Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Sebuah Ritual Untuk Melompati Waktu

Oleh rizaismus

Hari itu, kaubilang, semua orang tahu bagaimana caranya kembali ke masa lalu.


“Lalu, kau mau apa?” Tanyaku.


“Aku ingin melompat ke masa depan, tapi aku tak ingin sendiri, jadi ikutlah,” Jawabmu.


Bukankah kau sendiri yang bilang kalau dirimu adalah seorang soliter, aku bergurau. Dedaunan dari pohon-pohon di depan rumahmu kuyup diterjang air hujan yang tak kunjung mau berhenti. Sedari pagi, langit masih enggan menyingkirkan awan-awan hitam. Kupikir, Desember memang jadi waktu membuncahnya doa-doa mereka yang minta hujan sejak bulan-bulan lalu. Kemarin masih bulan November, tetapi dua minggu terakhir, hujan terus turun. Awalnya hanya sore hari, lama kelamaan mendung muncul juga di siang dan pagi. Kotamu, terlepas dari musim dan bulan apa, gemar disambangi oleh hujan. Kota hujan, kata orang. Ada atau tidaknya kau di kota ini, aku selalu suka dengannya. Tetapi, kau. Kau adalah sebuah alasan mengapa dua jam perjalanan darat dengan kereta sungguh merupakan sebuah harga yang tak seberapa. Atau bahkan rintik-rintik dari awan hitam yang menggodaku untuk tetap di kamar pada akhir pekan seperti ini.


Dua minggu terakhir, hujan terus turun di kotamu juga kotaku. Mungkin itu alasan kenapa kau sedang ingin sendiri. Dan karenanya jadi sulit kuhubungi. Maka, hari itu kuputuskan untuk datang ke kediamanmu dengan alasan sesederhana “Aku rindu dan menginginkanmu,” Saat kau bertanya kenapa kuhampiri kau. Sebenarnya, aku tak begitu yakin kalau hari itu kau ada di rumah. Tentu saja, dirimu bukanlah tipe perempuan yang gemar menyendiri di rumah sekalipun kau menyebut dirimu sebagai seorang soliter. Kemungkinan besar, jika hari cerah, kau akan keluar, berpergian bersama kawan-kawanmu. “Hujan ini menghalang-halangi keinginanku untuk keluar rumah,” Ucapmu sesaat setelah kau mempersilakanku duduk di kursi kayu yang ada di selasar rumahmu. Syukurlah, bisikku sehabis menghela nafas.


“Mau minum apa? Kopi? Ah, kau harus berhenti minum kopi. Terlalu banyak kafein dan begadang tak baik untukmu, biarpun kaubilang waktu produktifmu itu malam hari. Aku buatkan susu cokelat panas, ya,” Tanpa membiarkanku memilih jawaban sendiri, kau bergegas kembali masuk ke dalam. Kau memang selalu seperti itu. Seperti takdir yang seolah membuatkan ruas-ruas berbeda untuk dilalui tiap manusia, padahal ujung dari semua ruasnya hanya satu, sama saja. Kau tak boleh main-main dengan takdir karena itu sama seperti mengolok-olok Tuhan, ucapmu padaku lewat telepon di suatu malam. Sayang, aku tak sanggup bermain dengan takdir atau mengolok-olok Tuhan, karena kita semua sebenarnya sedang dipermainkan oleh mereka dan sungguh, aku tengah memperolok diri sendiri, tukasku. Di saat perbincangan seperti malam itu, kau akan langsung diam dan, “Sudah, hentikan. Aku ngga mau ikut-ikutan.”


Suara kenop pintu memecah lamunanku. Kau membawa nampan dengan dua gelas berisi susu cokelat panas, sepiring kue keju, dan setoples biskuit kelapa di atasnya. Semuanya kauletakkan di permukaan meja kayu yang diapit dua kursi yang didudukki oleh kau dan aku. “Minumlah,” ujarmu, “Kau pasti kedinginan, lagipula kenapa nekat menerobos hujan, masih ada besok untuk bertemu denganku, kan.”


Tidak. Aku tidak ingin besok, gumamku.


“Kau selalu keras kepala dan sulit diatur. Kalau bilang sebelumnya, aku bisa menjemputmu di stasiun dan kau tak perlu kehujanan,” Rajukmu, tak lama gelas dalam kedua genggaman tanganmu terangkat, susu cokelat panas di dalamnya tumpah mengaliri bibir gelombangmu yang tanpa gincu.


Mataku memaku pandang ke arah dedaunan yang tidak putus-putusnya dialiri air. Aku bawa mantel, baju dan badanku sama sekali tak basah, kilahku. Dan, aku sudah bilang, kan, kalau aku kangen.

Pandanganku berpindah menatap tajam ke arah matamu. Tak lama, kau menyadarinya, menaruh gelasmu di meja, dan matamu bersua dengan mataku. Tubuhmu perlahan terangkat, lengan kirimu menumpu pada kursi, kau memiringkan badan dan wajahmu ke kiri. Aku lakukan hal yang sama, namun tanpa lengan yang bertumpu di kursi, aku bangkit, menyambut undanganmu, mencondongkan tubuhku ke kanan. Tangan kananmu yang sedetik sebelumnya terbebas di udara, kini mendarat di pipiku. Kita jadi begitu dekat dalam waktu tiga detik. Atau enam bulan. Detik keempat, bibirku berlabuh di bibirmu, lidahmu memeluk lidahku, dan air liur bersibaran. Jarum panjang penunjuk detik di jam dindingmu dan arlojiku berhenti. Waktu berhenti. Semua mematung. Sesaat, kau dan aku menguasai masa.


Semenit berlalu, aliran waktu kembali mengalir. Kau kembali duduk, namun kali ini bukan di kursi kayu, melainkan di atas lantai keramik di pinggir teras. Aku kemudian menyusul terduduk di sampingmu, berdampingan, bahumu merapat dengan bahuku. Dan saat itulah, kau menerangkan niatmu untuk melompati waktu ke masa depan.


“Semua orang tahu bagaimana caranya kembali ke masa lalu. Kau bisa dengan mudahnya menjelajahi ingatan lampaumu, kalau lupa, lihat saja foto-foto atau video atau mungkin rekaman suara untuk merangsang ingatan itu. Aku ingin melakukan sesuatu yang agak berbeda.”


Lalu, kau mau apa?


“Aku ingin melompat ke masa depan, tapi aku tak ingin sendiri, jadi ikutlah. Kau tahu, kan, kalau aku ini penakut?”


Bagaimana caranya? Kau yakin?


Mendengar pertanyaanku, kepalamu tertunduk. Tiba-tiba kau terlihat murung. Satu helaan nafas terdengar dari mulutmu, “Ya. Aku berbicara pada sang bulan semalam.”


Sudah empat minggu penuh kau tak bicara padanya, bukan? Ada apa?


“Kau pernah bilang kalau waktu itu penyembuh yang mujarab.”


Ya, kupikir memang seperti itu.


“Tapi, bagaimana caranya memulihkan kepedihan yang timbul dari rasa ingin yang terlalu banyak?”


Aku menggeleng pelan, bunyi kecipak terdengar dari pertemuan antara rintik-rintik hujan yang makin deras dengan rerumputan basah. Di beberapa titik, muncul riak-riak pada air yang menggenang. Sewaktu kecil, aku menganggap ada katak kecil yang meloncat dari satu riak ke riak lain. Nyatanya, itu hanya titik-titik air yang menerjang genangan air. Tidak ada apa pun selain air dan air. Adakah kau betul-betul bisa melompati waktu dari satu masa ke masa yang lain, sementara kita terpenjara dalam waktu yang tiran, ah, dan juga ingatan. Kenapa, tanyaku, kau ingin meloncat ke masa depan? Ah, kau tak perlu menjawab, sebenarnya. Aku tahu apa yang ingin kau lakukan. Mengintip, bukan?


“Semalam, bulan memberitahu cara agar bisa menembus ruang waktu dan tiba di masa depan. Aku tak bertanya padanya. Dia abadi selama manusia masih ada. Dan, bukankah itu tugasnya? Mendengar dan melihat kita, juga mengawasi. Kapan terakhir kau berbicara dengan bulan, sayang?”


Semalam. Bulan melirik dan segera tahu kalau aku sedang rindu padamu.


“Ya, dia menyampaikan salammu. Aku juga rindu padamu. Jadi, ikutlah denganku.”


Tidak. Kau tak bisa menghindar. Mempercepat laju waktu agar kenanganmu rusak adalah hal sia-sia. Waktu tak bisa membuatmu lupa, sama sekali mustahil. Waktu hanya bisa merayumu untuk menyembunyikan ingatan tertentu dengan mencipta ingatan baru.


“Kau tak pernah percaya akan dongeng atau keajaiban atau mukjizat. Percuma. Aku dijanjikan sebuah kotak yang mampu mengabulkan apa saja. Tujuh kurcaci turun dari bulan semalam, bilang kalau aku layak untuk diberi hadiah atas keyakinanku pada keajaiban selama ini. Mereka akan turun lagi nanti malam, menanyakan jawabanku atas tawaran itu.”


Kotak apa? Dan kau percaya begitu saja?


Kau terdiam, tanpa permisi kesunyian menyelinap di antara bahu kita. Menyisipkan jarak. Rasanya, kau tak lagi bisa dijangkau. Aku tak lagi bisa menitipkan harapan-harapan padamu, karena kau rupanya enggan memercayakan harapanmu padaku. Masih tersisakah asa yang belum kautitipkan pada lelaki itu? Sepertinya, tidak. Kau ingin melompati masa depan untuk bertemu dengannya, bukan? Lantas, kenapa kauajak aku jika setibanya nanti di sana, kau lebih memilih sisa-sisa lelaki itu? Tentu aku simpan pertanyaan itu untuk diriku sendiri. Dan malah kukatakan, kau masih bisa menemuinya sekarang, di masa depan mungkin dia sudah jadi bangkai.


“Tidak. Aku takkan memilih siapa-siapa. Tapi, kau bisa tinggal bersamaku selama yang kau mau. Aku tak keberatan. Lagipula, kau tak pernah membuatku sedih,” Kau menoleh, memiringkan kepalamu, senyum lebar terpasang di sana, kelopakmu melengkung menutup matamu yang besar.


Kau juga, tetaplah bersamaku. Kau memandangku, mengangguk halus. Kedua tanganmu melingkari lengan kananku, kau menyibakkan rambut hitam panjangmu yang lurus, dan menyandarkan kepalamu di bahuku.


Sejenak, semua terasa damai. Meski, aku tahu pasti, kau akan selalu jadi kekasih lelaki itu. Dan bayang-bayang mewujud. Menjelma jadi diriku.



Setelahnya, aku lengah kalau malam kelak tiba di hari itu. Aku tak begitu menaruh perhatian pada omonganmu soal tujuh kurcaci yang bersedia memberimu jalan untuk pergi ke masa depan. Aku lebih khawatir pada dirimu yang sepertinya tak bisa memuntahkan lelaki itu dari pikiran dan perasaanmu. Sore hari itu, aku memutuskan untuk bermalam di rumah milik seorang teman yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalmu. Temanku itu hanya mempergunakan rumah yang kupakai bermalam hanya untuk melepas resah sesekali. Dan malam itu, ia tidak sedang berada di sana. Hanya aku sendiri dan sebotol anggur murahan yang sengaja kutebus agar mengawaniku. Karena otakku tak cukup dewasa untuk bisa mengenyahkan prasangka menjengkelkan tentangmu barang sejenak saja.


Di luar, suara guntur menggelegar, saling sambung. Di dalam, seloki berisi anggur terangkat berulang kali ke udara dan merembes masuk ke kerongkongan. Kelatnya tersisa di dinding-dinding mulut. Tapi, kilatan sketsa kau yang dikelilingi tujuh kurcaci di mana salah satu di antara meraka memegang kubus sepanjang setengah meter malah makin jelas. Kurcaci-kurcaci itu tak lebih tinggi dari anak usia sepuluh tahun. Wajah mereka tak jelas, tertutup pakaian mirip astronot. Kurcaci pemegang kubus menyodorkan kotak itu ke hadapanmu, kau mengambilnya dengan agak ragu, mendekapnya di dadamu. Seorang kurcaci menoleh, ia seakan menyadari kehadiranku. Terus memandangku, sementara kau memeriksa tiap sisi kotak itu. Si kurcaci akhirnya berjalan cepat ke arahku. Aku sama sekali tak bisa bergerak kala itu. Dari gerak-geriknya, si kurcaci jelas tak senang dengan kedatanganku. Ia kemudian mengayunkan lengannya ke wajahku, dan setitik cahaya muncul dari sana yang dalam sepersekian detik berubah jadi begitu menyilaukan mata. Sebelum penglihatanku memudar, sekilas kotak yang kaugenggam juga mengeluarkan kilau cahaya yang sama silaunya.


Kupikir, itu hanyalah mimpi.


Dan memang, apa lagi kalau bukan mimpi? Paginya, aku menemukan diriku tergolek di sofa panjang ruang tengah. Di sampingku, botol anggur kosong dan seloki tergolek di atas meja kaca. Aku berdiri dan melangkah sempoyongan menuju kamar mandi, mencuci muka dan berkaca depan wastafel. Sesuatu mendorong kehendakku untuk segera bergegas menghampirimu. Aku berjalan cepat meraih kemeja panjang yang tergantung di tembok. Nafasku tersengal-sengal. Sesampainya di luar, gerimis menyambut. Aku meminjam sepeda motor milik penjaga rumah untuk bisa sampai di rumahmu pagi itu. Jalanan masih lengang. Hari minggu, udara sejuk, dan rinai kecil membuat penghuni alam mana pun malas menggerakkan tubuhnya dari ranjang.


Gerbang rumahmu terbuka sedikit. Aku cepat-cepat masuk dan dengan sedikit dorongan, pintu depan terbuka. Tak dikunci. Aku memanggil namamu. Berpindah-pindah dari satu ruangan ke ruangan lain dengan langkah cemas. Setiap sudut rumahmu telah kuhampiri, tapi satu bagian tubuhmu tak juga kutemukan. Pada satu kekalutan, aku berhenti bergerak, mematung. Persendianku mulai bergetar. Tubuhku berguncang. Dan air mata meledak bersama dengan teriak penuh kutukan.


Aku terduduk hingga tak lama, mataku menangkap secarik kertas tertempel di bagian belakang pintu depan. Ada tulisan tanganmu di hamparannya.


Kalau kau menemukan kertas ini, tandanya aku sudah ada di masa depan.

Temui aku 20 tahun mendatang.


***


Dua puluh tahun dari pagi itu adalah hari ini. Dua puluh tahun dari pagi itu menuntunku ke masa ini. Tapi, dua puluh tahun sejak pagi itu, kau sama sekali tak mau pergi dari ingatanku.

Atau mungkin aku yang memang sungkan mempersilakanmu hilang. Aku memegang kertas yang kautinggalkan pagi itu dengan kedua tangan. Di depanku, sekumpulan orang menghadapkan pandangannya ke layar komputer masing-masing. Lapisan kaca tebal memisahkan kami dengan sebuah ruangan yang dipenuhi kepulan asap putih. Apa yang kami kerjakan selama belasan tahun ada di dalam ruangan itu.Setelah ratusan uji coba yang meregang nyawa, hari ini semua pengorbanan kami akan terbayar.

           

Aku menganggukkan kepalaku dan kepulan asap putih seketika terhembus dan tak lagi memenuhi ruangan itu.

           

Di dalamnya terdapat tujuh humanoid dengan tinggi satu meter dua puluh senti yang berpakaian astronot. Kami akan mengirimnya ke masa lampau.

           

Kami akan mengirimnya ke masa dua puluh tahun yang lalu.

           

Aku akan menjemputmu dari masa dua puluh tahun yang lalu.


Senin 18 Februari 2019
390
5 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Riza D.

rizaismus

Il n’est pas de sauveurs suprêmes

Tuliskan tanggapanmu tentang Sebuah Ritual Untuk Melompati Waktu

Baca karya Riza lainnya

Sebuah Ritual Untuk Melompati Waktu

Cerpen oleh Riza D.

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah