Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Penulis Mahfud Ikhwan Ucapkan Terima Kasih Pada Buruh Migran

Kamis 26 Oktober 2017
298
oleh Redaksi

Penakota.id - Walau di jadwal tertera bahwa acara dimulai pukul 19.00 WIB, nyatanya di waktu itu kursi-kursi tamu masih sepi, rapih berjejer di atas karpet berwarna merah. Hanya ada beberapa orang dan panitia yang baru terlihat di Atrium Plaza Senyan, Jakarta di acara Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) Ke-17 (25/10).

Di tengah orang-orang lalu-lalang, tetiba nampak satu orang laki-laki berjalan menuju meja registrasi acara. Pakaiannya sangat sederhana, berbeda jauh dengan mayoritas para pengunjung mall Plaza Senyan yang terlihat di sana-sininya. Dialah Mahfud Ikhwan. Penulis novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu yang juga salah satu finalis KSK ke-17 itu berjalan sendirian dari sisi kiri panggungnya. Mahfud, malam itu ia hanya menggunakan jaket hijau dongker dan menggendong sebuah ransel berukuran sedang berwarna hitam. Senyuman ramah terlukis di daun bibirnya, dilemparkan kepada setiap orang-orang yang ia lihat.

Mahfud datang melebihi penulis-penulis lain. Mungkin ia menjadi penulis pertama yang hadir walau telat sedikit. Ia berjalan menuju Richard Oh sang pengagas KSK guna menyalami beliau. Masih dengan senyum yang ramah, Mahfud seolah memposisikan dirinya bukan sebagai tamu undangan. Melainkan sama dengan orang-orang lain. Padahal kalau saja orang-orang di mall Plaza Senayan mengenalinya, dia pantas disambut karena karya-karyanya yang sangat mencerminkan lokalitas Indonesia dan  mengangkat isu-isu soisal negeri ini. Apalagi, dia pula yang berhasil menjadi unggulan KSK ke-17 di kategori prosa mengungguli empat penulis lainnya.

“Pemenang KSK ke-17 kategori prosa adalah Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu karya Mahfud Ikhwan,” pekik Geger Riyanto selaku ketua dewan juri setelah pidato sambutannya usai.

Para tamu memberikan tepuk tangan dan membalas senyumnya yang ramah. Mahfud pantas mendapatkannya. Dialah penulis yang berhasil mengungguli penulis-penulis macam Dea Anugrah, Pepi Al-Bayqunie, Nunuk Y. Kusmiana dan Kedung Darma Romansha.

Mahfud Ikhwan, laki-laki berbadan agak gempal, dan berkulit coklat itu lahir di Lamongan pada 7 Mei 19980. Dia adalah lulusan jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada. Sudah banyak buku yag ia ciptakan, misalnya; Ulid Tak Ingin ke Malaysia; Lari, Gung Lari!; Kambing dan Hujan; Belajar Mencintai Kambing; serta Aku dan Film India Melawan Dunia 1-2.

Bca juga: Tiga Penulis Raih Kusala Sastra Khatulistiwa Ke-17

“Selamat malam. Terima kasih untuk Kusala Sastra Khatulistiwa atas penghargaan ini. Saya juga akan berterima kasih kepada bapak saya yang mengajarkan saya bagaimana mengajarkan saya bercerita dan ibu saya yang mengajarkan bagaimana menjadi teguh melakukannya,” ucap Mahfud saat diminta berpidato pasca disebutkan namanya sebagai penerima penghargaan KSK ke-17 kategori prosa oleh Geger Heriyanto

Pada Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, Mahfud telah menceritakan sebuah potret realitas sosial yang mengetengahkan persoalan buruh migran di Malaysia yang berada mungkin di daratan Jawa Timur-terlihat dari citraan geografis yang ia tulis mengenai kota Rumbuk Randu yang terdapat dalam novel tersebut. Maka dari itu, saat diminta berpidato sedikit pasca disebutkan namanya sebagai penerima penghargaan KSK ke-17 kategori prosa oleh Geger Heriyanto, Mahfud mengkhususkan rasa terima kasihnya kepada teman-teman, handai tolan, keluarga dan orang-orang yang ia kenal yang menjadi buruh migran di Malaysia.

“Khususnya juga kepada teman-teman, handai tolan, keluarga orang-orang yang saya kenal yang menjadi buruh migran di Malaysia. Dari merekalah cerita Dawuk dan beberapa cerita lain yang saya tulis dapat saya ciptakan. Mereka harus mengorbankan hampir segalanya, bahkan segala-galanya untuk apa yang kadang oleh negara telat dilakukan atau yang tidak dilakukan. Apa yang saya tulis dengan Dawuk tentu saja tidak berarti dibanding dengan apa yang mereka lakukan, apa yang mereka berikan bagi komunitas kami dan mungkin bagi Indonesia secara umum. Tidak lupa untuk Marjin Kiri, penerbit saya, penerbit Dawuk yang di sebuah sayembara sastra bahkan tidak masuk 25 besar. Terima kasih, untuk Mas Ronny terutama,” sambung Mahfud kemudian turun dari panggung.

(penakota.id - fdm/fdm)

Artikel Terkait

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah