Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Sastra Lintas Rupa Interpretasikan Puisi Cyntha Hariadi

Selasa 03 Oktober 2017
337
oleh Redaksi

Penakota.id - Lama memang memanggang ayam. Kalau mau daging empuk. Meresap sampai ke tulang dan bisa kau hisap-hisap. Aku amati ayamku yang di balik kaca. Lambat-lambat berganti kulit. Siap-siap pergi ke pesta.

Kira-kira begitulah sedikit cuplikan puisi Cyntha Hariadi yang berjudul Bila Kau Ingin Mengenalku. Puisi yang diakuinya sendiri bertema tentang tubuh perempuan tersebut dibuat khusus untuk Jurnal Perempuan edisi 93 yang bertajuk HKSR dan Kebijakan Pembangunan beberapa bulan lalu. Cyntha mengaku, ketika ia menuliskan Bila Kau Ingin Mengenalku, ia sedang membayangkan kalau ia sedang keluar dari tubuhnya sendiri.

“Saya tidak tahu mengapa bisa tercipta puisi tersebut. Namun, seingat saya, waktu itu saya sedang membayangkan kalau saya sedang keluar dari tubuh saya sendiri, melihat tubuh saya sendiri, dan bagaimana saya memperlakukan tubuh saya sendiri,” kata Cyntha saat sedang diminta menjelaskan puisinya yang ditampilakn oleh Sastra Lintas Rupa di acara Cuci Mata-nya Pavilliun Puisi.

Cyntha Hariadi terkenal dengan buku antologi puisinya yang berjudul Ibu Mendulang Anak Berlari. Buku tersebut adalah buku yang juga mengantarkan Cyntha sebagai Juara III Sayembara Manuskrip Buku Puisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2015 silam. Perlawana terhadapa budaya patriaki menjadi ciri khas karya yang ia tulis.

Pada puisi Bila Kau Ingin Mengenalku, Cyntha bermain dengan analogi seekor ayam. Terhitung ada cukup banyak frasa “ayam” yang ia cantumkan dalam puisi ini. Kurang lebih 7 frasa Cyntha menuliskannya. Memang, jika membaca Bila Kau Ingin Mengenalku, sekilas Cyntha sedang bercerita tentang seseorang yang mencintai seekor ayam. Bagaimana orang tersebut memberitahukan cara bersikap pada seekor ayam, pun saat ia terpaksa harus menyajikan sebagai santapan di meja makan. Pada puisi ini Cyntha telihat sedang memberitahukan pembacanya untuk tetap bersikap lembut pada seekor ayam walaupun perut sudah keroncongan.

 

Bila kau ingin mengenalku | lebih jauh atau lebih dekat

yang artinya | lebih kurang sama saja,

saksikan aku | mencintai seekor ayam.

 

Ayam dalam puisi Bila Kau Ingin Mengenalku memang bukan ayam secara harfiah. Diakui Cyntha, puisi ini merupakan sebuah refleksi dirinya terhadap dominasi patriaki ketika memandang seorang perempuan. Simbol ayam dalam puisi Cyntha adalah simbol dari tubuh perempuan yang menurutnya sering dilihat hampir sama oleh seekor ayam. Menurutnya kebanyakan laki-laki hanya memandang perempuan sebatas tubuh, khususnya dada dan paha.

“Sering sekali perempuan dilihat sebagai ayam. Dan puisi ini juga sebagai respon terhadap dominasi patriaki, bagaimana mereka melihat tubuh perempuan seperti ayam. Hanya dilihat sebatas dada dan paha,” jelas Cyntha.

Sastra Lintas Rupa Interpretasikan Puisi Cyntha Hariadi

Salah satu pengisi acara Cuci Mata Paviliun Puisi adalah Sastra Lintas Rupa. Kelompok tersebut merupakan kelompok yang bergerak sebagai platform kerja kreatif yang mengajak kembali masyarakat untuk mengolah arsip-arsip sastra, khususnya PDS HB Jassin dengan cara kekinian dan bersiasat. Mereka menerjemahkan arsip-arsip tersebut ke dalam medium visual. Hal tersebut upaya mereka menyajikan alternatif cara baru untuk menikmati arsip sebagai sebuah wahana.

Di tengah acara Cuci Mata Paviliun Puisi yang diselenggarakan di Paviliun 28, Petogogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ketika sang MC menyebutkan nama kelompok Sastra Lintas Rupa sebagai penampil selanjutnya, tamu-tamu terdiam. Lampu mulai padam lantas suasana menjadi hening. Tiba-tiba di depan, di panggung, sebuah kelambu putih tergelar dari atas. Sebuah cahaya muncul, lantas kelambu tersebut mulai dipenuhi dengan visual grafik. Musik-musik dramatis pun lahir.

Dari belakang kerumunan seorang wanita muncul. Menggunakan pakaian putih dan sebuah rok hitam, ia bergelagat pelan, dan tangannya seperti menari. Para tamu mulai membelokkan pandangannya ke belakang. Perlahan-lahan langkah wanita itu maju. Menyisir jalan di tengah kerumunan tamu yang sedang duduk menuju panggung sambil masih dilumuti penasaran.

Wanita itu mulai berdiri di panggung menghadap tamu-tamu. Tangannya masih menari-nari mengikuti ilustrasi music dramatis yang ada. Ia seperti sedang menunjukkan seluruh lekuk tubuhnya sebagai hidangan tamu-tamu yang ada. Seketika menangis, seketika ia menjerit dari belakang kelambu.

Lalu, wanita tersebut berjalanan membelakangi kelambu. Masih dengan gerakan seolah menjual tubuhnya namun sambil menangis. Kemudian, tiba-tiba ia tersungkur di lantai. Saat itu ia terlihat seperti hewan kurban yang siap dipersembahkan untuk makanan seorang raja.

Begitulah sedikit yang terlihat dari penampilan Sastra Lintas Rupa. Pada acara Cuci Mata Paviliun Puisi ini, mereka menampilkan puisi Bila Kau Ingin Mengenalku karya Cyntha Hariadi. Menurut Eci, seorang wanita yang berlakon itu, sebelum ia menampilkan interpretasinya, dibayangan ia ketika membaca Bila Kau Ingin Mengenalku hanya seorang perempuan. Apalagi sebelum itu ia juga pernah sempat mencari tahu sang penulis puisi, Cyntha. Berangkat dari situ ia menyimpulkan kalau Cyntha Heriadi selalu menulis lebih ke arah feminis, misalnya bagaimana gambaran Cyntha terhadap ibu-ibu urban.

“Setelah kubaca berulang-ulang puisi Mbak Cyntha, yang terlintas dalam pikiran aku hanya tentang perempuan. Karena sebelumnya juga sempat biografinya Mbak Cyntha, dan sepertinya dia selalu menulis kearah ibu-ibu urban. Maka dari itu saya mencoba mengeksplolarasi tubuh perempuan saya,” kata Eci ketika diminta oleh MC menjelaskan sedikit terkait penampilannya.

Eci, yang juga kebetulan baru berlakon di Perancis itu mengaku kalau ia semakin termotivasi dan terinspirasi dalam menambahkan sedikit gerak pada lakonnya tersebut saat berbincang langsung dengan sang penulis sebelum running.

“Tadi saya sempat ngobrol sama Mbak Cyntha sebelum running, dan itu juga memotivasi saya menambah sedikitik gerakan. Ternyata menurut Mbak Cyntha, kadang wanita itu hanya sebagai persembahan. Jadi saya menambah gerakan saya seperti mempersembahkan diri saya,” kata Eci.

(penakota.id - fdm/fdm)

Artikel Terkait

Memulai Cerita dengan “Bagaimana Jika”

Kamis 27 Juni 2019
365

Ketika berbicara prosa, tentu ada cerita di dalamnya. Lalu bagaimana cara memulainya? Banyak. Saya selalu percaya bahw...

Selimut Perca (Ismat Chughtai)

Minggu 23 Juni 2019
298
oleh Redaksi

Cerpen Lihaaf&nb...

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah