Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
PUISI

Aerophobia (bagian III)

Oleh triskaidekaman
Yang pertama ia pindai:
Itu gulma yang dibubur
Lalu kaldu miang encer dipupur
Lalu polong telanjang ditabur
Lalu buah rajang sembarang dicampur
Perlahan lidahnya mundur teratur
Menelan
Menelan dan menelan
Menelan dan menelan dan terlena
Ada gerakan
Ada angin
Ada pemberontakan
Perubahan ketinggian
Perhatian, perhatian!
Guncang
Lampu sabuk menyala
Ia merapal
Maki-makian yang itu
Sepotong ralat
Doa-doa yang dia hafal
Lalu ia pontang-panting ke kamar mandi
Tak lupa membawa korannya, matanya, doanya, awannya, dengung kupingnya
Semua ia tumpahkan habis
Hingga mereka terbilas
Bersama makanan yang telah mengampas
Lalu ia ingat, ada yang belum
“Mungkin nanti
Sesampainya di bandara berikut saja”
Ujarnya sambil meringkukkan badan
Membiarkan telapak-telapaknya dingin
Dengung kupingnya kini bukan main
Jempalitan
Menumpahkan isi perut
Isi dada
Isi hati
Isi kepala
Semoga masih ada waktu
Sampai ke bandara berikut


Jakarta, 10.02.2018
Sabtu 10 Februari 2018
57
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Henny Triskaidekaman

triskaidekaman

Penulis [novel] Buku Panduan Matematika Terapan (Gramedia Pustaka Utama, 2018) * 1st Winner of 2017 Unnes International Novel Writing Contest * daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2017/18 kategor...

Tuliskan tanggapanmu tentang Aerophobia (bagian III)

Baca karya Henny lainnya

CERPEN

Menelikung Archimedes

Senin 27 November 2017
-
141
PUISI

Cara Menyusui yang Baik dan Benar

Selasa 28 November 2017
-
105
CERPEN

Sesuatu yang Tanpa Nama

Minggu 03 Desember 2017
-
173

Aerophobia (bagian III)

Puisi oleh Henny Triskaidekaman

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah