Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
PUISI

Pianissimo

Oleh masteguhh
Sejak kapan boleh sebuket bunga duduk manis di gerbong satu?
Harum, ranum, lantas aku tergugu-gugu.
Matanya sayu lamun tegas.
Memberi album yang membekas.

Deras kelembutan meluruh dari wajahnya.
Tanda lahir yang melahirkan rasa.
Pipinya membukit merah muda.
Bak menyimpan banda dalam boseta.

Warnanya vanila, serupa raksinya.
Arinya hitam dan cokelat bunga-bunga.
Bibirnya liliput tenggelam di antara lembah.
Dari mercu kepala hingga sana, layah.

Semenit dua menit, senyummu tanggung.
Begitu pun membimbingku membumbung.
Dari diserang arsu di ketinggian hingga tenggelam di palung.
Paling-paling aku tersandung, hatiku kau pasung.

Sejak kapan boleh sebuket bunga duduk manis di gerbong satu?
Kamis 08 Maret 2018
24
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Teguh Setiawan

masteguhh

Menulis tanpa kotak.

Tuliskan tanggapanmu tentang Pianissimo

Baca karya Teguh lainnya

PUISI

Sadu

Selasa 07 November 2017
-
81
PUISI

Senda

Kamis 09 November 2017
-
125
PUISI

Nalar

Kamis 09 November 2017
-
104

Pianissimo

Puisi oleh Teguh Setiawan

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah