februari 2018 - 22:18

Merah Hitam
Puisi

Sekelebat yang memuncak kala mata kita bertemu. Di jarak rak susu dan rokok lokal. Senyummu yang tanggung lamun semanis susu. Jelas dan fasih menghalau akal. Hari ini mungkin tak saling sapa. Boleh jadi sewindu, anakku memanggilmu...

Medan, Kota Medan, Sumatera Utara
: 17 | : 0 | : Senin, 19 Februari 2018 - 21:17

Ceritanya Begini
Puisi

Semalam puan absen. Entah ke mana larinya. Biasa mengintip dari jendela bilik. Lazimnya menyirami bunga yang tidur kelelahan. Semalam puan di mana? Hamba cari di surau tidak ada. Kemarin dulu mengaji di sana, atau hamba yang...

Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
: 23 | : 0 | : Jumat, 9 Februari 2018 - 16:24

Paradoksal
Puisi

Dulu aku segelas anggur merah, lalu segelas lagi di meja reyot. Diseruput, disesap, enak katanya. Habis itu matanya merah, putingnya mengeras. Menjadi air wudu yang batal karena kentut. "Anggur merah itu halal, anjing!" Lakon pindah ke bilik...

Auditorium USU, Padang Bulan, Kota Medan, Sumatera Utara
: 43 | : 0 | : Jumat, 19 Januari 2018 - 16:37

Fatwa
Puisi

Bisa jadi aku seperti humus basah di depan beranda. Malam ini bermandi keringat, besok pagi kering telanjang. Layaknya kasih untukmu yang sekarang basah. Esok boleh jadi kering disapu roda-roda karet yang sundal. Bisa jadi subuh...

Medan, Kota Medan, Sumatera Utara
: 42 | : 0 | : Rabu, 17 Januari 2018 - 18:55

Anekdot
Puisi

Jangan biarkan embun bunuh diri setelah tahu awaknya membanjur bait yang berpijar. Arahkan badannya untuk tidak menguap sebelum nur menengahi. Tenangkan kalutnya, sudahi cabarnya. Hela nafsinya merasa bersalah, bagi ia menangis. Maka batinnya...

: 61 | : 0 | : Selasa, 14 November 2017 - 20:36

Vanila
Puisi

Kala mega masturbasi di lengan minggu. Kau puan itu, memilih bermain mata. Masa baskara malu-malu. Aku tuan itu, memilih bermain rasa. Agaknya getir dan asin. Sepat namun lembut di ujung lidah. Aroma di pangkal niamu hasil...

: 69 | : 0 | : Senin, 13 November 2017 - 21:22

Puti
Puisi

Rumah ini senyap. Satu dekade setelah kau lupa caranya bangkit. Genta bait kita mengucap salam. "Cokelat atau kacang?" Sewindu setelah kau lalai mencuci piring. Sendok garpu kita berelegi sedu. "Rinduku berpautan esemmu." Sewarsa...

: 69 | : 0 | : Senin, 13 November 2017 - 14:33

Nalar
Puisi

Tampak lusuh pada harap. Lusuh pada harap. Pada harap. Harap.

: 73 | : 0 | : Kamis, 9 November 2017 - 09:32

Senda
Puisi

Seperti mencintai baskara di balik santiran. Menenangkan untuk kukuh bertahan. Meski kadang badai kian binal. Timbul tenggelam lamun bagal. Filantropi padamu adalah perjuangan. Hidup mati adalah visinya. Afeksi untukmu berupa kenangan. Mati hidup...

: 118 | : 0 | : Kamis, 9 November 2017 - 09:31

Sadu
Puisi

Terakhir kali bermain harap, atmaku terpalit bintang jatuh. Dicubit konstelasi. Bungkam.

: 64 | : 0 | : Selasa, 7 November 2017 - 23:05
Tutup

Bagikan profil Teguh