Cinta Palsu
GAYAHIDUP
calendar
27 Jul 2017 11:00
view
329
Cinta Palsu

Penakota.ID - “KEMUDIAN jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS: An–Nisa : 59).

Firman Tuhan yang termaktub ini sejatinya merupakan penkanan valid atas suatu kebenaran bagi umat islam. Kebenaran sejatinya dan abadi hanya milik sang Gusti yang menciptakan sampean, diriku dan dirinya—juga hatinya. Maka kita sebagai ciptaan-Nya mempunyai tanggung jawab moral untuk tidak mengaku memiliki kebenaran yang mutlak. Kebenaran yang dimiliki manusia pada dasarnya sungguh sama seperti kita mengklaim sebuah puisi pada seorang penyair, perlu sebuah konvensi di dalamnya, yaitu sebuah kesepakatan antara pelakon dengan masyarakat, lalu membuat kebenaran yang bersifat sementara dan perlu disepakati secara bersama. Sebab itulah kita sebagai makhluk yang apik dituntut untuk saling menghargai, bertoleransi, serta bersosialisasi dengan dirinya dan dirinya yang lain.

Pembaca yang ikhlas membaca tulisan usil ini, perlu sampean ketahui bahwasanya etika kehidupan sehari-hari berarti didasarkan pada kesepakatan bersama, terikat oleh adat dan kebenaran atas dasar yang lagi-lagi kebersamaan. Lalu siapa sangka komunisme jatuh lebih cepat seperti waktu imsak atau seperti sebuah kisah roman picisan yang dipaksakan. Sebab sebuah kepaksaan tidak baik, maka dari itu mari menyebut malam pertama sebagai fase bulan madu dan jangan sekali-kali kita sebut sebagai fase perenggutan mahkota, sebuah aksi pemerkosaan atau aksi heroik yang menelusur paksa ke dalam lubang becek yang gelap. Seperti apa kata guru ngaji sampean, Tuhan pun tidak pernah memaksa dirimu dan dirinya untuk menyembah-Nya. Maka jangan sekali-kalinya dirimu memaksakan ideologimu dalam sebuah pagelaran besar-besaran.

Pernah sekali saya meliwati gang, menyusuri komplek dan berujung pada sebuah pondok penjual kopi. Pondok yang sepi, namun aneh sebab kesepianku ini ditemani wanita sang penjual kopi yang berparas cantik dan bertubuh apik. Aku pun masuk dan duduk, memesan segelas kopi panas dan muncul sebuah pertanyaan dengan kopi pesananku. Suara lembut dari seorang wanita pembuat kopi ini mengalahkan suara riuh kipas di atas kepalaku,

“Mas, mau plus-plus pijat dadaku, ndak?” tanyanya sambil menekan kedua buah matangnya yang ranum.

Keringatku keluar dan badanku panas dingin dibuatnya. Nyaliku menciut dan aku pun terdiam dibuatnya. Ia pun kembali menawarkanku lagi,

“Mas? Kok diam? Kenapa?”

Pertanyaan wanita itu sungguh membuatku resah, mendesakku keluar dari zona aman. Adrenalinku pun muncul, lantas dengan berani aku pun menjawab segala perkataannya. Dengan berdiri dan suara lantang, diriku berkata, “Bagus kalau sampean punya dada dengan bentuk yang indah dan besar, namun jangan sekali-kali sampean memaksa orang lain untuk menggerayanginya. Apalagi kalau sampai anda memamerkannya di jalanan sambil teriak-teriak!”

Sebetulnya kisah picisan di atas hanya karanganku saja, sebagai analogi buat sampean yang suka memaksakan kehendak kepada orang lain agar juga memeluk, memegang serta menggerayangi ideologi sampean yang sampean paksakan kepada mereka. Perlu diketahui ialah dosa besar ketika seorang lelaki atau perempuan memberikan sebuah ‘cinta palsu’ pada lawan jenisnya. Sama saja dengan halnya sampean yang memaksakan ideologi, mengimingi kekuasaan dan kebahagiaan bersama tapi nyatanya malah membohongi orang dan sampean malah sedang asyik menonton blue film di atas singgah sana kediaman kaum-kaum empunya modal.

Lantas untuk sampean yang suka diajak-ajak, jangan termudah masuk jauh atas imging-imingan seseorang bila orang itu tidak memberikan jaminan masuk surga. Tetap ikutilah nurani dan akal sehatmu, selaraskan budi pekertimu dengan keinginanmu, maka muncullah dengan sendirinya kebenaran dan kepercayaan pada dirimu sendiri. Sebab memang begitulah wajah masyarakat sekarang yang hanya mengikuti arus, tanpa menyadari realitas yang ada. Pada akhirnya mereka yang terjerumus sebab termakan omongan dan ajakan oknum akan menyesal di kemudian hari—harinya, harimu dah hari Si ‘dia’ yang menolak diajak pergi nonton film borjuis dengan sampean.

Pada akhir dari segelas kopi hitam, penuh sambat, wasalam.

(penakota.id - pjg/fdm)