

Malam itu,
aku tak membawa apa-apa selain diam.
Dan kau tahu,
diamku bukan kosong—ia hanya tak ingin memaksa
apa pun yang masih menggantung di matamu.
Kita duduk,
seperti dua kemungkinan yang belum ditentukan.
Kau bercerita dengan tenang,
tentang harimu,
tentang dia,
tentang hal-hal yang tak menyebut namaku…
tapi tak benar-benar menghapusku.
Aku tak bertanya,
kau pun tak menjauh.
Kita biarkan waktu berjalan pelan,
karena mungkin,
sesuatu sedang tumbuh diam-diam
di tempat yang belum bisa kita sebut nama.
Dan aku senang.
Karena ada jeda yang mempersilakan aku tinggal,
meski hanya sebentar,
meski tak dalam peran yang kupinta.
Aku tahu:
kau sedang melangkah ke arah yang belum menyapaku.
Tapi malam itu,
kau menoleh—sekilas—seperti mencari sesuatu
yang belum kau temukan di mana pun.
Dan aku diam,
karena kadang harapan
lebih selamat bila dibiarkan tinggal
di balik senyum yang tak selesai.
Tapi malam itu,
aku duduk di sampingmu—
dan diam-diam percaya,
bahwa masa depan belum sepenuhnya ditutup.

