Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Beritahu Aku Tentang Harimu

Oleh tiwisgood

Bagaimana perasaanmu hari ini?


 


Aku tersenyum mengingat betapa seringnya seseorang bertanya tentang perasaanku yang aneh dan memiliki moodswings yang sangat buruk ini. Aku ingat, setiap aku merasa kondisi mentalku tidak stabil, ia selalu memaksaku untuk berbicara, lalu ia akan memarahiku sedikit hingga aku menangis dan perasaanku merasa lega. Ia bilang, aku tidak boleh malu untuk menangis. Seseorang memiliki hak untuk menangis, tidak peduli tentang apa gendermu.


 


-


 


Aku mengenalnya secara tidak sengaja. Dia adalah seorang ekstrovert yang memiliki banyak teman dari ujung hingga ke ujung dan aku hanyalah seorang introvert yang kesulitan mencari satupun teman, serta setan di kepalaku. Kita mengenal dengan sebuah salam perkenalan.


 


-


 


“Aku tidak mengerti seberapa banyak pun aku mencoba untuk berbaur dengan sekitarku, aku masih merasakan getaran tidak nyaman dalam diriku” ucapku pesimis, menghela napas dan memainkan kedua kuku ibu jariku.


“Lepaskan itu jika hanya membuatmu merasa tidak nyaman” ucapnya, sambil menatapku dengan sedikit intens.


“Tidak, nanti aku tidak akan dianggap ada” aku menghembuskan napasku.


“Kau bukan hidup untuk mereka. Biarkan aku bertanya satu pertanyaan, apakah kau bahagia?” ia menatapku dengan sebuah tatapan yang sarkas—tapi tidak, dia menguatkanku.


“Tidak”


“Maka lepaskan. Kebahagian dirimu sendiri harus selalu datang pertama. Kau harus bahagia” air mataku menetes keluar dengan memaksa, ia menghapus tangisku dengan kedua tangan lembutnya dan membawaku kedalam pelukan hangatnya.


 


-


 


Bagaimana harimu hari ini? Aku ingin menyapamu dengan sebuah kata, tapi aku terlalu pecundang untuk berbicara.


 


-


 


“Aku melakukannya” aku menunduk, dan ia menggenggam kedua tanganku dan mengelus pergelangan tanganku yang luka.


“Tidak apa, semua orang memiliki cara masing-masing untuk menjernihkan pikiran mereka sendiri. Dan inilah caramu merasa lega” kau menatapku sambil mengelus surai rambutku. “Tapi aku ingin kau berhenti. Aku ingin melakukannya juga di hadapanmu, agar kau mengerti bahwa aku juga merasakan sakit. Dunia ini memang menyedihkan dan membuatmu merasa sangat buruk, tapi kau tidak sendiri. Akupun ada disini” tambahnya sambil menatapku. Air mataku menetes, lagi.


 


Mengapa rasanya aku selalu menjadi lemah di hadapannya?


 


“Jangan, jangan pernah” ucapku.


“Kau itu seorang submisif yang selalu berlaku tangguh dan selalu beranggapan bahwa kau seorang dominan. Kau tidak, kau hanya butuh seseorang yang mengerti akan keadaanmu” dia tidak menanggapi ucapanku dan tersenyum.


 


“Berjanjilah padaku untuk berhenti melakukan itu” ia mengelus pipimu. “Kau itu pantas untuk bahagia, sekarang hanya belum waktunya”


 


-


 


Ia menatapku dengan seribu bintang yang menghangati diriku dari tatapannya. 


 


-


 


Waktu berakhir. Aku yang memiliki kondisi mental yang buruk ini selalu datang padanya saat pikiranku mengerang dan mataku terasa basah. Aku yang selalu menutup cakaran pikiran di kedua tanganku dengan sweater lusuh berwarna abu-abu ini akhirnya tidak tahu batasku sendiri. Aku terlalu bergantung kepadanya, dan dia mulai sakit tinggal terlalu lama disampingku.


 


Ia meninggalkanku.


 


Tidak dengan sebuah salam, namun hanya pergi bak angin yang baru saja lewat.


 


Ia masih ada disana, tapi lebih memilih untuk tidak merasakan keberadaanku yang terlalu bodoh.


 


-


 


Maaf aku tidak tahu untuk pergi kemana.


Hari ini terasa berat dan aku ingin mendengar suaramu.


Maaf untuk menjadi seorang egois yang selalu berpikir tentang diriku sendiri.


 


Hai, selamat sore,


Coba beritahu aku tentang harimu.


 


 

Jumat 12 April 2019
90
5 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Ratih Dwi Pratiwi

tiwisgood

a catastrophe for others.

Tuliskan tanggapanmu tentang Beritahu Aku Tentang Harimu

Beritahu Aku Tentang Harimu

Cerpen oleh Ratih Dwi Pratiwi

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah