Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Pengarang Tak Jadi Mati

Oleh rizaismus

“Bung, kau tahu apa yang lebih buruk dari ungkapan bahwa tuhan telah mati?”


           Sejujurnya, Kinoy adalah jenis kawan yang tergolong langka di era spiritualitas baru ini. Dia bisa menyenangkan sekaligus menyebalkan di saat yang bersamaan. Semisal, dia akan memberimu sejumlah petuah filosofis, atau minimal satu pengetahuan baru, setiap harinya. Aku yang dasarnya memang berotak bebal, terlebih tak begitu urus soal apakah hidupku sudah bermakna dan bagaimana aku memaknainya, akan merasa telah diberikan semacam pencerahan yang meskipun terdengar konyol juga muluk-muluk, tetapi cukup untuk membuatku angguk-angguk kepala saat dia dengan begitu sopan dan imutnya memintaku untuk membayar sepiring nasi rames serta segelas es jeruk yang baru saja dia habiskan. Namun, kupikir saat ini, aku takkan setolol itu untuk terus teperdaya oleh muslihat Kinoy setelah berkawan dengannya sejak dua atau tiga tahun lalu semasa kami masih jadi mahasiswa semester enam.


           “Bahwa tidak ada masalah serius dalam dunia filsafat selain persoalan bunuh diri?” Aku menusuk satu-satunya udang yang tersisa di piringku. Seingatku, total ada sekitar enam, tujuh udang terselip di antara kentang balado yang dipotong kubus. Aku tak pernah melewatkan lauk yang satu ini memang. Sekalipun, mesti mengenyahkan capcay, usus, ati ampela, atau sosis asam manis ketika keuanganku memasuki masa-masa jenuh. Dan entah kenapa hari ini, aku dengan begitu percaya dirinya mantap dengan keputusanku untuk melahap satu-satunya udang yang tersisa. Mungkin, kupikir, alam bawah sadarku, setelah sekian lama serta sekian banyak dorongan bodoh yang kuikuti atas nama hati nurani, terbangun kalau saat ini di hadapanku terhidang sayur buncis, ati ampela, dan ayam goreng yang masih utuh.


           “Emm.. Ya.. Mungkin itu pandanganmu, jadi aku tak bisa menyalahkanmu seutuhnya,” Dengan sendok dan garpu terangkat, Kinoy menengadahkan kepalanya, “Tapi, menurutku, bung, ungkapan bahwa pengarang telah mati ketika karyanya diterbitkan-lah yang lebih buruk.”


           Demi mendengar itu, aku menelan udang yang baru memasuki tahap setengah kunyahan, lalu menoleh ke arah Kinoy yang masih mengerutkan alisnya dan menatapku tajam. Sejenak aku hanya melotot ke arahnya, lalu, “Ya. Tepat setelah tulisan kita terbit, pembaca akan tergoda untuk membeli, setelahnya produk laku keras, dan perusahaan akan mendapat profit selangit. Namun. Ya! Pengarang mati karena bayaran kita terlampau rendah. Kau benar, bung! Demi otak udang, sekali ini aku sepakat denganmu!” Sebetulnya, kemarin pun aku sependirian dengannya. Begitu pula kemarin-kemarin yang lain dan, “Biar aku yang bayar nasimu hari ini. Sudah semestinya kita berserikat, bukan?”


           “Bung, kita cuma berdua di posisi copyywriter, bakal sulit menghadapi selapis atasan. Serikat identik dengan pendidikan ideologis, diskusi-diskusi semalam suntuk, dan rapat-rapat di akhir pekan, belum lagi aksi-aksi massa. Aku tak yakin bisa menyanggupinya. Aku harus menjemput pacarku tiap malam. Lagipula, aku sudah janji bakal menikahinya sehabis lebaran tahun depan.”


           Untuk seseorang yang tak punya kekasih sepertiku, ide itu mungkin terdengar brilian. Aku kembali tertunduk menghadapi piring yang isinya belum habis setengahnya dan mulai kembali makan dengan kekhusyukan dua kali lipat. Kinoy juga melanjutkan kesibukannya, seketika bungkam, barangkali merasa tak enak dengan sikap diamku dan curiga kalau aku kecewa padanya.


           Hanya ada suara-suara dengung orang berbicara dari meja-meja lain yang mengisi ruang udara di meja kami. Bunyi kelontang dari sepasang sendok garpu dan piring memberi isyarat bahwa Kinoy telah menyelesaikan hajatnya. Aku merogoh saku kemeja, meraih sebungkus rokok sekaligus korek api, lantas meletakkannya di atas meja. Dengan sigap, jemari Kinoy menghampiri keduanya.


Senin 08 Juli 2019
47
3 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Riza D.

rizaismus

Il n’est pas de sauveurs suprêmes

Tuliskan tanggapanmu tentang Pengarang Tak Jadi Mati

Baca karya Riza lainnya

Pengarang Tak Jadi Mati

Cerpen oleh Riza D.

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah