Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Mengapa Aku Harus Membaca? Begini Kata Naya

Selasa 11 Pebruari 2020
1059

Penakota.id - Abinaya Ghina Jamela atau biasa dipanggil Naya baru saja menerbitkan buku baru berjudul Mengapa Aku Harus Membaca? Buku ini adalah buku ketiga sekaligus buku non-fiksi pertamanya setelah buku puisi berjudul Resep Membuat Jagat Raya dan kumpulan cerpen berjudul Aku Radio bagi Mamaku. Dalam buku setebal 116 halaman ini terdapat tujuh belas tulisan Naya yang membahas tentang buku, film, dan kehidupan sehari-hari. Beberapa tulisan dalam buku ini sudah pernah diterbitkan media dan salah tulisan berjudul Aku dan Buku merupakan naskah orasi Naya pada kegiatan Kampung Buku Jogja #5 di tahun 2019 silam.

Naya, gadis kecil kelahiran Padang sepuluh tahun silam itu telah dibiasakan (bukan dipaksa) Bundanya untuk membaca sejak kecil. Kini ia membaca dengan sukarela. Ia membaca karena memang ingin membaca buku yang baginya menarik. Dengan membaca ia jadi tahu hal baru bahkan sesuatu yang tidak penting sekalipun.

Menurutku, membaca itu menyenangkan. Aku bisa berkeliling dunia, pergi kemana saja ketika membaca. Aku bisa menjadi apa saja ketika membaca. Aku bisa menjadi detektif, aku bisa menjadi pesilat, aku bisa menjadi pelaut, aku bisa menjadi anak gelandangan, bahkan aku juga bisa menjadi pencuri dan pembohong. (hlm. 2)

Buku bacaan Naya cukup kaya, setidaknya lewat buku ini ia telah membahas buku Of Mice and Men, Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub, Fotunately The Milk, Animal Farm, Le Petit Prince, Matilda, The Name of The Rose, The Hobbit dan Siddharta. Sebagai pembaca, Naya sudah mampu menulis resensi, mengapresiasi buku dan mengkritik penulis. Ia memuji Steinbeck yang mampu mendeskripsikan lembah Salinas dengan sangat jelas dan lengkap hingga bisa membayangkan sedang berada di sana. Sementara, Fortunately The Milk dinilainya lucu dan sangat cocok dibaca oleh anak-anak.

Ulasan Naya cukup objektif. Ia memang menyukai kisah Matilda karangan Roald Dahl seperti kebanyakan pembaca lain, tetapi ia juga mampu menangkap kekurangan dari Roald Dahl. Baginya, Roald Dahl terlalu kejam karena membiarkan Matilda yang sudah membaca semua buku di perpustakaan kota tapi membiarkan Matilda tidak menulis, seakan Road Dahl ikut tidak percaya bahwa anak kecil juga bisa menulis.

Buku terjemahan Siddharta karangan Herman Hesse dinilainya terlalu serius karena menggunakan diksi yang terlalu formal dan kaku. Meskipun kalimat dan deskripsinya membosankan, tapi Naya tetap menyukai ceritanya. Bahkan ia sudah tiga kali membaca buku yang menceritakan tentang Siddharta kecil ini.

Lewat beberapa tulisannya Naya menyampaikan pendapatnya tentang patriarki, seperti tulisan berjudul Tak Ada Ayah di Dekatku, dan Hakuna Matata Saja yang membahas film The Lion King. Naya mengemukakan ketidaksukaannya terhadap patriarki lewat kalimat berikut:

Dari ensiklopedia yang aku baca, singa jantan itu binatang yang egois. Singa jantan hobinya bermalas-malasan. Singa betina yang harus menjaga dan membesarkan anak-anak mereka, bukan singa jantan. Bahkan, semua keinginan singa jantan harus dituruti oleh singa betina. Jika singa betina tidak mau, singa jantan bisa melukai anak-anak mereka. Bukankah itu hewan yang egois?

Aku tidak tahu mengapa singa menjadi raja hutan, bukan hewan lainnya. Bagaimana bisa hewan pemalas dan egois seperti singa menjadi raja? Lagian, singa itu baru terlihat berkuasa jika dia bersama kelompoknya. Coba jika dia sendirian. Aku yakin singa jantan tidak punya nyali. Huuuh, dasar hewan-hewan patriarki! (hlm. 20)

Pendapatnya ini diperkuat lagi lewat tulisan berjudul Pembual yang Buruk. Naya mengkritik bagaimana Neil Gaiman menggambarkan anak laki-laki sebagai sosok yang sempurna dan disukai oleh orang tua, sedangkan anak perempuan digambarkan sebagai anak yang suka protes, terlihat nakal dan susah diatur. Selain itu, Naya juga kesal dengan buku-buku pelajarannya yang lebih sering menampilkan perempuan melakukan pekerjaan domestik. Kata Naya,”Memangnya kami pembantu?”. Naya sendiri lebih menyukai anak perempuan yang cerdas seperti tokoh anak perempuan dalam Fortunately The Milk dan tokoh Matilda rekaan Roald Dahl.

Mengapa ibu-ibu digambarkan lebih banyak melakukan pekerjaan yang menggunakan otot mereka, bukan otak mereka? Apakah itu menandakan bahwa kecerdasan perempuan di bawah laki-laki? Bukankah itu patriarki sekali? (hlm. 48)

Tulisan Naya mengalir begitu jernih, gaya bahasanya apa adanya (karena ia memang tidak suka hiperbola), dan gagasannya adalah gagasan jujur dari seorang anak sekolah dasar. Ia mampu mengaitkan kisah dalam buku maupun film dengan kehidupan sehari-hari. Ia juga mampu menjelaskan dengan lugas betapa menyebalkannya orang dewasa dan betapa sulitnya menjadi anak-anak. Pembaca dibuat penasaran pada kelanjutan setiap tulisan dan seolah buku tipis ini tak ingin segera habis dibaca.

Artikel Terkait

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah