Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Hantu Indonesia Visualisasi Kemiskinan Negeri

Minggu 22 Oktober 2017
369
oleh Redaksi

Penakota.id - Perjalanan pulang dari kota rantau menuju Jakarta siang itu cukup melelahkan. Hawa panas mendukung keringat-keringat keluar, dan di kepala bayangan kelelahan cukup penuh ketika harus memikirkan kota-kota yang akan saya lewati. Dari Semarang, pukul 12.00 saya sudah berada di Stasiun Poncol. Hari itu saya pulang menggunakan kereta Tawang Jaya dan berharap tertidur pulas agar tidak merasakan kelelahan yang amat sangat. Beruntung, ketika memasuki gerbong yang tertera dalam tiket, suasana di dalam cukup lapang, tidak seperti biasanya yang dipenuhi wajah-wajah letih dan gempitan manusia layaknya kumpulan-kumpulan ikan di jaring nelayan.

Setelah menaruh barang-barang di besi dekat atap kereta, saya menyenderkan badan di kursi tempat saya duduk sejenak. Sesudah itu seorang pemuda tetiba menghampiri saya. Kira-kira usianya tidak jauh berbeda dengan saya, 25 tahun. Dengan gaya flamboyan penuh kumis di tarup bibir, ia permisi kepada saya karena kebetulan nomor kursinya berada tepat di hadapan saya.

Saya mempersilahkan pemuda tersebut duduk tanpa basa-basi. Ia membereskan barang-barangnya yang lumayan banyak sementara saya masih asik mendengar lagu All of Me dari Billie Holiday di balik earphone. Di tangan saya, satu buku puisi sedang saya genggam dan baca. Saya tidak peduli dengan pemuda tersebut. Tapi, sesekali mata saya memperhatikannya. Itu adalah salah satu kebiasaan buruk saya, melihat siapa pun yang berada di sekitar saya dan melirik penampilannya dari atas hingga sepatu di tanah seperti mengajak berkelahi.

Dari belakang, suara renta terdengar. Seorang lelaki tua. Ia juga permisi kepada saya juga pemuda di depan saya itu. Saya mempersilahkannya duduk ketika ia memperlihatkan nomor kursi yang tertera dalam tiketnya. Nomor 3C, gerbong 11. Artinya ia duduk tepat di sebelah saya. Masih dengan earphone yang menempel, tapi demi menghormati beliau, sebelah kanan earphone saya buka lantas mempersilahkan beliau duduk. Orang tua itu menggunakan peci di kepala dan pakaian batik coklat.

Sebenarnya saya berharap kursi-kursi di sebelah dan di depan saya itu kosong demi keluasan saya melakukan segala hal. Pasalnya saya pasti menjadi kaku saat di sekitar penuh orang-orang asing. Tapi mau bagaimana, bukan saya yang mengatur dimana orang-orang harus duduk. Masih bersyukur saya karena hanya kedua orang itu, pemuda dan orang tua itu yang menjadi teman perjalanan saya menuju rumah di Jakarta. Akhirnya kereta yang kami tumpangi pun jalan. Terlihat dari balik jendela matahari sangat pekat, padahal hari-hari sebelumnya hujan sering turun di Semarang.

Di tengah perjalanan, sambil menikmati cemilan yang baru saja saya robek plastiknya guna menambah santai kegiatan membaca buku, saya memperhatikan mulut pemuda dan orang tua tadi berkomat-kamit. Saya tidak mendengar apa yang sedang mereka katakan. Namun, saya paham, agaknya mereka sedang berbicara satu sama lain. Mungkin sedang berkenalan, mungkin si orang tua sedang bertanya sesuatu dan si pemuda menjawabnya. Atau mungkin mereka sedang berdiskusi mengenai berita terkini, isu sosial, atau isu politik mungkin. Entahlah, saya memilih untuk tetap asik dengan lantunan Easy Living masih dengan suara lengking Billy Holliday sambil tersenyum berusaha membunuh pertanyaan-pertanyaan yang mengambang tentang obrolan kedua orang itu.

Hantu

Belum lama kampungya ramai desas-desus misteri. Roni, pemuda yang sepintas saya dengar namanya itu membagi satu buah cerita kepada Pak Tomo, orang tua yang juga sepintas namanya terdengar di telinga saya saat jaringan telepon genggam dan lagu saya di Spotify terputus. Sengaja saya tidak membuka earphone di dua buah lubang telinga saya agar mereka tidak merasa terganggu dan terus nyamam berbicara satu sama lain. Saya ngeri kalau-kalau saya memutus bincang-bincang mereka ketika ujuk-ujuk saya membukanya lantas pandangan saya mengarah ke mereka berdua karena bosan. Akhirnya, sambil tetap berpura-pura mendengar musik dan pandangan masih menunduk ke huruf-huruf dalam buku puisi yang padahal sudah selesai saya baca, sedikit saya menguping bincang-bincang itu. Awalnya saya tidak tertarik karena pembahasan mereka berdua adalah frasa “pribumi” yang diucapkan oleh gubernur terpilih DKI Jakarta. Selain topik tersebut adalah topik politik, mereka berdua berbicara satu arah. Sangat membosankan. Tapi, saat topik mulai berganti menjadi kisah misteri, apalagi mereka terkesan memiliki pandangan yang berbeda, saya menjadi penasaran ingin mendengarnya secara teliti.

Ibu Narti adalah tetangga Roni. Belum lama ia berteriak sangat keras sehingga tetangga-tengganya merasa terganggu dan ramai-ramai mendatangi rumahnya di pagi yang buta. Kalau saya tidak salah dengar pukul 01.00 WIB. Bu Narti memberitahu orang-orang kalau baru saja ia melihat dinding di salah satu sudut rumahnya mencuat. Sebuah wajah seperti wajah wanita terpampang di hadapannya. Menurut pengakuan Bu Narti, wajah itu serupa nenek-nenek yang sedang kehausan, daging di pipinya mengkerut. Seketika Bu Narti menjerit memanggil anak dan suaminya namun sang anak dan sang suami tidak dapat melihat. Begitu pun para tetanggasaat mereka digiring ke salah satu sudut rumah yang katanya di dindingnya itu tampak wajah wanita di mata Bu Narti. Para tetangga bertanya-tanya, beberapa yang lain pun sewot kepada Bu Narti yang mungkin telah mengganggu tidur nyenyak mereka.

“Sumpah. Demi Allah. Sumpah,” jawab Bu Narti berharap orang-orang memercayai apa yang barusan ia lihat.

Awalnya Roni sama dengan banyak tetangga, merasa Bu Narti hanya mengalami satu buah igauan akut, halusinasi atau sebuah delusi karena tekanan-tekanan batin yang sedang ia rasakan. Namun, karena Bu Narti berteriak bukan hanya satu malam saja, kurang lebih satu bulan terus menerus sebelum mereka sekeluarga memutuskan untuk pindah dari rumah itu, Roni menjadi percaya. Roni mengingat kisah wajah-wajah misterius dari Belmez.

“Saya percaya karena saya pernah membaca satu buah buku, judulnya Enigma, tapi saya lupa penulisnya. Di salah satu babnya termaktub satu buah kisah tentang seorang wanita. Kalau tidak salah namanya Maria Gomez Camara. Kisahnya hampir mirip dengan Bu Narti,” kata Roni kepada Pak Tomo.

Saya melirik ke arah Pak Tomo. Dia hanya tersenyum ke arah Roni terkesan ingin membiarkannya bercerita lebih jauh.

Maria Gomez Camara tinggal di desa Belmez de la Moraleda, Spanyol saat itu. Pada tahun 1971, tertanggal 23 Agustus ia mengalami kejadian yang hampir mirip dengan yang Bu Narti alami. Bedanya ia melihat seperti lukisan wajah seorang pria di lantai dapur rumahnya secara tiba-tiba. Hal itu membuat Maria hampir pingsan. Ia berani bersumpah kalau pada saat itu ia sedang melihat manifestasi dunia roh. Ketika berita tersebut didengar oleh tetangga-tetangganya, seluruh masyarakat Belmez menjadi gempar bukan main. Berbondong-bondong para tetangga datang ke rumah Maria untuk membuktikan. Mereka melihat wajah misterius itu seperti sebuah potret ekspresi yang terlukis secara alamiah. Semuanya menjadi takjub bercampur takut. Sebagian skeptis terhadap Maria, berpikir kalau hal tersebut hanya akal-akalan Maria agar rumahnya banyak didatangi orang-orang bahkan turis, pemuja alien, dan sekte yang memercayai hal serupa untuk kepentingan sandang dan pangan.

                                                  (Foto lukisan hantu Belmez)

Pasalnya memang benar, pasca kejadian 23 Agustus 1971 itu, apalagi saat lukisan-lukisan wajah menajadi banyak, ada seorang wanita seperti menangis, ada wajah seorang anak muda yang bisa dilihat juga seperti orang tua, dan ada wajah yang tiba-tiba muncul dan menghilang di hadapan orang-orang secara langsung, rumah Maria sering didatangi peneliti-peneliti yang ingin mencari penjelasan terkait fenomena di lantai dapur rumahnya itu. Bahkan, Maria beserta keluarga dianjurkan untuk merawat lukisan tersebut oleh pejabat lokal guna memancing orang-orang di luar desa atau para wisatawan untuk datang ke Belmez. Maria dan sekeluarga dibuatkan dapur baru oleh walikota untuk menggantikan dapurnya yang sesak penuh dengan orang-orang yang penasaran.

Saat para sukarelawan menggali tanah di dapur Maria, ternyata mereka menemukan serpihan tulang-berulang manusia di bawah tanahnya. Tetapi penemuan itu tidak mengejutkan, para penduduk desa nyatanya sudah lama mengetahui kalau di tanah tempat rumah Maria berdiri adalah bekas tanah pemakaman. Sementara itu para orang-orang yang skeptis terhadap mitos dan takhayul tetap tidak memercayai kalau lukisan serupa wajah manusia itu adalah wujud hantu. Kali ini berbeda, mereka beranggapan kalau itu hanyalah hasil visualisasi seorang Maria dan orang-orang yang sudah tersugestikan kalau rumah Maria bekas tanah pemakaman lantas corak-corak biasa dilihat sebagai lukisan wajah manusia secara nyata.

“Maria dengan suatu cara telah melukis wajah tersebut menggunakan unsur Zinc, Timah, dan Kronium,” kekeh Luis Ruiz Noguez, seorang skeptik dengan istilah-istilah yang rumit.

Hantu Indonesia Visualisasi Kemiskinan Negeri

Setelah panjang lebar dan dengan asiknya Roni berbicara, Pak Tomo mulai mengeluarkan suara seraya berpendapat. Pak Tomo seperti orang tua dengan penuh nujum-nujum. Saya melihat Pak Tomo cenderung sependapat dengan Luis sang skeptik dan orang-orang yang skeptis lainnya yang Roni ceritakan pada kasus Maria Gomez Camara.

“Hantu itu ada, tapi di dimensi lain. Tak ada yang bisa melukiskannya kecuali Tuhan dan nabi-nabi. Kuntilanak, Genderuwo, Sundel Bolong, Tuyul, Vampir, Drakula, hanya mitos yang orang-orang terdahulu buat untuk eksistensi sebuah daerah atau negara. Bisa juga hasil dari sugesti yang datang dari potret-potret yang sering mereka lihat,” tutur Pak Tomo.

Bagi Pak Tomo hantu adalah sebuah mitos atau takhayul. Ia malah beranggapan kalau lewat hantu orang-orang harusnya dapat melihat keadaan suatu negara atau daerah. Karena menurut Pak Tomo, hantu-hantu yang selalu ia dengar memang nyatanya memiliki fisik atau ciri-ciri tidak sama. Setiap orang-orang di daerah atau negara punya visualisasi tersendiri terhadap hasil ketakutan yang lahir dari buah sugestinya itu. Ia memberi contoh negara Indonesia yang menurutnya masih miskin daripada negara-negara lain ditinjau dari ciri-ciri atau visualisasi hantu di mata penduduknya.

Pak Tomo memberikan beberapa penjelasan contoh. Misalnya tentang definisi Kuntilanak. Bagi Pak Tomo, di sekeliling masyarakat kita sering terlihat wanita-wanita menggembel di jalan, membawa anak dengan rambut yang tergurai. Wanita tersebut seperti tidak terurus, rambutnya berantakan seolah sisir pun tidak ia miliki.

Dari keadaan tersebut, tidak jarang mereka banyak yang menjadi gila, tertawa sendiri di jalan dan kadang mencari-cari anaknya yang seolah hilang dari tangan mereka. Kasus tersebut seperti sudah menjadi pigura sehari-hari yang terpajang di jalan-jalan negeri ini, terekam, masuk ke alam bawah sadar masyarakat kita.

“Negeri ini begitu miskin. Wanita, bahkan anak-anak kecil gundul tanpa sandal dan pakaian sering terlihat di jalan-jalannya. Maka dari itu ada istilah Tuyul! Apa pun yang sering kamu lihat akan tertanam dalam kepalamu. Dan setelah ketakutanmu membuncah, mereka akan keluar dari buah sugesti lantas tervisualisasikan di hadapan. Begitu tesisnya,” sambung Pak Tomo penuh percaya diri seolah ia seorang ilmuwan yang sudah lama meneliti alam gaib, sains, dan sosial-budaya.

Menurut Pak Tomo itu semua berbeda kasus dengan di luar negeri yang notabennya negara maju. Visualisasi hantu wanita mereka datang dari potret yang sering mereka lihat pula. Lebih sering yang beredar adalah hantu wanita dengan gaun mewah, seperti seorang putri raja. Walaupun ada juga beberapa jenis hantu yang cirinya serupa Kuntilanak, namun jarang orang-orang di sana yang melihatnya. Karena bagi Pak Tomo, selain potret keseharian lingkungan, visualisasi hantu juga datang dari kebudayaan masing-masing negara. Semua hanya dibuat-buat demi eksistensi. Pocong sebagai contoh hantu hasil ciptaan kebudayaan. Lantaran banyak dari masyarakat Indonesia yang memeluk agama Islam, setelah mereka wafat pasti mereka akan dikafani. Pocong juga serupa gedebog-gedebog pisang. Dan gedebog-gedebog pisang di Indonesia selalu terlihat di kebun manapun, kosong sedikit sebuah tanah, pohon pisang ditanam dan tumbuh menjadi kebun. Wajar jika masyarakat Indonesia sering melihat hal aneh di kebun dekat rumah mereka. Bodohnya mereka menyebut itu Pocong padahal itu gedebog pisang yang mereka lihat di malam hari. Akhirnya sugesti itu terus menerus tertanam pada anak cucu dan menghasilkan visual yang diamini kebenarannya. Di sini terbukti bahwa iman masyarakat kita menurut Pak Tomo tidak sekuat masyarakat di negara-negara islam lainnya. Maka dari itu mindset dan sugesti yang masyarakat kita miliki dengan mereka berbeda pula. Tidak ada Pocong di Arab, Mesir, Turki, Palestina, dan Prancis.

Pak Tomo juga menambahkan, bisa jadi hantu Pocong juga upaya nenek moyang kita menembus hegemoni hantu-hantu luar yang identik dengan bangkit dari kubur. Misalnya Drakula dan Vampir. Kendati nenek moyang kita beranggapan bahwa kita adalah pribumi, kita wajib menjunjung tinggi kebudayaan kita bahkan dari ciri-ciri hantu sekali pun. Yang patut dikritik kata Pak Tomo, hasil visual mereka nyatanya malah lebih seram, terlihat lebih miskin dan membuat anak-cucu mereka menjadi inferior dan paranoid dan kadang tiidak memiliki etika.

"Pernah bukan kamu melihat anak-anak kecil membandingkan pengemis atau gembel (yang memang pengemis dan gembel) dengan Kuntilanak? Tak jarang mereka juga menertawakannya saat melihat rambut wanita atau gembel itu awut-awutan karena tidak pernah mandi dan disisir," kata Pak Tomo.

“Nyatanya hantu di Indonesia adalah bentuk visualisasi kemiskinan negeri. Jika kita tidak ingin mendengar atau melihat hantu-hantu begitu menyeramkan, agaknya pemerintah harus memikirkan agar tidak ada lagi wanita-wanita menggembel di jalan dan kemiskinan di kampung-kampung atau desa menjadi berkurang. Pemerintah harus mengajak masyarakat kita membuang mental miskin di dalam hati dan memperhatikan etika anak-anak perlahan demi perlahan,”

“Bagaimana caranya, Pak?” sedikit terdengar Roni bertanya kepada Pak Tomo dalam telinga saya.

“Ya bunuh para koruptor dan tidak menjadi koruptor. Jangan pura-pura sakit kalau nyatanya memang bersalah karena korupsi. Biar terlihat tidak lucu dan menjadi racun menular bagi pejabat yang lain! Selain itu, jangan ajarkan anak-anakmu nanti menyebarkan kebencian terhadap orang lain dengan tidak bersikap seperti itu,” pekik Pak Tomo lumayan keras.

(penakota.id - fdm/fdm)

Artikel Terkait

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah