Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

POSTHASTE: Tubuh Indonesia yang Polifonik

Jumat 23 Juni 2017
288

Penakota.id - Apakah persepsi? Apakah bunyi? Apakah bahasa? Apakah ruang? Apakah tubuh? Pertanyaan pertanyaan tersebut hadir lewat POSTHASTE (sebuah pergulatan 34 tahun) Teater Payung Hitam dengan sutradara Rahman Sabur. Posthaste diselenggarakan pada 17-18 Mei 2017 di Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta dalam program Djakarta Teater Platform. Sebuah program dari Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk praktek-praktek teater mempertaruhkan nilai tukarnya antara riset, pertanyaan dan kebe­basan. Demikian bunyinya.

Posthaste yang secara etimologi berarti dengan kecepatan tinggi. Benar-benar mempresentasikan dan merepresentasikan makna kecepatan itu sendiri. Posthaste merupakan representasi dari kondisi alam, sosial politik maupun sejarah Indonesia. Membangun dan runtuh kembali. Berjalan, jatuh atau tertimpa yang jatuh. Kondisi penuh gelombang perubahan, bencana alam, keberagaman sosial-budaya. Ruang hidup dialami sebagai ruang emergensi, urgen. Disposisi dinding-dinding yang menampilkan kekuasaan; mayoritas di atas minoritas. Kampanye hitam terhadap kelompok-kelompok yang tidak disukai. Diskriminasi terhadap homoseksual. Posthaste menjadi inti waktu dan ruang untuk setiap orang memiliki “managemen emergensi” agar bisa keluar dari situasi yang secara tidak sadar mencederai humanisme. Demikian kembali bunyinya dalam katalog pertunjukan.

Bagi saya, menyaksikan teater tubuh jelas memberikan ekstra imajinasi dan tafsir (nalar) yang plural dan tidak tunggal. Di sini saya akan menjadi tubuh-ketiga yang bukan hanya mereportase lalu pulang, namun mencoba untuk kembali mempertanyakan partikel-partikel yang ada di paragraf pembuka.

Adegan bermula dari sebuah infus dengan cahaya putih, berjalan dari sisi kiri menuju tengah panggung dengan perlahan-lahan. Tak lama, cahaya padam. Kemudian, seseorang berbaju hitam datang menuju sebuah warung untuk memasak sesuatu. Namun, tiba-tiba saja perkakas di warungnya seperti spatula, wajan dan lain-lainnya jatuh, begitu juga dengan warung dan orang tersebut ikut ambruk. Tak lama kemudian. Seseorang lainnya datang membaca koran dan duduk di atas televisi. Televisi menyala dan seseorang masih membaca koran di atasnya. Seseorang membaca, mendelik, melihat, dan lamat-lamat kertas koran yang dibacanya seolah memiliki daya tarik magnet untuk mendekat ke mulut orang tersebut. Kertas koran yang tadinya dibaca, kini berpindah ke mulut orang tersebut. Kertas koran itu dikunyahnya pelan-pelan, diiringi dengan racauan. Tubuh yang memakan koran itu seperti bukan tubuhnya. Tapi, kertas koran itu masih dimakan dan terus dikunyah. Alegori masyarakat yang mulai muak dengan ragam media yang memberitakan sesuatu tanpa jelas hulu dan hilirnya. Kepekatan hoaks yang merajalela atau tidak lah berdaya guna arus media utama yang seliweran di banyak benak masyarakat?

Selanjutnya, seseorang berkepala plontos dengan pakaian daster berwarna putih berusaha keluar dari lemari bekas yang rusak. Lemari tersebut digoyang-goyangkan dari dalam. Ia berhasil keluar. Ia memegang celana dalam merah. Galon jatuh dari atas dan tepat mengenai kepala si plontos. Penonton tertawa. Seperti tak terjadi apa-apa, ia terus berjalan dengan memegang celana dalam merah. Lalu, lama-lama tempo beranjak kilat. Benda-benda berjatuhan kembali. Jerigen dan berbagai reruntuhan mengacaukan seisi panggung (atau memang itu natur sesungguhnya). Ia berusaha untuk memakai kembali celana dalam, tetapi barang terus berjatuhan dari berbagai sisi. Galon, jerigen, juga runtuhnya dinding-dinding, meja, kursi, dan berbagai perkakas lewah berhamburan tak karuan.

Panggung seperti kapal pecah. Seperti tidak ada jeda untuk penonton dalam menghela napas. Yang saya mafhumi, adegan-adegan Posthaste bukan pada struktur naratif dan linear. Bukan pada koherensi dan keruntutannya. Melainkan sirkumstansi dari perpindahan yang cepat, cerkas dan menggambarkan situasi sosio-politik yang berkembang di masyarakat. Di zaman yang penuh dengan citraan, dan arus informasi yang deras, kesahihan (genuine) sebuah gambar dan gagasan bukan lagi yang utama. Melainkan siapa yang cepat beraksi dan bereaksi terhadap kondisi sekitar, lewat tilik pandang di layar terdekat: gawai, laptop dan sebagainya.

Benny Yohannes dalam suatu diskusi Tubuh Teater Tubuh di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (21/12/16) mengatakan bahwa dalam konteks simbolik, teater tubuh terdiri dari: Tubuh spiritual berdasarkan ekspos kesadaran dengan yang subtansial seperti halnya seni ritual. Tubuh Ludik yang berkaitan dengan fleksibilitas tubuh. Tubuh Artistik yaitu tubuh sebagai manifestasi seni, dan Tubuh Kosmetik yaitu tubuh yang lahir dari legitimasi budaya. Beberapa gagasan ketubuhan itu saya kira termanifestasi di Posthaste lewat laku tubuh yang intens, kebendaan yang wadak dan aura yang magi.

Tubuh dan Persepsi

Aktor plontos berbaju putih itu menjadi domain naratif dan berkali-kali menjadi pihak yang tertindas: ketika ia berdiri di depan dinding dan kepalanya diciduk dengan saringan, dan setelah itu ia juga beberapa kali menjadi ‘sampah’ di jalan dan disapu oleh tokoh berbaju hitam. Jatuh, bangun, jatuh, bangun.

Sementara itu, pada situasi yang lainnya, ia naik lemari bekas untuk dapat mengambil layang-layang yang nyangkut. Kemudian ia memainkan layang-layang tersebut dan seperti akan terjatuh. Ketika akan terjatuh, kedua orang berbaju hitam datang dengan membawa tongkat panjang. Ujung tongkat itu berguna untuk mengaitkan kedua lengan si plontos untuk berdiri di atas udara tanpa alas. Lalu, si plontos yang hampir jatuh itu, menari-nari dengan kedua tongkat penyangga di udara. Seperti sirkus.

Tubuh manusia, dalam berbagai bentuknya memang cuma seonggok daging dan tulang. Tetapi tatkala tubuh itu telah berpadu dengan ruh, eksistensi manusia sebagai individu serta merta terkait dengan berbagai hal. Berbicara tubuh, maka studi historis tentang tubuh kerap berkelindan dalam narasi Posthaste. Sebagaimana yang dikatakan oleh Foucault, bahwa tubuh akan menjadi sebuah kekuatan yang berguna, jika tubuh itu produktif dan berada dalam ketundukan. Tubuh yang patuh ini juga merupakan tubuh yang produktif.

Perkembangan masyarakat dengan sistem kapitalisme global, membuat masyarakat modem terjebak pada sebuah era eksplorasi dan eksploitasi tubuh. Itulah mengapa Foucault mengatakan bahwa tubuh manusia merupakan tempat yang paling esensial untuk pengoperasian kekuasaan.

Bila kita melihat lebih jauh, pada zaman Victoria, tubuh yang ideal adalah tubuh yang gemuk. Tubuh yang gemuk adalah tubuh yang melambangkan kemakmuran pada zaman tersebut. Postur tubuh yang demikian diasumsikan ideal karena dapat bersanding dengan tubuh laki-laki yang pada saat itu tipikal idealnya adalah yang bertubuh kekar dan kencang. Lukisan Piere-Aguste Renoir yang berjudul Blonde Bather menjadi representasi tubuh ideal. Dalam lukisan tersebut digambarkan perempuan tanpa busana yang bertubuh gemuk sebagai lambang kecantikan. Seiring dengan pergeseran jaman dan munculnya revolusi industri, konsepsi tentang tubuh ideal pun berubah. Pada abad ke-20, tubuh yang ideal adalah tubuh yang langsing dan memiliki otot.

Romantisme tentang tubuh terus berkembang melalui ilmu pengetahuan yang awalnya dijabarkan oleh lukisan tentang anatomi tubuh oleh Leonardo Da Vinci dalam tubuh manusia vitruvius. Proporsi dan simetris merupakan faktor yang dianggap Vitruvius mempengaruhi keindahan tubuh. Tapi, apa itu keindahan? Saya melihat dengan gamblang tubuh-tubuh yang jatuh, roboh, runtuh dan terus bertahan dengan segala dialektikanya dengan kebendaan dan berbagai kondisi chaos. Manakala dinding-dinding yang bergerak dengan cepat dalam adegan yang trance, gesit, tanpa jeda dan silih berganti aktor-aktor berganti isu dan bercokol pada tematik bernama kehancuran. Bukankah itu adalah keindahan yang lain?

Di dalam Phenomenology of Perception, Merleau-Ponty mendekripsikan pengalaman perseptual manusia melalui tubuh dalam persentuhannya dengan dunia. Sebentuk eskalasi dan eksistensi. Saya melihat tubuh Posthaste dengan segala determinasinya berusaha untuk merefleksikan dirinya dengan semesta dan mengenali bahwa tubuh mengada dalam dunia. Bukan sekedar kumpulan partikel, namun memiliki makna dan memaknai dunianya.

Tubuh perempuan dan tubuh lelaki dalam beberapa adegan tidak memiliki batas-batas khusus. Daster yang biasa dikenakan perempuan dalam kehidupan domestik sehari-hari, dikenakan pula oleh tokoh laki-laki. Nir-stereotip tersebut menegaskan bahwa kita tidak dapat menghakimi tubuh seseorang dari kerangka pola pikir usang. Saya memandang persepsi dan tubuh Posthaste semacam: androgini, narasi dari minoritas yang tertindas, perlawanan dari penghakiman yang kerdil, dan tarik menarik antara anomali oposisi biner.

Bunyi dan Bahasa

Di awal-awal adegan Posthaste, saya mendengar bunyi yang minim, lalu beranjak ke tengah dan akhir, bunyi kian padat dan pekak. Adegan-adegan yang memiliki banyak bunyi jelas terdedahkan dari jatuhnya barang-barang dari atas panggung. Perkakas, jerigen, kursi, dan meja yang hancur. Serta dinding yang terus menerus bergerak dan berganti satu sama lain sebagai jembatan pergantian isu. Bunyi yang acak dari pertemuan benda-benda tersebut menghasilkan ragam onomatope. Sebuah gambaran semakin ‘berisiknya’ Indonesia dari perspektif katastrof.

Meski bunyi-acak dominan dan kerap menghasilkan derau, saya pun mendengar bunyi-mimesis yang keluar dari reproduksi humming. Ada tiga kali suara yang keluar. Pertama adalah ketika tokoh berbaju hitam gondrong melakukan senandung dan dengung, kemudian disusul oleh tiga orang yang kepalanya dipendam di tembok. Tiga orang tersebut mulutnya dipakaikan pita perekat. Mereka tidak dapat bersuara. Lalu ketika tokoh berbaju hitam dan gondrong membukanya, maka ketiga orang tersebut dapat mengeluarkan suara. Suara yang keluar adalah hasil dari proses imitasi lewat konduktor. Mereka bernyanyi dengan teknik humming dan gumam. Selain itu, suara sirine juga kerap berkumandang sebagai tanda bahaya. Kemudian tubuh-tubuh tersebut dengan lugas dan cepat bergerak untuk mengeluarkan banyak perkakas dan piranti yang berserakan. Semacam tubuh dan suara yang patuh akan represi.

Bunyi-bunyi pada Posthaste bukanlah musik yang direncanakan dengan harmonis maupun latar suara untuk penguat adegan. Bunyi bahasa pun juga tidak hadir, karena produksi nasal dan oral pun tak keluar. Hanya gumam, teriakan, gesekan, pantulan, akustik ruang dan bunyi-acak yang meneror maupun laku non-verbal yang melampaui drama itu sendiri.

Ruang dan Waktu

Kita bisa melihat ruang dan waktu menurut diktum Newton atau Einstein. Tentang yang absolut atau relatif. Dan kita pun bisa melihat dengan transparan, bahwa ruang dan waktu yang relevan pada pertunjukan Posthaste adalah ruang dan waktu yang saling silang dengan konflik dan sengketa.

Suara gergaji mesin terdengar gagah, lantang dan mengerikan dari balik backdrop berwarna merah dan  putih. Tokoh berbaju hitam dan gondrong kembali menjadi stimulus bagi tokoh berkepala plontos. Tubuh si kepala plontos berada di atas kursi panjang dan menunduk dengan setengah telanjang. Ia beberapa kali mengayunkan tongkat panjang dengan gerakan yang acak. Lalu gergaji mesin yang dipegang tokoh berbaju hitam dan gondrong, menghancurkan kursi panjang tersebut. Si plontos jatuh bersamaan dengan backdrop berwarna merah dan putih tersebut. Saya pribadi melihatnya sebagai kekerasan simbolik terhadap alam. Kursi sebagai entitas kayu yang berasal dari pohon, ditebang dengan gergaji mesin. Kita bisa melihat lingkaran kapitalis bekerja.    

Selanjutnya pada adegan ketika pot berisi tanaman disiram si plontos lalu dipeluknya dengan hangat, kemudian keluar panggung. Simbol dari hilangnya ruang-ruang terbuka dan ruang hijau dalam lanskap perkotaan.

Ruang dan waktu pada Posthaste adalah gelimangan fragmen dan lanskap yang terkikis dalam masa yang tak tentu. Konflik agraria, sengketa tanah, hegemoni penguasa terhadap kaum marjinal dan sebagainya. Ada semacam jarak antara konsep ideal kebijakan dan realitas ruang publik. Di beberapa adegan, Posthaste seperti mempertanyakan hak atas kota, seperti yang dikemukakan Henri Lefebvre. Bahwa masyakat penting untuk selalu memperjuangkan ruang sebagai bagian dari kedaulatan penghuninya.

Epilog

Menonton Posthaste seperti kita sedang meluncur di kanal mesin pencari dengan beragam isu sosial, informasi, dan berita. Kasus Munir dan HAM yang tak kunjung menemukan titik terang. Bencana alam, politik identitas, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, represi terhadap gerakan-gerakan perlawanan dalam kasus pembangunan pabrik semen, fasisme religius dan sebagainya. Kita sebagai warganet mengalami jukstaposisi, antara harus tarik menarik dengan isu A, atau isu B, atau isu C terlebih dahulu, atau mungkin tidak terlibat dengan semuanya akan menjadi lebih baik.

Tapi, apakah yang dimaksud lebih baik itu? Menurutmu dengan duduk bersantai, mengisap rokok dan menyesap kopi diselingi pisang goreng adalah hal yang lebih baik? Atau ketika kita bercengkrama dengan handai taulan di kedai kopi membicarakan sesuatu hal, agar budaya bisa hadir di tengah-tengah kita? Ataukah ketika kita bersuara lantang dengan pelantam di jalan raya, membuat semuanya akan baik-baik saja? Atau tidak baik-baik saja? Atau tidak ada bedanya semua? di manakah versi lebih baik itu bermuara?

Posthaste menunjukan sisi sentimental Indonesia dari banyaknya katastrof dan tubuh yang bermain dengan pelbagai persoalan isu dan identitas. Ledakan di ruang publik, penghakiman lewat politik identitas, kebencian terhadap keragaman dan isu kontemporer yang sarat dialektika. Semacam tubuh yang polifonik. Multidimensi, majemuk, plural dan menawarkan banyak perspektif. Dinding-dinding Indonesia dapat dilihat lebih luas dari cakrawala tubuh yang polifonik. Berbagai agama, suku bangsa, ras, adat, kepercayaan dan keragaman lainnya menjadi entitas nyata dari moto Bhinneka Tunggal Ika.

Teater Payung Hitam tahu benar bahwa representasi Indonesia dari katastrof tidak bisa maksimal bila disampaikan dengan verbal. Kita sudah terlalu terlanjang. Dan Posthaste memberikan bentuk dan isi yang dinamis tanpa harus menjelaskan sesuatu kepada penonton. Hal tersebut menawarkan banyak interpretasi yang bergantung pada asosiasi pribadi dan horizon pembacaan. Perpektif yang luas bila kita melihat Indonesia. Melihat nusantara dari tubuh-tubuh yang bergelimang makna.

 

Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

(penakota.id - glp/fdm)

Artikel Terkait

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah