Kagum pada Penulis Puisi Cinta
GAYAHIDUP
calendar
23 Jun 2017 11:00
view
197
Kagum pada Penulis Puisi Cinta

Penakota.id - Saya suka sekali membaca puisi-puisi tentang cinta. Setidaknya saya sadar, masih banyak orang di luar sana yang tidak peduli pada isu-isu politik yang hangatnya macem tahu bulat. Orang-orang itu, adalah mereka yang masih mampu untuk mengungkapkan perasaannya. Klise sepertinya, tapi tidak sesederhana itu.

Berapa banyak orang yang stress karena memendam rasa galaunya? Atau kegirangan tanpa henti sampai tidak bisa tidur, karena chatnya dibalas si gebetan? Perasaan macam itu, adalah ledakan-ledakan jiwa yang patut untuk diungkapkan. Namun tidak semua punya kemampuan untuk itu. Pun perasaan tersebut hanya direka-reka, buktinya hal itu bisa menyentuh hati saya sebagai pembaca. Sama dengan berita bohong, yang dapat membuat saya percaya sedemikian rupa.

Mereka yang menulis puisi cinta, termasuk saya, adalah yang mampu melupakan sejenak tentang kaum proletar yang cintanya hanya sebatas nasi bungkus dan demontrasi yang kian tak tentu jawabannya. Puisi-puisi perlawanan, kritikan, pergerakan, adalah hal yang sulit dilakukan oleh saya. Pasalnya, saya hanya bisa merangkai kata, dengan daya cipta yang saya buat sendiri. Saya tidak mengerti bagaimana membuat puisi tentang buruh angkut yang jatuh cinta dengan penumpang kereta kelas eksekutif. Puisi semacam itu mungkin hanya bisa dijadikan adegan di film SCTV. Atau mungkin, Novel? Ah, ya! Cerita semacam itu bisa menjadi novel dan diangkat ke layar lebar dan diperjualbelikan demi keuntungan dan balik modal produksi. Kapitalis? Saya rasa itu herbali naturalis.

Maka kemudian, bergunakah sebuah tulisan? Jangan-jangan menulis adalah perkara bermusik. Ada yang suka rock, pop, reggae, dst. Semua orang, pada umumnya, bisa membaca sama seperti semua orang suka mendengarkan lagu. Tapi bacaan yang seperti apa, bisa jadi berbeda. Seperti misalnya, ada yang suka chicklit, teenlit, metropop, atau yang berbau sastra adiluhung. Seorang teman ada yang begitu mengagumi Tere Liye dan menganggap semua orang pasti tahu siapa dia. Padahal, saya tidak tahu ada penulis bernama Tere Liye. Kalau benar dia menulis, toh saya tidak pernah baca tulisannya dalam arti benar-benar membaca. Mungkin pernah. Tapi tidak disengaja dan tanpa niat.

Tanpa niat memang bisa berakibat buruk. Seperti yang dialami oleh mantan Kapten DKI. Ia bilang, ia tidak niat menista agama Islam. Toh, akibat tidak adanya niat, sekarang ia duduk di kursi pesakitan. Karena saya tidak punya niat membaca tulisan Tere Liye, pada akhirnya saya harus menjadi penulis luntang-lantung. Mungkin, setelah ini, saya harus mengidolakannya agar bisa menjadi penulis terkenal.

Jadi, bergunakah sebuah tulisan? Tentu berguna, jika menemukan pembacanya.

Orde Baru begitu takut dengan puisi-puisi Wiji Thukul. Tentu karena puisinya mampu membuat orang bergerak, atau setidaknya karena puisi itu mengandung kebenaran. Jadi, presiden gembul membaca puisi Wiji Thukul, dan kemudian ngumpet di dalam kamarnya karena ketakutan. Hahaha, itu bercanda saja. Mana ada hal yang ditakuti olehnya.

Semakin banyak penulis beredar, konon menjadikan minat baca meningkat. Media siber telah membantu mendorong semangat itu dengan menjadikan penulis-penulis kamar pribadi mendapatkan bayaran. Dengan menciptakan tulisan layak baca dan mutu baik, tentulah minat itu akan tumbuh. Orang akan menjadi senang membaca. Setidaknya, begitulah yang dipikirkan kebanyakan orang. Nyatanya?

Puisi cinta memang digemari oleh kaum muda. Ungkapan “Ini gue banget!” sempat beredar di hampir seluruh komentar atau postingan. Hal tersebut membuat orang lain jadi bertanya, “Seperti apa sih yang lo banget itu?” dan kemudian membaca tulisan tersebut. Sehingga menghasilkan jawaban, “Oh, ini toh yang lo banget!”

Jadi, jika memang tulisan berguna, puisi cinta digemari, penulis mendapat bayaran, dan minat baca akan semakin meningkat, saya berpikir, bagaimana jika di dunia ini hanya ada 1 buah buku?

Ibaratkan saja, hanya ada satu kitab suci. Apakah semua manusia, yang takut surga dan neraka, akan membaca kitab suci itu? Bisa jadi! Minat baca akan meningkat drastis jika hanya ada 1 buku. Sama saja jika yang benar hanyalah FPI, bisa jadi semua orang akan mengikuti ormas tersebut. Keren kan? Karena jika semua orang tergolong FPI, manusia akan damai. Toh, tidak ada yang bisa didemo.

Kembali ke perihal menulis, itu memang bukan perkara mudah. Menemukan ide, menjelmakannya dalam narasi dan cocoklogi, tentu punya tingkat kesulitan sendiri. Belum lagi perihal rekan sekitar yang berisiknya kurang ajar. Bertanya tentang mengapa menulis A, mengapa menulis B, tanpa pernah membacanya dengan sungguh-sungguh.

Menulis memang susah. Dan sebagaimana di atas, tulisan baru berguna jika menemukan pembacanya. Untuk apa menulis kalau tidak bisa dibaca orang lain?

Nah, ada logika menarik yang dibuat anak-anak jaman sekarang. Semakin banyak followers, itu berarti dirinya sudah jadi selebriti. Semakin banyak tulisannya dibaca, artinya ia telah menjadi penulis terkenal. Maka, orang ramai-ramai menyebarkan tulisannya agar orang lain tahu siapa penulisnya tanpa bermaksud mendapatkan respon untuk tulisannya. Bahkan tidak jarang mereka meminta like untuk hasil karyanya itu.

Tapi pernahkah mereka bertanya, apakah orang-orang itu benar peduli pada si penulis? Atau mungkin hanya suka pada tulisannya?

Saya pernah bertanya kepada seorang tentang apakah ia tahu Dee Lestari. Bagi pembaca karya fiksi di Indonesia, tentu mendengar nama tersebut bukan hal yang baru. Bahkan, beberapa kelompok menjadikan Dee sebagai Ibu Suri. Lantas, apa jawab orang yang saya tanya itu? Ia mengatakan tidak tahu. Tapi ketika saya berkata bahwa Dee Lestari adalah penulis dari buku Filosofi Kopi, ia bilang tahu, dan pernah membacanya. Aneh? Tidak juga. Itu sama saja dengan nelayan yang kesehariannya berada di dekat ikan, dan berkata bahwa salah satu jenis ikan adalah ikan Indosiar.

Jadi sebenarnya ke mana alur tulisan saya ini? Ah, iya. Tentang kekaguman saya pada penulis puisi cinta. Lagi-lagi saya tidak bisa berkata banyak pada mereka. Saya menuliskan ini karena saya sungguh jatuh cinta pada mereka yang mampu meningkatkan minat baca dari olah rasa menjadi kata.

Oh, iya! Ini bukan sarkas. Saya tidak punya kemampuan segemilang orang-orang yang mampu paham pada sebuah makna sentilan-sentilun pada sebuah tulisan atau gambar. Saya memang jatuh cinta, pada para penulis puisi cinta.

Salam.

 

Sumber gambar:  www.tumblr.com/search/90s%20beatnik

(penakota.id - nyg/fdm)