Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Yerusalem: Kota Suci yang Kerap Diperebutkan

Selasa 12 Desember 2017
294
oleh Redaksi

Penakota.id - Potret pertumpahan darah atau peperangan di Kota Suci Yerusalem bukan hanya baru-baru ini saja santer terdengar. Pada sejarahnya, sudah sejak lampau Kota Suci tersebut memang silih berganti dihampiri oleh pertumpahan darah, perebutan dan pengakuan sebagai Kota Suci milik satu komunitas beragama dengan dalih kepercayaan. Agaknya hal tersebut yang membuat Kota Yerusalem selalu diselimuti potret beku antara masyarakatnya yang merupakan para penganut tiga agama Abrahamik –Yudaisme, Kristen dan Islam bahkan sebelum sejarah kontemporernya berlangsung. Walau tidak dapat dipungkiri, ketiganya merupakan agama dari satu rasul, Abraham atau Ibrahim, akan tetapi ketiganya masih terus mencoba menggapai eksistensinya sebagai penduduk asli Kota Daud itu.

Taufiqqulhadi, dalam bukunya yang berjudul Satu Kota Tiga Tuhan (2017) telah menuliskan keheranannya ketika ia melihat potret situasi yang tergambar pada penduduk Kota Suci -  ketika orang Yahudi menyebut kota itu sebagai Yerushlayim, yang artinya perdamian; dan Al-Quds yang berarti kudus menurut orang Arab, bagi Taufiqulhadi hawa damai dalam kekudusan tersebut tidak terlihat di Kota Suci yang sudah berumur lebih dari 2000 tahun itu . Kekhusyuan, ketaatan, dan kesalehan masing-masing penganut agama monoteistik (Islam, Kristen dan Yahudi) tak berhubungan langsung dengan interaksi mereka, kecuali suasana bekunya.

Dalam sebuah reportasenya di tahun 1997, suatu hari Taufiqulhadi pernah menyaksikan sendiri suasana yang disebutnya beku itu. Suatu Subuh di awal musim semi, ketika mulai terdengar dalam telinganya lantunan suara muazin, “Allahu Akbar……As-Shalatu Kahyrum min al-nawm” dari menara bangunan suci umat islam Al-Aqsa, lorong-lorong kota Yerusalem yang sempit namun memiliki banyak sekali persimpangan itu mulai terlihat banyak orang. Mereka adalah orang-orang keturunan Arab yang hendak sholat di Masjid Al-Aqsa. Sebagian menururt Tafuqqulhadi menggunakan kaffiyeh ala Yasser Arafat, sebagaiannya menggunakan pakaian biasa, dan ada juga yang menggunakan kopiah putih yang dibungkus sorban, tanda bahwa ia adalah Syeikh.

Tidak lama, Taufiqqulhadi pun melihat sekelompok Yahudi Ortodoks, dengan topi bercaping lebar yang hitam, baju panjang hitam, celan hitam dan berjanggut panjang, juga berjalan cepat tapi hampir tanpa suara menuju ke arah Gedung Herod – sisi Yerusalem milik Yahudi – yang bersebelahan dengan Al-Aqsa. Saat di persimpangan, rombongan Yahudi Ortodoks ini terlihat olehnya berpapasan dengan orang Arab yang bersorban putih tadi. Namun yang terlihat, saat mereka berpapasan dan saling menukar pandang, tidak ada perubahan air muka yang nampak pada setiap wajah-wajah mereka. Tidak ada yang mengetahui khusus sudah berapa kali mereka saling berpapasan tanpa ekspresi seperti itu. Juga tidak ada yang mengetahui, apa yang terkandung dalam setiap masing-masing hati mereka. Kedua rombongan ini menurut Taufiqqulhadi terus bergerak tanpa suara lantas menghilang ke arah tujuannya masing-masing: Yahudi ke blok Herod, orang Arab Islam ke jurusan Komplek Al-Aqsa.

Ketika matahari mulai mengintip, Taufiqqulhadi melihat sepuluh pendeta Fransiskus, yang diikuti oleh pendeta Gereja Armenia – yang juga berjubah lebar hitam dan bercambang lebat muncul dari dua van besar yang berbeda dan masuk melalui Pintu Gerbang Damaskus. Mereka bergerak dengan tenang tanpa sedikit pun terpengaruh hiruk pikuk pasar yang mulai hidup. Mereka kemudian menghilang masing-masing ke sektor Kristen dan Kristen Armenia. Bagi Taufiqqulhadi, antara Syekh, Rabai, dan Pendeta-pendeta tersebut, mungkin sudah saling berpapasan puluhan kali, tapi mereka bergerak sendiri dan di situ seperti tidak ada urusan antara satu dengan pihak lainnya.

Anak-anak mulai terlihat dan berteriak, saling kejar dan menggunakan tongkat untuk menggelindingkan roda sepanjang lorong batu itu. Sementara, pemilik toko dan restoran mulai mengangkat pintu besinya dengan cepat dan keras sehingga menimbulkan suara menderit. Ibu-ibu Arab sepagi itu menurut Tafiqqulhadi sudah riuh sekali berbincang mengenai belanja antar sesamanya. Gadis-gadis Palestina menunduk dan pipinya semakin merah di balik jilbab-jilbab mereka saat tak sengaja mata Taufiqqulhadi bentrok dengan mereka saat mereka hendak berbelanja. Inilah sehari-hari Kota Kuno Yerusalem menurut Taufiqqulhadi sebelum pada akhirnya menjadi berubah total.

Seluruh toko di Kota Kuno itu, kecuali di sektor Yahudi, tertutup rapat. Tidak ada pelanggan Arab, tidak ada turis, tidak ada ibu-ibu Arab yang berdagang, tidak ada gadis-gadis berpipi merah lagi; kecuali udara dingin, sepi dan suasana mencekam serta militer Israel yang berlalu lalang dengan mata awas. Inilah bagian dari perjuangan bangsa Palestina. Mereka melakukan pemogokan untuk memprotes pembangunan perumahan Yahudi di Bukit Abu Ghneim (Har Homa) pada bulan Juli 1997. Pemogokan ini bukan saja di Kota Kuno, namun lebih luas lagi. Toko-toko, sekolah, dan universitas di seluruh Tepi Barat Jalur Gaza dan Yerusalem Timur ditutup.

Seorang pedagang grosir Nidal abu Hadid, menurut Taufiqqulhadi mengatakan, bahwa seluruh orang Palestina bersatu demi Yerusalem.

“Ini perang demi Yersualem, dan kami akan mengorbankan milik kami yang paling penting dan berharga untuk itu – nyawa kami,” katanya.

Yerusalem dan Perselisihannya

Berbicara megenai Kota Suci Yerusalem, kita tidak bisa melepaskan konflik yang seolah tak pernah berhenti oleh Israel dan Palestina. Dikutip dari CNN melalui tirto, bahwa latar belakang perseteruan negara ini dapat ditarik mundur hingga tahun 2.000 SM dan melibatkan tiga agama Abrahamik, Yudisme atau Yahudi, Kristen dan islam.

Seorang sejarawan Inggris, Simon Sebag Montefiore, dalam bukunya Jerusalem The Biography (2011) menuliskan bahwa sejarah Yerusalem adalah sejarah dunia, tapi ia juga merupakan kronika dari sebuah kota provinsi yang sering miskin di tengah perbukitan Yudea. Menurut Simon, kendati Yerusalem  dipandang sebagai pusat dunia – kini pandangan tersebut lebih tepat daripada yang pernah terjadi sebelumnya, kota itu kini menjadi fokus pertarungan antara agama Abrahamik, tempat suci bagi fundamentalis Kristen, Yahudi dan Islam yang kian populer – arena pertempuran strategis benturan peradaban, garis depan antara peretempuran atheisme dan agama, pusat pesona sekuler, objek konspirasisme yang memabukkan dan pencipta mitos internet, serta panggung gemerlap untuk kamera-kamera dunia dalam abad berita dua puluh empat jam. Menurut Simon, kepentingan kegamaan, politik dan media saling menyuapi untuk menjadikan Yerusalem tertelusuri lebih intensif ketimbang masa-masa sebelumnya.

Yerusalem dikenal sebagai Kota Suci, akan tetapi menurut Simon, di sana selalu menjadi sarang takhayul dan kefanatikan; dambaan dan sasaran rebutan aneka kekaisaran, walau ia tak punya nilai yang strategis; rumah kosmopolitan bagi banyak sekte, dan pada setiap sektenya – masing-masing Kota Suci itu hanya milik mereka; sebuah kota dengan banyak nama dan tradisi – namun masing-masing begitu sektarian yang membuat mereka menihilkan pihak lain. Simon menuliskan bahwa kesucian Yersualem tumbuh dari eksempsionalisme Yahudi sebagai umat terpilih. Yersualem bagi umat Yahudi menjadi kota terpilih. Palestina menjadi tanah terpilih, dan eksepsionalisme itu diwariskan dan dipeluk oleh umat Kristen juga Islam. Kesucian tertinggi dari Yersualem dan tanah Israel tercermin dalam peningkatan obsesi keagamaan akan kepulangan kaum Yahudi ke Israel dan antusiasme Barat pada Zionisme, yang menjadi ekuivalen sekulernya, antara reformasi abad ke-16 di Eropa dan tahun 1970an.

Bukan hanya ada dua pihak saja yang berada dalam konflik Yerusalem, sejak era Daud, Maccabee dan Herod, Umayyah, Husseini, Kahlidi, Spafford, Rotschild dan Montefiore – banyak budaya yang saling silang dan tumpah tindih dan loyalitas yang berlapis-lapis – menurut Simon, itu semacam kaleidoskop multiwajah yang bermutasi dari Ortodoks Arab, Muslim Arab, Yahudi Spanyol, Yahudi Ashkenazi, Yahudi Haredi, Yahudi Sekular, Ortodoks Armenia, Georgia, Serbia, Rusia, Koptik, Protestan, Ethiopia, Latin dan seterusnya. Sudah sejak berabad-abad Yerusalem tampak kehilangan makna religius dan politisnya.

Yerusalem Hari ini

Rabu (6/12/2017) waktu AS, kepada awak media Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan juga memberitahukan rencananya untuk memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Kota Suci tersebut.

“Saya sudah memutuskan bahwa ini waktunya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” ujar Trump dalam pidatonya di Gedung Putih.

Bagi Trump, peresmian tersebut upaya dia merealisasikan janji-janji kampanye yang kerap dilontarkan pemimpin-pemimpin AS sebelumnya yang selalu tidak ditepati.

“Banyak  pemimpin sebelumnya membuat janji kampanyae, tetapi mereka gagal menepatinya. Hari ini saya akan menepati janji saya. Saya menilai ini adalah keputusan terabik bagi kepentingan Amerika Serikat dan upaya perdamaian antara Israel dan Palestina,” lanjutnya.

Donald Trump menyebut bahwa keputusan ini bukan berarti AS menelantarkan komitmen mereka untuk memfasilitasi kesepakatan perdaiaman antara Israel dan Palestiana. Trump mengaku masih menginginkan hasil kesepakatan yang baik untuk kedua negara tersebut. Presiden AS itu menjelaskan lebih lanjut bahwa keputusan ini bukan keputusan akhir dalam isu penetapan status (Yerusalem) dan perbatasan negara Israel secara terperinci – Yerusalem atau resolusi wilayah sengketa. Bagi Trump itu semua adalah masalah yang harus diputuskan kedua belah pihak.

Banyak yang menganggap bahwa keputusan Donald Trump adalah keputusan sepihak. Hal tersebut lantas menyulut kecaman dunia internasional, termasuk dari negara-negara Uni Eropa. Pasca gencatan senjata 26 Agustus 2014 yang dilatarbelakangi oleh babak baru kekerasan pecah di sekitar Gaza, pertentangan antara Israel dan Palestina memang agak mengendur, namun adanya keputusan Trump baru-baru ini, kekhawatiran dunia tumbuh kembali. Hal itulah yang ditakutkan oleh Paus Fransiskus. Dilansir dari  tirto, sebagaimana dilaporkan New York Time, bahwa beberapa jam sebelum Trump mengumumkan kebijakannya, Paus Fransiskus membuat permohonan yang berapi-api agar Trump tidak melakukan apapun yang bisa menimbulkan ketegangan di Yerusalem.

“Saya tidak dapat tetap diam mengenai keprihatinan mendalam saya terhadap situasi yang telah berkembang dalam beberapa hari ini. Pada saat yang sama, saya ingin melakukan seruan sepenuh hati untuk memastikan bahwa setiap orang berkomitmen untuk menghormati status quo kota, sesuai dengan resolusi yang relevan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Fransiskus.

Senada dengan Paus Fransiskus, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pengakuan Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel akan menjadi penyebab ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan menggagalkan proses perdamaian kedua negara.

"Baik Rusia dan Turki percaya bahwa keputusan Donald Trump tidak sama sekali membantu mengatur situasi di Timur Tengah – akan tetapi justru malah menambah suasana menjadi rumit," kata Putin pada sebuah konferensi pers di Ankara saat bertemu dengan Erdogan dikutip dari aljazeera.com.

"Ini bisa menggagalkan prospek atau proses perdamaian Israel-Palestina," tambahnya.

Sementara itu, Erdogan mengaku senang dengan pendirian Putin, dan mengutuk juga Israel atas kematian orang-orang Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Palestina karena demonstrasi menentang rencana Trump yang berlanjut untuk hari keenam di sana.

Ya, memang pasca pidato Donald Trump terkait Yerusalem, situasi di Palestina hingga saat ini makin memanas. Warga yang menolak keputusan Presiden AS itu berbondong-bondong melakukan demonstrasi yang berkunjung pada korban tewas dan luka-luka. Selain itu, yang membuat situasi semakin memanas yakni deklarasi intifada (perlawanan) yang diserukan oleh Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh.

“Kita harus menyerukan dan melakukan intifada di depan muka Zionis. Mari kita jadikan tanggal 8 Desember sebagai hari dimulainya intifada terhadap kekuatan pendudukan,” kata Haniyeh dalam pidatonya di Gaza, Kamis (7/12) silam.

Selain seruan intifada, Haniyeh juga menganjurkan kepada Presiden Palestina, Mahmoud Abbas untuk mudur dari segala upaya damai dengan Israel. (penakota.id - fdm/fdm)

Artikel Terkait

Memulai Cerita dengan “Bagaimana Jika”

Kamis 27 Juni 2019
365

Ketika berbicara prosa, tentu ada cerita di dalamnya. Lalu bagaimana cara memulainya? Banyak. Saya selalu percaya bahw...

Selimut Perca (Ismat Chughtai)

Minggu 23 Juni 2019
294
oleh Redaksi

Cerpen Lihaaf&nb...

Bagikan Cemilan

Pilih salah satu pilihan dibawah