Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
RESENSI

'Us': Otokritik si Anak Zaman

Oleh sobrunjml

Orang-orang seantero Hollywood sedang kagum kepada Jordan Peele, thriller dengan bumbu fiksi ilmiahnya mengundang decak kagum para penikmat sinema layar lebar. Film 'Us' seketika segera akan menjadi anutan baru dalam konstelasi per-thriller-an, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Kita akan sedikit mafhum dengan kekaguman ini, mengingat kesadaran 'ada diri di dalam diri' sangatlah asing bagi atmosfer berpikir orang barat. 'Us' menemukan bahwa ternyata ada banyak anasir yang membentuk kesatuan diri, yang kemudian penulis naskah memilih untuk memfokuskan film ini pada anasir jahat di dalam diri (disimbolkan oleh doppelganger-nya keluarga Gabe Wilson). Meskipun nyuwun sewu, di Jawa kami sudah sejak lama mengenal falsafah 'sedulur papat limo pancer'. Bahwa manusia selalu memiliki 'kembaran' yang berdiri di kiri, kanan, depan, belakang, dan dalam. Ada yang mesti dihabisi, dikokohkan, ditumbuhkan, dikurangi, atau ditambahi. Kelimanya senantiasa berusaha untuk saling mengalahkan. Kita kenal proses itu sebagai pengenalan diri.


 


Lalu seorang kritikus film sekali lagi memuji Peele: "Dia mengingatkan pada kita semua bahwa musuh terbesar adalah diri kita sendiri". Oke, globalisasi, modernitas, industrialisme, kapitalisme, serta paham-paham lainnya yang serba berangkat dari hasrat egosentrisme memang akan segera sampai kepada puncak kebusukannya. Walau kedengaran sedikit terlambat, tumbuhnya kesadaran otokritik ini patut kita apresiasi dan kita tumbuh kembangkan. Di Jawa, sekali lagi, manusia telah mengenal konsep 'pati geni' (mematikan api). Dirimu adalah geni, api, yang sepanjang hidup harus terus menerus kamu perjuangkan untuk tidak terlalu besar kobarannya sehingga dapat membakar dirimu sendiri. Sepanjang hidup manusia mesti mengendarai angin, mengolah udara, dan mengatur suhu. Agar kemudian sanggup juga untuk mengendalikan api di dalam diri. Menaklukkan musuh pada diri sendiri.


 


Di belahan bumi lain yang jauh dari tanah Paman Sam, Januari lalu, ada pentas teater berjudul 'Sengkuni2019' yang naskahnya ditulis oleh Emha Ainun Nadjib. Serupa tapi tak sama dengan pesan yang ingin disampaikan Jordan Peele, Sengkuni bangkit dari kotak masa lalu Ki Dalang dan berteriak lantang dari balkon zaman:


 


Mana sih Sengkuni yang paling kau benci?


Berkacalah di cermin


Apa bukan wajahmu sendiri?!


 


Menjadi semacam kebutuhan bagi abad mutakhir ini, sebuah sikap ke-rendah hati-an dan keberanian untuk melontar kritik kepada diri sendiri, sekaligus menagih itikad problem solving kepada diri sendiri di tengah kekacauan dunia. Membunuh ego, duhai betapa sulitnya.


 


Saya pun yakin Jordan Peele tidak sekadar 'menempeleng' isu rasisme dan kelaparan. Kalau Adelaide, Gabe dan dua anaknya baku tikam dengan doppelganger-nya masing-masing, itu pasti juga protes terhadap dunia untuk kasus perebutan SDA, invasi dan infiltrasi negara adidaya, penjajahan cara berpikir, racun medsos, manipulasi neraca ekonomi global, sihir sistem pendidikan dan banyak peperangan lainnya. Sebab akar dari kesemuanya ialah sama, yakni kalahnya satu anasir oleh anasir lain di dalam diri manusia. Bukan sekadar hitam melawan putih tentu, itu wacana kuno yang tidak lagi relevan sebab manusia mengandung lebih banyak warna di dalam tubuhnya. Android saja 16 juta warna, mana mungkin manusia yang ahsani taqwim ciptaan Allah itu kalah kaya dibanding segenggam gawai.


 


Oh, maaf, katakanlah proyeksi yang seperti itu terlalu jauh dan terkesan ndakik bagi hidup kita yang asor lagi jelata ini. Tapi bagaimana dengan kampanye salah satu paslon yang tayang di layar awal sebelum film mulai? Atau satu dua perkakas dapur yang diterbangkan istri ke arah suami karena si suami terciduk selingkuh di luar rumah? Doppelganger pasti telah berhasil menikam otak kita dengan gunting!


 


Pamulang, 2 April 2019.

Selasa 02 April 2019
181
3 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Sobrun Jamil

sobrunjml

Menulis sebagai salah satu format komunikasi sosial. Bisa dikunjungi di alamat: penasambelteri.wordpress.com, sekian.

Tuliskan tanggapanmu tentang 'Us': Otokritik si Anak Zaman

Baca karya Sobrun lainnya

'Us': Otokritik si Anak Zaman

Resensi oleh Sobrun Jamil

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah