Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
PUISI

Paradoksal

Oleh masteguhh
Dulu aku segelas anggur merah,
lalu segelas lagi di meja reyot.
Diseruput, disesap, enak katanya.
Habis itu matanya merah, putingnya mengeras.
Menjadi air wudu yang batal karena kentut.

"Anggur merah itu halal, anjing!"

Lakon pindah ke bilik sempit.
Sekat-sekat tripleks dan aku rinai liar di dipan.

"Diam! Kita main maghrib ini."

"Agaknya tunggu azan selesai, bang."

Aku sekarang keringat di dahi abang bangsat, di kening lonte kesiangan.
Besok bisa jadi air mani, tapi sekarang jua boleh.
Sepuluh, lima belas menit aku menjelma asing lagi.
Saliva kental. Ciuman mereka. Enak katanya.
Habis itu susunya merah, penisnya bengkak.

Aku air mani.
Air kencing.
Air segala air.

Setahun, aku air mata kembang latar.
Anaknya mati ditelan air sumur.
Lalu bertaubatlah ia dengan air wudu.

"Anggur merah bisa jadi lebih baik."
Jumat 19 Januari 2018
60
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Teguh Setiawan

masteguhh

Menulis tanpa kotak.

Tuliskan tanggapanmu tentang Paradoksal

Baca karya Teguh lainnya

PUISI

Sadu

Selasa 07 November 2017
-
81
PUISI

Senda

Kamis 09 November 2017
-
125
PUISI

Nalar

Kamis 09 November 2017
-
104

Paradoksal

Puisi oleh Teguh Setiawan

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah