Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Catatan XVII

Oleh rizaismus

Semua orang yang lahir setelah Inkuisisi Agung pernah mendengar Artur Harahap dan tentu saja percaya bahwa dunia akan berakhir di tahun 2666 sesuai ramalan Cesarea Tinajero walau sebenarnya umat manusia tak pernah yakin apakah saat itu seorang mesiah akan turun terlebih dahulu atau kiamat terjadi begitu saja, mendadak, tiba-tiba, serta mengejutkan seperti peristiwa ratusan tahun lalu ketika sejumlah besar manusia pada sebuah malam yang tenang, bahkan di beberapa tempat, sorenya sempat menguarkan aroma jingga, dibantai tanpa bukti yang kuat, dipisahkan dari keluarganya, diculik, dibunuh, lantas dibuang ke selokan dan sungai-sungai sebab dituduh mendukung partai setan terlarang. Atau singkatnya, dengan kata lain, kiamat akan tiba tiga tahun lagi.


 


           Kau harus percaya pada hal-hal yang disebut ramalan agar kiamat mau mendatangi duniamu. Ya, setidak-tidaknya keyakinan akan hal tersebut bisa tumbuh, menghuni alam pikirmu dan mengganggu kelancaran proses otak dalam mengirim sinyal hingga menyumbat kehidupanmu, membikin kau jadi gampang marah, lebih suka berkacak pinggang di depan cermin sambil mengomeli orang lain yang berpikir kalau kiamat takkan pernah datang, menggerutu di pinggir jalan, gemar mengomentari cara berpakaian perempuan, dan kegiatan-kegiatan serupa sampai kau mati.


 


           Baiklah, kau mungkin mulai bertanya-tanya apa hubungan antara Artur Harahap dan Cesarea Tinajero? Redaksi terbaik untuk mengetahui seluk beluk Artur Harahap, dan karya-karyanya, hanyalah Dea Anugrah dan Sabda Armandio. Keduanya sempat menulis soal Artur dan sudah wafat ratusan tahun lalu. Kecuali, kau pernah mendengar rumor yang bilang kalau Dea berhasil menemukan Air Mancur Keabadian di Kepulauan Bahamas pada abad 16 seusai Dio membuat mesin penjelajah waktunya sendiri dan membiarkan Dea mencobanya. Terlepas dari kedua sumber literatur, Artur jadi bahan perbincangan banyak orang di abad 23. Merunut pada konsep Foucauldian, Artur sempat jadi wacana era itu. Banyak jurnal-jurnal mahasiswa membahas Artur, karya, juga pemikirannya hingga menghasilkan beberapa interpretasi baru atasnya. Namun, sumber primer mereka terbatas berasal dari kedua penulis yang kusebutkan di atas. Menurut Teddy Waworuntu, salah seorang kritikus sastra dan prosais yang tulisan-tulisannya menggambarkan semangat Harahapian, Artur Harahap meneruskan tradisi pemikiran filosofis Arthur Schopenhauer dengan sedikit penggubahan di sana sini. Sesungguhnya, tak adil bilang sedikit penggubahan karena nyatanya di tangan Artur Harahap, Schopenhauer terlihat jenaka dan optimistis seperti motivator di acara seminar produk multi level marketing. Tetapi, jangan sampai keliru, Artur Harahap, yang semasa hidupnya menulis sembilan novel, empat kumpulan cerita pendek, dan lima antologi puisi, pernah dituding jadi sebab meningkatnya angka bunuh diri beberapa tahun belakangan. Sesuatu yang bahkan tak bisa dilakukan Schopenhauer dan hanya sanggup ditandingi oleh Werther-nya Goethe. Tudingan tersebut bukannya tak berdasar, sebab sebagian besar korban bunuh diri itu adalah pembaca Artur Harahap, atau setidaknya polisi menemukan karya-karya Artur tersimpan di balik bantal, lemari, dan ransel mereka, dan dalam wawancara dengan sejumlah relasi korban, setiap korban sekurang-kurangnya pernah membicarakan Artur Harahap sekali. Aku sendiri tak paham bagaimana prosa dan syair Artur bisa memunculkan dorongan untuk mati dalam diri seseorang.


 


Sementara, Cesarea Tinajero adalah penyair yang muncul dalam karya Roberto Bolaňo. Ia adalah salah satu pendiri aliran sastra realisme jeroan yang gagal total dan musnah. Sama seperti Artur Harahap, sosoknya banyak diperbincangkan terutama di paruh pertama abad 21, sayang keberadaannya seringkali dianggap mitos belaka. Kau tahu, sejak abad 21 berakhir, nyaris tak ada lagi apa yang kita sebut filsuf, prosais, penyair, dan semacamnya. Awalnya, orang menyambut hal itu dengan suka cita sebab kelangsungan hidup mereka jadi lebih baik tanpa perlu memikirkan persoalan yang tak mendatangkan manfaat, terlebih filsafat dan sastra cenderung mengubah seseorang yang semestinya riang bahagia sesuai kodratnya sebagai manusia menjadi pemurung, suka memikirkan sesuatu yang tak ada juntrungannya. Cesarea digambarkan sebagai perempuan tambun, Arturo Belano pernah bertemu dengannya sebelum wafat dan ia bilang kalau tatapannya persis seperti paruh burung elang yang hendak menyasar mata seekor ayam. Cesarea Tinajero, menurut tulisan yang diterbitkan seseorang dengan nama Ulises Lima dalam koran mingguan Barcelona, nyatanya tak pernah menulis. Perempuan itu memang pernah bekerja sebagai sekretaris pribadi seorang jenderal Meksiko dan sering membuat tulisan, tetapi, maksudku ia tak pernah menulis satu pun karya yang patut dikategorikan sebagai sastra, terlepas dari entah itu prosa atau puisi. Baiklah, anggap ini sebuah kekeliruan belaka, juga kesimpulan yang terlalu terburu-buru dan mari kita buat pernyataan tersebut jadi lebih sopan: belum ada satu pun orang yang pernah menemukan karya sastra milik Cesarea Tinajero, baik dengan nama asli atau pseudonym. Lagipula, bagaimana melacak pseudonym yang ini atau yang itu milik seseorang dengan pasti?


 


           Mungkin Artur Harahap tidak lebih dari nama samaran, begitu juga Cesarea Tinajero, karena di dunia yang tak lagi menemukan kesenangan pada cerita-cerita dan syair, semua kemungkinan hanya didasarkan pada pembuktian indrawi, empiris, alias kering. Ilmu pengetahuan menang katanya, namun kupikir ini bukan kompetisi antara seni dan sains. Lebih seperti persaingan antara bagaimana orang menyalurkan berahi, libidonya. Aku yakin kalau kau kembali ke abad 21, dengan gampangnya kau akan temukan sebagian besar orang yang masih percaya pada sastra. Beberapa di antaranya bahkan buta, taklid, sampai-sampai rela mati karenanya. Beberapa percaya pada ramalan Cesarea Tinajero, yang lain pada apa yang disebut kitab suci. Sayangnya, kau tahu, dunia jadi begitu membosankan akhir-akhir ini. Orang tak lagi percaya pada kiamat sebab percaya bahwa hal itu dapat menyumbat proses berpikir. Padahal, kiamat akan segera tiba dalam waktu tiga tahun lagi.


 


           Baiklah, kurasa cukup untuk hari ini. Lain kali jika sempat, aku akan bercerita tentang seorang penulis abad 22 yang namanya sempat masuk kurikulum sekolah dasar seantero dunia, membentang mulai dari Ciudad Juarez sampai Bogor. Setelah ini, kau boleh ambil gelasmu sendiri di dapur, tolong petiki juga buah-buah di kebun belakang yang sudah ranum. Lalu, bergabunglah dengan kawan-kawanmu yang lain sebab kita akan mengubah sejarah dengan kembali ke masa lalu dengan mesin waktu GSPR-07 v2.9.1 lite milik Sabda Armandio, kalau sempat kita mungkin akan melakukan pencarian terhadap Cesarea Tinajero. Juga Artur Harahap. Nama pertama akan membimbing kita jelang kiamat nanti. Dan nama terakhir akan kita bawa dan adili, tentu saja karena karya-karyanya telah membikin banyak orang hilang harapan.


 


Sampai jumpa.


 

Jumat 05 Juli 2019
68
3 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Riza D.

rizaismus

Il n’est pas de sauveurs suprêmes

Tuliskan tanggapanmu tentang Catatan XVII

Baca karya Riza lainnya

Catatan XVII

Cerpen oleh Riza D.

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah