Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Bulbbul: Kisah Horor Negara Persemakmuran

Minggu 24 Januari 2021
532

Penakota.id  - Penulis Inggris Arthur Eric Blair, atau lebih dikenal melalui nama pena George Orwell, adalah seorang kesepian di masa kanak-kanak. Semenjak pindah ke Inggris ia hampir tak pernah bertemu sosok ayahyang mencari nafkah jauh di India. Tanah kelahirannya yang pada masa itu masih berstatus di bawah koloni InggrisOrwell muda lebih gemar bercakap-cakap dengan sosok kawan imajiner, membuat puisi dan cerita rekaan. Hari ini, warisan Orwell hampir dapat ditemui di seluruh penjuru dunia. Lewat Animal FarmBurmese Days dan 1984, pandangannya perihal imperialisme, fasisme dan komunisme telah banyak memengaruhi komunitas pembaca global.

Meski begitu, nasib para penulis baik sastra maupun filsafat semenjak dulu lebih sering karib dengan haru biru daripada kemewahan. Tidak lama setelah menyelesaikan studi di Eton College, keluarganya berada di tepi lorong kemiskinan. Ia mau tidak mau harus mencari pemasukan demi kehidupan dan cita-cita. Berbagai pekerjaan ia garap. Mulai dari terjun sebagai seorang petugas kepolisian Imperial India di Burma, yang pada saat itu menjadi bagian dari Kekaisaran India, sampai sempat berakhir menjadi tukang cuci piring demi mengejar kariernya sebagai penulis.

Kendati dikenal lewat kritiknya terhadap totalitarianisme Soviet melalui kisah satir alegoris bestial, ia juga salah satu penulis yang menentang kolonialisme. Semangat nasionalismenya (sauvinisme?) terhadap Inggris tak kalah besar, sebagaimana ditunjukkan dalam lakonnya pada satu waktu. Ketika ia tanpa keberatan menyerahkan daftar simpatisan komunis pada pemerintah Inggris setelah Perang Dunia berakhir.

Pada film Bulbbul, sikap anti-kolonial berbalut alegori bestial Orwellian di atas dapat kita temukan, kendati penampakan fisik harfiah para binatang dalam film tersebut tidak terejawantahkan secara konkret. Film garapan Anvita Dutt Guptan tersebut berkisah perjalanan panjang seorang perempuan bernama Bulbbul. Di usianya yang terlalu dini, ia diharuskan menikah dengan Indranil, seorang putra bangsawan kerajaan India yang sepuluh tahun lebih tua dari Bulbbul. Tak pernah tebersit dalam benak Bulbbul belia untuk lari. Padahal upacara demikian adalah rantai kekang yang membuatnya tak boleh lagi melangkah ke mana pun.

Mau tidak mau, ia pun harus berhadapan dengan adik si suami, Mahendra, yang memiliki keterbatasan mental dan tindak tanduknya acap kali mencelakai Bulbbul. Berbeda dari kedua kakaknya, Satya, anak termuda dari tiga bersaudara bangsawan kerajaan memeroleh kesempatan untuk melanjutkan studinya ke London, Inggris. Lalu sampai pertengahan film, kisah panjang penderitaan Bulbbul berlalu begitu saja, dan konflik utama dimulai ketika Satya, lelaki sebaya Bulbbul, pulang dari Inggris.

Esensialisme Strategis dan Personifikasi Lainnya

Berlatar waktu pada 1881 di Bengal, India, Bulbbul sejatinya adalah sebuah kisah rekaan yang memanfaatkan kaidah esensialisme. Sebuah strategi untuk mendobrak kekang tradisi lama yang memosisikan perempuan sebagai makhluk kelas duasekaligus menyingkap kedok penghancuran kolonialisme yang dibawa oleh Inggris.

Tersampaikannya gagasan demikian tentunya disokong oleh teknik sinematografis dan nilaian warna yang dimunculkan. Sepakat atau tidak, film itu memang termasuk dalam genre horor. Namun, bukan melalui adegan kejutan yang disusul jumpscare. Elemen sinematografis yang menjadi fondasi utama genre tersebut. Sutradara memanfaatkannya dengan cukup cermat: sebagai pendukung alur naratif sekaligus pembentuk suasana.

Contoh kecil pemanfaatan teknik dan nilaian itu dapat kita saksikan di bagian awal film ketika kamera mengambil sudut pandang rendah dan menyusur langkah si Bulbbul kecil. Sementara nuansa penuh warna yang menghiasi adegan pembuka itu kini kian perlahan didominasi oleh satu warna utama, entah itu biru kelam atau merah gelap. Meski tampak perayaan scene pernikahan di permukaan, adegan demikian adalah gerbang pembuka yang lain dalam cerita. Yakni jalan setapak yang dilewati Bulbbul kecil unuk menuju mahligai mewah. Seolah kemewahan itu semu karena berhias rantai tak kasat mata yang akan terus membelenggunya hingga akhir hayat.

Seterusnya pasca pernikahan ‘tragis’, nilaian yang didominasi warna tunggal itu acap kembali muncul dalam adegan-adegan yang mengambil latar di dalam kerajaanKendati demikian, sutradara tidak hendak melanggengkan supremasi kuasa lelaki dalam filmnya. Tokoh utama perempuan tak dibiarkan tak digdaya melawan mapannya belenggu patriarki. Bulbbul remaja tak selalu hendak menuruti perkataan suami dan suruhan Binodini untuk tetap menghiasi tubuhnya dengan perangkat kebangsawanan. Dan di luar kerajaan, tunailah kehendak Bulbbul sendiri untuk bercengkerama dengan lelaki sebaya idamannya, Satya, yang tak pelak adalah si cinta pertama.

Kisah terus bergulir dan siapa sangka Satya bukan lagi dirinya yang dikenali Bulbbul sebelum pergi ke London. Barangkali betul perkataan Mohsin Hamid, “ketika kita bermigrasi, sejatinya kita membunuh diri yang kita tinggalkan di kampung halaman,” dan personifikasi manusia perbatasan itu mewujud dalam sosok Satya.

Seperti cara pandang orang Barat ketika melihat serumpun permasalahan di negeri asalnya. Hal demikian dapat kita temukan ketika Satya yang logis dan rasional bersikukuh pada keyakinannya bahwa pembunuh Dinkar adalah laki-laki alih-alih perempuan; “Wanita mana yang mampu melakukan pembunuhan sebrutal itu?

Di mata Sayta yang lulus materi peradaban Inggris masa itu, perempuan tak lebih dari makhluk lemah dan hanya sepadan dengan kerja-kerja halusSebuah pandangan yang tidak kalah buruk dari warisan tradisi patriarki yang menjerat mewah dan tertatanya rumah kebangsawanan India masa lalu. Hal itu terus bergulir sampai akhir cerita.

Kendati hampir semua tokoh lelaki dalam film itu bersanding dengan citraan negatif, Dutt Guptan masih menyisakan Dokter Sudip sebagai sosok manusia perbatasan lain. Sosok yang tak menutup diri untuk ikut serta memahami kondisi perempuan. Ketika terkekang norma dan peraturan kerajaan, ia membantu proses penyembuhan Bulbbul. Lalu di tengah hutan belantara itu, yang konon menjadi naungan sosok penyihir bernama Chudail, nilaian warna merah kembali mendominasi, dan yang demikian boleh jadi sebagai pesan yang hendak disampaikan sutradara kepada bangsa India.

Merah darah itu adalah kekejaman kolonialisme. Layaknya Satya yang menduga-duga dari manakah jerit demi jerit itu berasalumpama bangsa India yang tak kuasa menyelamatkan rekan sebangsanya dari kekejaman penjajah. Dan tersingkaplah tabir sejati si pembunuh berantai itu. Sosok penyihir yang diburu Satya, yang lari dan loncat dari satu dahan ke dahan pohon lain itu, tak lain dan tak bukan adalah Bulbbul. Mungkin jika hendak bersikeras dengan yang tampak di permukaan, yang horor dalam film itu adalah sosok supranatural yang menghantui seisi Bengal.

Boleh jadi wajah lain Bulbbul dalam film itu adalah personifikasi lain dari India; sebuah wajah India yang babak belur dibabat dari dalam oleh tradisi lama. Wajah India yang tewas terbakar bersama lingkar ekologisnya hingga tak bersisa. Dan penyebab kebakaran itu tak lain adalah Satya yang buta dan terobsesi dengan rasionya untuk menangkap si Penyihir—atau dengan kata lain Satya yang menjadi personifikasi simbolik dari kolonialisme yang dibawa Inggris.

Demikian, yang dilakoni sutradara dalam menggarap film horornya. Mungkin hampir sejalan dengan semangat yang dibawa Intan Paramadithamenjadikan horor sebagai medium strategis untuk mendemistifikasi citraan negatif perempuan yang kepalang mapan dalam arus utama. Sebuah esensialisme strategis yang bermuara pada mitos dan hal supranatural untuk membongkar aib pernikahan anak serta warisan penjajahan yang telah dan masih merupa di India kini. Namun tak seperti Animal Farm, alegori bestial burung Bulbul dalam film ini menjadi semacam alusi pada mitologi Persia.

Ketika nyanyian Bulbul sebagai sahabat sejati seorang putri merindukan kedatangan cinta di kastel terpencilnya. Dan Bulbbul kita mendobrak kemapanan mitos tersebut, lalu mengganti narasi utamanya dengan rintihan seorang putri India yang berupaya lepas dari belenggu tradisi lama. Boleh jadi alusi itu juga bermuara pada mitologi di mana Bulbul membantu para tentara yang jatuh terluka di medan perang. Lalu melalui nyanyian Bulbbul, pesan tersebut hadir bersamaan dengan pertanyaan kepada bangsa India: manakah luka yang selayaknya mereka segera obati bersama?

Judul Film                          : Bulbbul

Sutradara dan Skenario   : Anvita Dutt 

Rumah Produksi               : Clean Slate Filmz

Rilis Tahun                        : 2020

Distributor                         : Netflix

Artikel Terkait

Delapan Pilihan di 2020

Sabtu 16 Januari 2021
605

Delapan buku favorit ini murni versi saya, bukan representasi situs ini. Kebetulan karena privilese dan kemudahan akse...

Apa yang Kita Ketahui dan Tidak pada Hari Ini

Minggu 06 Desember 2020
706

Hari ini kita mengenal istila...

Kenangan dan Trauma Kehilangan

Minggu 27 September 2020
1216

Penakota.id - Tidakkah kit...

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah