Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Apa yang Kita Ketahui dan Tidak pada Hari Ini

Minggu 06 Desember 2020
567

Hari ini kita mengenal istilah-istilah baru. Pandemi memaksa membawa semua gerbong itu. New normal, lockdown, herd immunity, protokol kesehatan, uji cepat, uji usap, 3M, PSBB, ODP, OTG, PDP, WFH, dan WFO. Daftar tersebut mungkin bisa bertambah jika virus tersebut bertransformasi dan temuan-temuan sains memvalidasinya. Cara dunia bekerja berubah dan manusia memandang dengan kacamata yang tak lagi sama. 

Perubahan-perubahan itu secara natural masuk ke penciptaan karya seni dan ekosistemnya. Kini kita menonton film dengan maraknya genre desktop film. Menikmati live concert secara virtual. Menonton teater dengan ruang, biografi tubuh, dan batas-batas yang berbeda. Lalu membaca cerita-cerita pendek di koran dengan situasi Covid-19 yang homogen.

Kita telah mengenal mimesis dalam biografi penciptaan karya sastra. Teks-teks yang memotret dan memantulkan situasi masyarakat terkini. Salinan, silang sengkarut, dan strategi pengisahan yang dilakukan penulis dalam merespons suatu isu dan kondisi. Menanam Gamang karya Dhianita berada pada koridor itu.

Cerita berawal dari riwayat sebuah keluarga yang memiliki obsesi terhadap teknologi. Obsesi untuk menjadi abadi diikuti dengan hegemoni alat produksi, melanggengkan tokoh di semesta cerita melakukan penyimpangan. Dari situ premis terbentuk dan plot bisa bergulir. Di tahun 2120, sebuah kota fiktif bernama Ygeia memutar kembali memori kolektif akan wabah yang pernah terjadi di masa lalu (2020).

Dari baris itu kita membaca bahwa Menanam Gamang adalah bentuk fiksi ilmiah yang berpijak pada masa kini. Masa di mana manusia harus hidup berdampingan dengan selubung penutup di wajah. Berbicara fiksi ilmiah di lingkup sastra Indonesia nampaknya masih eklektik bagi sebagian pembaca. Pandangan saya mungkin keliru. Namun bentangan itu terjadi saya pikir ada kaitannya dengan warga dunia ketiga dan sosio-historis yang melingkupi.

Bagi sebagian pembaca, fiksi ilmiah kerap berjarak dengan masyarakat Indonesia. Ketika membaca berita seorang bocah dengan batu yang dicelupkan ke air dapat menyembuhkan penyakit lebih menarik perhatian—daripada berusaha meyakini bahwa manusia berhasil ke bulan bukanlah proses syuting dari film Stanley Kubrick—maka di situ gap dan horizon pembacaan adalah nyata.

Menanam Gamang bukanlah kisah perang bintang yang terjadi di lahan basah Djokolelono. Kita tidak akan menemukan bangsa dari planet A bertempur dengan planet B untuk berebut sumber daya. Juga bukan tentang tokoh yang mempercayai piring terbang dan LAPAN di suatu masa digambarkan secanggih seperti NASA. Bangunan semesta Menanam Gamang tidak tampak bersusah payah untuk menghadirkan atmosfer fisik sebuah kota secara detail. Meski begitu ada nuansa fisik yang tergambar dari apartemen dan ruang-ruang privat lainnya. Ruang di mana tokoh utama, Eva H. bergerak ke sana ke mari di kamarnya, dan sibuk bekerja di ruang virtual.

Sebuah jagad bernama GoC (Girls on Cam), aplikasi penjual jasa. Di mana pengguna bisa saling berinteraksi dan menyawer uang virtual kepada sebuah akun dengan level ketenaran tertentu. Eva H. sebagai pemilik akun bertindak sebagai showrunner. Ia mengontrol pertunjukannya dengan saran dan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kemudian ada BioTech Lab, perusahaan tempat bekerja almarhum ayah dari Eva H. Di realitas mungkin kita mengenalnya dengan Bigo Live dan Facebook. Atau apa saja tergantung pembaca mengasosiasikannya.

Berikutnya, dunia mengenal WHO sebagai lembaga kesehatan dunia, di sini kita mengenalnya World of Wisdom. Kecerdasan buatan? kita mengenal SIRI, Waze dan sebagainya. Di semesta Menanam Gamang ada Saul dan Myra. Sedang sakit? kita biasa menggunakan aplikasi interaktif Alodokter, di sini Dhian menamainya Vershir (Versatile Health Monitor) yang tentu lebih ekstrem sekaligus luwes penggunaannnya.

Kecerdasan Buatan dan Algoritma yang Bias

Diskrepansi dan anakronisme kerap terjadi bila pengarang memutuskan membangun tatanan atau semesta baru dalam ceritanya. Meski begitu ketika pengarang memutuskan untuk menulis fiksi spekulatif, pada dasarnya ia memiliki privilese. Ia bisa mencomot benda-benda saintifik maupun pseudo-sains yang ada pada realitas, lalu dimodifikasi sesuai kepentingan tokoh, logika, dan kebutuhan cerita. Apabila strategi yang digunakan tidak cermat dan detail, maka pembaca tidak akan mudah mengabaikan itu.

Di realitas bila ingin menuju suatu tempat tanpa harus mengendarai kendaraan, kita bisa memesan ojek atau taksi daring. Sementara di semesta fiksi, bisa saja ojek atau taksi daring telah diperpanjang jangkauannya menjadi motor dan mobil terbang. Ada jeda dan proses pengendapan yang dilakukan pembaca untuk mencerna piranti-piranti baru. Bila pengarang terpeleset dan tidak konsisten di tengah-tengah cerita dan kehabisan bensin, maka buyarlah semua kerangka yang sudah dibangun.

Cerita-cerita dengan tokoh artificial intelligence (AI) bukanlah hal baru—bila hendak mengatakan dari luar sastra Indonesia. Bentuk-bentuk personifikasi itu bukannya tanpa masalah. Suara yang hadir dalam tokoh AI ada kecenderungan tergelincir pada suara pengarang. Kita tahu bahwa kini karya sastra bisa ditulis dengan bantuan AI.

Bisa kita kunjungi situs macam plot-generator.org.uk dan writingexercises.co.uk. Mulai dari premis, sinopsis, arketipe tokoh, plot hingga konflik ada di situ. Tinggal bagaimana developer situs itu mampu menambahkan data-data yang beragam. Developer bisa meminjam plot dari kisah-kisah klasik-teknis Asimov, ambisius model Philip K. Dick atau yang satir model Vonnegut dan Stanislaw Lem. Dan jadilah sebuah cerita yang ditulis lewat machine learning AI. Tinggal kadar cerewet dan kelenturannya yang harus diperhatikan betul agar seolah itu semua murni ditulis oleh manusia.

Apa yang diharapkan dari AI adalah perpanjangan tangan dari pengembangnya. Data yang dimasukkan bisa apa saja sesuai kehendak penciptanya. Performa dan preferensi yang bias bisa hadir dalam setiap keputusannya. Tokoh Saul dan Myra hadir bukan tanpa alasan. Eva H. dan Leah N. membutuhkan mereka dalam proses keseharian bekerja. Semua bisa diatur: mau kerja, kerja lalu tipes, atau kerja lalu memperbarui perangkat tersebut sesuai kebutuhan zaman? 

Apa yang tidak kita ketahui tentang WiseWrist, WiseWatch, WiseWish, WiseWear, WiseWalk, WiseWaste, dan WiseWorkout pada hari ini, mungkin di masa mendatang piranti itu sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Kegamangan itu? bisa jadi nanti akan ada aplikasi pengontrol endorfin dan hormon lainnya yang bisa digunakan agar manusia selalu bahagia. Jadi, apa yang kita ketahui hari ini? saya rasa pembaca tahu siasatnya.

Judul         : Menanam Gamang

Penulis      : Dhianita Kusuma Pertiwi

Penerbit    : Pelangi Sastra

Tahun       : 2020

Halaman   : 124

ISBN        : 9786237283898

Artikel Terkait

Delapan Pilihan di 2020

Sabtu 16 Januari 2021
429

Delapan buku favorit ini murni versi saya, bukan representasi situs ini. Kebetulan karena privilese dan kemudahan akse...

Kenangan dan Trauma Kehilangan

Minggu 27 September 2020
1081

Penakota.id - Tidakkah kit...

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah