Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
Kolaborasi Penulis Vol 2

Perayaan Ruang Relung

<p>Apa kabar aksara? Apa kabar kata-kata? Apa kabar teks? Sastrawan Indonesia Subagio Sastrowardoyo pernah mengatakan bahwa Asal mula adalah kata/Jagat tersusun dari kata/Di balik itu hanya ruang kosong dan angin pagi. Dari titik pijak itu, kami segenap tim Penakota.id akan mengadakan sebuah proyek kolektif lewat medium kata.</p><p>Proyek kolektif ini kami namakan Perayaan Ruang Relung. Manusia hidup dan bernapas selalu memiliki cerita. Sir Pentoel mengajak para pengguna (user) Penakota.id untuk berkumpul dan berkenalan. Lewat teks, kata, puisi, cerita, desas-desus, hingga bualan belaka. Semua diizinkan! Semua boleh dan bebas menyuarakan pendapatnya!</p>
Kumpulan Baris

Aku meninggalkanmu di dalam kawah yang dikelilingi puing-puing kehancuranmu sendiri

Yang berjuta tahun cahaya takkan hilang asap debu meski ditentang ego asteroid

Aku menanggalkanmu dari jejak almanak yang menempel di tubuhku; tak dapat menunggalkanmu.

Aku membual, justru akulah yang bergeliat menyesap anyir diri atas ketidakberdayaan meninggalkanmu

aku terdampar di ruang hampa ini setelah aku meninggalkanmu

menggigillah kau atas waktu yang hangus atas doa dan dosa yang menghunus

memanggul ketiadaan yang melarikkan cabik pada tepi-tepi kilahku

termanggu akan ruang yang mengatasnamakan lara, apa ini perayaan yang sesungguhnya?

Sialnya aku harus berdamai dengan malam, berjabat tangan dengan muram

Dapurmu belum dituntut terus mengepulkan asap, jadi lakukan dulu apa yang diinginkan.

Bila kiranamu sekarat, kecup kawanannya. Karena ribuan asa menggantung, menantikan akrab pelukmu

Kesetiaan menunggumu telah berakhir, namun kenangan yang timbul tetap mengharap ditemui(mu)

Maka biarkan aku terbang bersama burung-burung itu

Heningku memikirkanmu yang dingin tak ingin bersua denganku yang telah lama menantimu

aku belajar melupakanmu dari sekarang, untuk mempersiapkan perpisahan kita suatu saat nanti..

Rasa ini takkan punah, tetap utuh walau kita berpisah.

dan menghilang di dalam ucapan “semua demi kebaikan”

padahal tidak pernah ada perpisahan yang baik-baik saja

karena bagiku yang baik-baik saja adalah aku dan kamu satu menjadi kita,

kaukah itu, melambaikan tangan nun jauh di hilir; melontai takdir.

Kaukah itu, meneriakkan asma dengan cuma-cuma

lembut menyentuh gendang telinga merambat ke relung sukma

Ciumanmu seperti: kota pertama yang disinggahi penyair di rindu musim dingin.

Ombang-ambing sanak pikirku oleh rasamu

Kapan kelam pikirku akan disirnakan sinar yang tak kuketahui asalnya?

Yang kutau sinar matamu justru menambah kelam dadaku, menuju engapnya rasa.

Yang dengannya rindu menguap dari jendela mata dipertengahan musim gugur

Seakan tahu rindu ini takkan tertuju

Meski begitu, aku tetap ingin menghujanimu.

Namun begitu, aku tak ingin menyentuhmu

Namun kini, kita membelenggu mengasihi gelapnya waktu di ujung sendu

Dan terdiam menikmati hembusan angin yang tak tentu arah

Kepadanya diberi waktu bersemayam bahagia, laksana rintihan pedih terpendam.

Damai adanya, seolah tanpa dendam

Sejenak menyesap aroma pagi, merekahlah tawa dikelopak jiwa

Biarlah senyuman itu menghapus rindu dalam rongga dada

Rindu yang kau buat namun tak pernah kau beri obat

seperti bulan di malam sepi yang merindukan sahabat

Dan rinduku seketika meranggas, pergi tanpa bekas

Segalanya meluap bagai asap, enggan pulang, hanya meraup kenang tanpa pulang

Demikianlah, aku kembali tertatih menjaram rindu yang tak berkesudahan

Di dalam doa; anatomi tubuhku menjadi kata-kata yang tak habisnya merintih

Menyuara dalam goresan, berontak tiada berperi

Tapi dunia yang dingin buatku tak bergeming

Di tengah beku, selaksa suara memanggil, dari ujung pusara pikirku yang mati

Pada akhirnya, aku tak bertepi pada realitas—imaji yang ada pada ruang matamu

Hingga menuai lintas dipikiranku terngiang akan sejuknya ketenangan ilahi

Gelap nan kosong tak mampu lagi berduai dengan keabadian

Baris Info

Joe Taslim
Joetaslim

" Karena aku juga begitu "